Taman Nasional Kepulauan Seribu, Bisa Lihat Pelepasliaran Penyu

Mengulas serba serbi kota Jakarta, mulai dari sejarah, pariwisata, kebudayaan, dan lainnya.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Seputar Jakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kota Jakarta juga punya kawasan taman nasional. Adalah Taman Nasional Kepulauan Seribu yang memiliki peran penting dalam konservasi penyu di perairan laut Jakarta dan Pulau Jawa.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK. 6310/Kpts-II/2002, wilayah taman nasional ini termasuk kawasan darat Pulau Penjaliran Barat dan Pulau Penjaliran Timur seluas 39,50 hektar, juga wilayah perairan laut dengan luas 107.489 ha.
Fakta tentang Taman Nasional Kepulauan Seribu
Sebagai taman nasional yang berada di gugus kepulauan, Taman Nasional Kepulauan Seribu ini menjadi suaka bagi beberapa jenis penyu yang akan berkembang biak.
Berikut merupakan fakta-fakta menarik mengenai taman nasional di kawasan Kepulauan Seribu, yang dihimpun langsung dari website resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jasling.menlhk.go.id.
Unit Konservasi di Bawah KLHK
Taman nasional ini adalah 1 dari 7 taman nasional laut, dan juga bagian dari 556 unit kawasan konservasi di Indonesia. Taman nasional ini dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Tahun 2017, taman nasional ini mewakili Indonesia pada Asean Working Group on Nature Conservation and Biodiversity (AWGNCB) ke-27 di Brunei Darussalam.
Dalam acara tersebut taman nasional ini mendapat penghargaan sebagai kawasan ASEAN Heritage Park (AHP) ke 29 di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai Tempat Konservasi Mangrove hingga Penyu
Taman nasional ini memang punya tugas untuk memberikan perlindungan untuk mangrove, terumbu karang, penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan kima raksasa (Tridacna gigas) dan biota laut lainnya.
Oleh karenanya juga, tempat ini punya nilai penting dan dapat dimanfaatkan sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan dan pendidikan. Taman nasional ini terbuka untuk siapa saja yang ingin memiliki keingintahuan yang dalam akan konservasi alam.
Penetasan Penyu dan Pemeliharaan di Penangkaran
Maraknya perburuan liar telur penyu di pesisir pantai untuk dijual dan dikonsumsi, membuat pengawasan akan keamanan dan penyelamatan telur penyu perlu dilakukan. Tindakan penyelamatan telur penyu ini dilakukan oleh petugas konservasi.
Telur penyu bisa menetas sampai dengan 80% bila dilakukan di penangkaran. Proses penyelamatan hingga penetasan dilakukan dengan beberapa tahapan.
Mulanya dilakukan pemindahan telur penyu dari pantai ke tempat penangkaran sampai menetas. Waktu yang dibutuhkan biasanya 5-6 minggu.
Setelah menetas, anakan penyu atau tukik akan dirawat sampai memiliki cangkang atau karapas dan juga fisik yang kuat untuk menghadapi kehidupan di alam bebas.
Selain tukik, ada pula beberapa penyu dewasa hasil sitaan dari warga yang memeliharanya secara ilegal, titipan ataupun penyu yang perlu direhabilitasi karena luka terjerat jaring nelayan.
Pelepasliaran ke Alam yang Bisa Disaksikan Pengunjung
Setelah tukik dan penyu dewasa memiliki kondisi yang prima, pihak konservasi akan melakukan pelepasliaran. Pelepasliaran penyu dan tukik ini bisa disaksikan secara langsung oleh pengunjung.
Masyarakat yang tertarik berwisata sambil belajar mengenai konservasi hingga melihat pelepasliaran penyu, bisa datang ke Pusat Suaka Penyu, Balai Taman Nasional di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.
Informasi dan ketentuan mengenai kunjungan tersebut terdapat pada di Instagram resmi @btn_kep_seribu.
Baca Juga: Cara ke Pulau Seribu Naik Kereta Sambung Kapal dari Jakarta
Taman Nasional Kepulauan Seribu ini bisa jadi salah satu tujuan wisata edukasi mengenai habitat flora dan fauna di perairan Jakarta. (Fitri A)
