Mengenal Kelebihan dan Kekurangan Media Tanam Anorganik Sesuai Jenisnya

Artikel yang membahas seputar hobi seperti menggambar, memelihara tanaman, hewan peliharaan, hingga meracik kopi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Hobi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media tanam anorganik juga kerap menjadi pilihan dalam budidaya tanaman tertentu. Kelebihan dan kekurangan media tanam anorganik tergantung pada jenisnya.
Jenis media tanam ini pun mempunyai kandungan mineral cukup tinggi serta terbentuk dari proses pelapukan kimiawi atau mekanik.
Kelebihan dan Kekurangan Media Tanam Anorganik
Dalam digitallibrary.ump.ac.id, disebutkan berbagai contoh media tanam, di dunia pertanian atau budidaya tanaman dikenal dua media tanam yaitu organik serta anorganik.
Untuk jenis media tanam organik yang kerap digunakan antara lain kompos, arang, batang pakis, pupuk kandang, humus, dan sebagainya.
Sementara itu, untuk jenis media tanam anorganik ada pasir, bebatuan kecil atau kerikil baik alami atau sintetis, hidrogel, hingga spons.
Kenali kelebihan dan kekurangan media tanam anorganik sehingga dapat menentukan pilihan terbaik untuk tanaman seperti berikut ini.
1. Pasir
Material butiran ini terdiri dari mineral serta partikel batuan yang terpecah menjadi halus. Akan tetapi, tak semua jenis pasir cocok untuk tanaman. Budidaya tanaman umumnya menggunakan pasir malang atau pasir bangunan.
Kelebihan: meningkatkan penyerapan air dan sistem aerasi (proses penambahan udara atau oksigen), mudah dipindahkan ke media tanam lain.
Kekurangan: bersifat lekas kering, memerlukan banyak air dan pemupukan teratur, lebih baik dicampur dengan media anorganik lain seperti kerikil atau bebatuan kecil.
2. Kerikil
Selanjutnya ada kerikil atau batuan kecil yang biasanya merupakan pecahan batu granit. Selain kerikil alami, jenis kerikil sintetis juga banyak dimanfaatkan sebagai media tanam hidroponik.
Kelebihan: mampu mengurangi risiko tekanan pada akar sehingga pertumbuhannya lebih baik.
Kekurangan: sulit mengikat air sehingga harus lebih rajin menyiram tanaman.
3. Hidrogel
Media tanam anorganik berikutnya adalah hidrogel yang memiliki kandungan kristal polimer dan banyak digunakan dalam bertanam hidroponik.
Kelebihan: memiliki beragam warna, dapat mempercantik interior, mampu menyerap dan menyimpan air serta nutrisi bagi tanaman dalam jumlah besar, hemat waktu dan tenaga (tak perlu memupuk atau menggantinya dengan media baru).
Kekurangan: kekuatan mekanik serta kekerasannya jadi rendah usai mengembang.
4. Spons
Spons mempunyai pori-pori cukup besar dan biasa dipakai untuk menyemai biji tanaman. Media tanam ini pun cukup populer dalam budidaya tanaman.
Kelebihan: dapat dipindahkan dengan mudah, daya serap air dan unsur hara yang tinggi, bisa mengokohkan tanaman setelah disiram air.
Kekurangan: porositas cukup besar sehingga tak mampu bertahan lama.
5. Pecahan Bata
Pecahan batu bata termasuk media tanam anorganik yang kerap digunakan untuk bertanam. Petani biasa menaruhnya di bagian dasar pot.
Kelebihan: sangat baik untuk tempat akar melekat, tidak mudah lapuk, memiliki drainase cukup baik.
Kekurangan: kandungan unsur hara sangat sedikit, tingkat sterilitas belum terjamin.
6. Tanah Liat
Tanah liat merupakan media tanam dengan pori-pori kecil dan bersifat liat atau lengket. Media tanam anorganik ini memiliki butiran amat halus dan terbentuk akibat proses pelapukan kerak bumi.
Kelebihan: mampu mengikat air dengan sangat kuat.
Kekurangan: proses penyerapan air lebih lama, miskin unsur hara (memerlukan media tanam lain seperti pupuk kandang atau humus, bila hendak digunakan sebagai media tanam), sirkulasi air dan udara kurang maksimal. (DN)
