Sejarah Gereja Bintaran sebagai Bangunan Cagar Budaya

Mengulas serba serbi kota Yogyakarta.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Seputar Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Gereja Bintaran merupakan salah satu hal yang menarik untuk disimak, khususnya bagi masyarakat Jogja. Bangunan sekaligus tempat ibadah ini sekarang telah menjadi salah satu bangunan cagar budaya.
Gereja ini merupakan salah satu bangunan yang menyimpan nilai sejarah dan arsitektur yang tinggi. Selain itu, juga menjadi saksi bisu perjalanan panjang kristen di Jogja.
Sejarah Gereja Bintaran Yogyakarta
Dikutip dari laman resmi Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, pariwisata.jogjakota.go.id, salah satu hal yang menarik berkaitan dengan sejarah Gereja Bintaran atau Gereja Santo Yusup Bintaran adalah statusnya sebagai gereja jawa pertama di Jogja.
Gereja Bintaran didirikan oleh H.Van Driessche, SJ, Bapak Dawoed (seorang katekis pribumi) dan juga Romo A. Van Kalken, SJ, yang menjatuhkan pilihan di Kampung Bintaran, sebelah timur Sungai Code.
Salah satu keunikan dari gereja ini adalah arsitekturnya yang unik. Gereja ini menggunakan arsitektur khas Belanda dengan desain interior yang indah sehingga menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.
Bangunan dari gereja Jawa pertama di Jogja ini dirancang langsung oleh seorang Belanda yang dikenal dengan nama J.H. van Oijen B.N.A. Sementara itu untuk proses pembuatannya dilakukan oleh Hollandsche Beton Maatscahppij.
Secara keseluruhan, bangunan ini memiliki panjang mencapai 36 meter dengan lebar sekitar 20 meter. Untuk tinggi atap penaung bagian tengah memiliki tinggi mencapai 13 meter. Sehingga bangunan geraja ini termasuk bangunan yang tinggi
Bangunan Gereja Santo Yusup Bintaran diresmikan tanggal 8 April 1934 di Kampung Bintaran, sebelah timur Sungai Code dengan ditunjuknya Pastor Paroki pertama, yaitu Romo A.A.C.M. de Kuyper,SJ dan Romo Albertus Soehijapranata, SJ.
Sejak diresmikan, banyak kegiatan agama dan kemasyarakatan berkembangn di gereja ini. Misalnya, pada tahun 1937, ada sebuah kursus keterampilan bagi wanita dan kegiatan jurnalistik yang berbentuk majalah dengan bahasa Jawa.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan masyarakat di area gereja ini juga terus berkembang. Misalnya, pada tahun 1947, Sekolah Guru Katolik dan SMA de Britto mulai tumbuh di Bintaran, persisnya menempati kompleks aula sebelah barat gereja.
Baca juga: 5 Hotel dekat Stadion Mandala Krida Yogyakarta untuk Istirahat yang Nyaman
Demikian adalah penjelasan mengenai sejarah Gereja Bintaran yang merupakan gereja Jawa pertama sekaligus bangunan cagar budaya. (ARD)
