Sejarah Pura Kehen di Bali beserta Keistimewaannya

Mengulas serba serbi kota Bali, mulai dari pariwisata hingga budayanya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Bali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
![[Pura Kehen] Foto hanya ilustrasi, bukan tempat sebenarnya. Sumber: unsplash/ReenaYadav](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1634025439/01hpxbgnjbw9mrs8vzba4pnmtq.jpg)
Pura Kehen adalah salah satu pura yang memiliki sejarah panjang dan digunakan untuk menjalankan upacara adat oleh umat Hindu. Pura ini berada pada ketinggian 483 mdpl, tepatnya di kaki Bukit Bangli bagian selatan.
Dikarenakan letaknya berada di ketinggian, pura ini menyuguhkan pemandangan yang sangat indah. Selain itu, pura ini juga menyimpan sejarah yang cukup menarik untuk diulik. Hal ini sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk mengeksplornya.
Sejarah Pura Kehen
Sejarah Pura Kehen Bali tidak terlepas dari penemuan tiga buah prasasti tembaga. Benda bersejarah ini telah diteliti oleh Dr PV Van Stain Callenfels, dan hasilnya tertulis dalam buku Epigraphina yang terbit tahun 1926. Mengutip buku Seri Negara ASEAN Indonesia, MArfauzi (2021), isi prasasti ini, yaitu sebagai berikut.
1. Prasasti I
Prasasti I memakai Bahasa Sanskerta dan diprediksi berasal dari abad IX. Prasasti ini menyebutkan beberapa istilah, seperti Hyang Api, Hyang Tanda, Hyang Karinama, dan nama-nama bhiksu.
2. Prasasti II
Prasasti ini menggunakan Bahasa Jawa Kuno. Tidak banyak informasi yang disebutkan dalam prasasti ini. Salah satu yang disebutkan adalah tentang Sang Senapati Kuturan.
3. Prasasti III
Prasasti ini tertulis angka tahun Saka 1126, Masehi 1204. Isinya menjelaskan bahwa Hyang Kehen yang memerintah pada tahun tersebut bernama Ida Bhatara Guru Sri Adhikunti Ketana. Prasasti tersebut juga menjelaskan keterkaitan antara Pura Kehen dengan sejarah Desa Bangli.
Keistimewaan Pura Kehen
Pura Kehen kental dengan nuansa adat dan tradisi yang hingga kini masih dijaga. Beberapa keistimewaannya, yakni sebagai berikut.
1. Upacara Adat
Upacara atau piodalan di sini dilaksanakan setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Buda Kliwon Wuku Sinta dan Hari Raya Pagerwesi.
Upacara ini umumnya berlangsung selama lima hari. Banjar-banjar adat yang bersatu di dalam Gebog Domas akan melangsungkan prosesi mepeed (iring-iringan) secara bergantian ke pura ini.
2. Kulkul di Atas Pohon
Pura ini memiliki sebuah kulkul (kentungan tradisional) yang terdapat di atas pohon beringin yang diprediksi berumur ratusan tahun. Kulkul tidak mempunyai anak tangga seperti bale kulkul yang terdapat di setiap pura.
Jro mangku harus memanjat atau menaiki akar pohon beringin terlebih dahulu agar bisa memukul kulkul ini. Selain itu, idak sembarang orang bisa memukul kulkul tersebut karena hanya orang terpilih saja yang diperkenankan menyuarakannya.
3. Gebog Domas
Gebog Domas merupakan persatuan masyarakat banjar adat atau desa adat yang ada di sekitar pura. Mereka memikul tanggung jawab untuk menjaga keberadaan pura. Hal ini juga dikenal dengan sebutan Bebanuan Pura Kehen atau istilah untuk menyebutkan banjar adat, yang menjadi pengemong dari pura ini.
Baca juga: Pura Tirta Sudamala, Tempat Melukat yang Dialiri Aliran Sungai Banyuasri
Pura Kehen kental dengan nuansa religi umat Hindu. Jika tertarik mengunjunginya, pengunjung bisa datang ke Jl. Sriwijaya, Cempaga, Kec. Bangli, Kab. Bangli, Bali. (DLA)
