Mengenal Kampung Adat Cireundeu dan Budayanya
Akun yang membahas tentang kota Bandung
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Bandung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kampung Adat Cireundeu merupakan salah satu kampung wisata menarik yang ada di Cimahi. Ada banyak budaya dan adat istiadat yang menarik dipelajari. Inilah kenapa Kampung Cireundeu banyak dikunjungi sebagai kebutuhan rekreasi bahkan objek pendidikan.
Ada banyak sekali keunikan yang bisa ditelusuri di kampung ini. Di mana penduduknya masih mengagungkan kearifan lokal yang mungkin tidak dapat ditemui di kampung desa lainnya.
Menelusuri Fakta Menarik Kampung Adat Cireundeu
Sebelum mengunjungi lokasi kampung wisata ini, ada baiknya menelusuri fakta menariknya dulu. Langsung saja simak ulasan seputar Kampung Adat Cireundeu di bawah ini.
1. Asal Usul Kampung Cireundeu
Mengutip laman cimahikota.go.id, nama “Cireundeu” berasal dari pohon reundeu, yang mana dahulunya di daerah ini banyak sekali pohon reundeu. Pohon reundeu biasa digunakan sebagai bahan obat herbal. Karena inilah disebut sebagai Kampung Cireundeu.
2. Sejarah dan Geografis Kampung Cireundeu
Kampung Cireundeu baru dikenal sebagai wilayah desa tradisional pada tahun 2007. Kampung adat ini berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Luas lahannya sekitar 64 Ha yang terbagi menjadi dua bagian, yakni 60 Ha untuk pertanian dan 4 Ha untuk pemukiman.
Seperti desa lainnya, kampung ini juga dikelola oleh pemerintahan lokal, RT dan RW sebagai tertinggi di wilayah Cireundeu. Sedangkan secara tradisional, Cireundeu memiliki orang yang ‘dituakan’ yang biasa disebut "Sesepuh". Saat ini Sesepuh Cireundeu sudah mencapai generasi ke-5.
3. Kepercayaan Warga Cireundeu
Warga Cireundeu kebanyakan memeluk kepercayaan Sunda Wiwitan. Mereka konsisten dalam menjalankan ajaran kepercayaannya tersebut. Selain itu, mereka juga masih konsisten dalam melestarikan prinsip adat istiadat yang telah diturunkan secara turun-temurun dari nenek moyang mereka.
Prinsip ini berbunyi “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman”. Kata “Ngindung Ka Waktu” memiliki makna sebagai masyarakat kampung adat memiliki cara, ciri dan keyakinan masing-masing. Kemudian kata “Mibapa Ka Jaman” memiliki artinya masyarakat Kampung Cireundeu tidak melawan perubahan zaman, melainkan mengikutinya, seperti adanya teknologi, penerangan, televisi, hingga alat komunikasi, yakni handphone.
3. Konsep Daerah Cireundeu
Masyarakat Cireundeu juga memiliki konsep kampung adat yang selalu diingat sejak zaman dulu. Di mana terdapat tiga bagian daerah, yaitu:
Leuweung larangan atau hutan larangan: Hutan yang tidak boleh ditebang pepohonannya dengan tujuan kesejahteraan warga itu sendiri.
Leuweung tutupan atau hutan reboisasi: Hutan yang digunakan untuk reboisasi atau boleh dipergunakan pepohonannya dengan syarat tetap melestarikan (menanam kembali).
Leuweung baladahan atau hutan pertanian: Hutan yang digunakan untuk berkebun masyarakat adat Cireundeu.
4. Budaya Cireundeu
Kampung Cireundeu tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga tempat belajar melestarikan budaya Sunda. Salah satu budaya yang masih dipertahankan secara turun temurun ialah menjadikan singkong sebagai makanan pokok, penyelenggaraan upacara adat Suran yang dilaksanakan setahun sekali, seni bela diri, serta pertunjukan musik angklung yang memukau.
Baca Juga: Kampung Wisata Kreatif Cigadung: Kawasan Wisata Bandung yang Sayang Dilewatkan
Demikian ulasan singkat mengenai pengenalan Kampung Adat Cireundeu dan gambaran budaya yang harus diketahui. Informasi ini bisa menambah wawasan para pengunjungnya. (INE)