Sejarah Keraton Yogyakarta, Tempat Tinggal Keluarga Kesultanan Yogyakarta

Seputar Yogyakarta
Mengulas serba serbi kota Yogyakarta.
Konten dari Pengguna
10 November 2023 14:20 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Seputar Yogyakarta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Sejarah Keraton Yogyakarta. Unsplash/Gading Ihsan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sejarah Keraton Yogyakarta. Unsplash/Gading Ihsan.
ADVERTISEMENT
Berbicara mengenai Yogyakarta, tidak lepas pula dari bangunan Keraton Yogyakarta. Sejarah Keraton Yogyakarta ini cukup panjang, dimulai dari tahun 1755 hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Dalam buku Sejarah Keraton Yogyakarta, Sabdacarakatama (2009:3), Keraton Yogyakarta pertama kali dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I, sebagai tempat tinggal keluarga Keluarga Kesultanan Yogyakarta.

Sejarah Keraton Yogyakarta

Ilustrasi Sejarah Keraton Yogyakarta. Unsplash/Farano Gunawan.
Sejarah Keraton Yogyakarta berawal terbaginya Kerajaan Mataram menjadi dua bagian, Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Pada masa berdirinya itu, bahkan Keraton Yogyakarta juga sempat diambil alih oleh Inggris pada tahun 1812-1813. Berikut sejarah panjang mengenai Keraton Yogyakarta, kedudukan Kesultanan Yogyakarta hingga fungsi bangunan Keraton Yogyakarta saat ini.

1. Sejarah Berdirinya

Bila berbicara mengenai sejarah Keraton Yogyakarta, tidak lepas dari peristiwa perang antara Kerajaan Mataram dan Belanda pada abad ke-16, seperti tercantum pada website resmi Keraton Yogyakarta, kratonjogja.id.
Akibat perang tersebut, terbentuklah gerakan anti penjajah di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi. Maka pada sekitar tahun 1755, Perjanjian Giyanti dibuat sebagai upaya mengakhiri perselisihan.
ADVERTISEMENT
Perjanjian Giyanti ini ditandatangani tepatnya pada 13 Februari 1755, yang menyatakan bahwa Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Kasunanan Surakarta dipimpin oleh Susuhunan Paku Buwono III, sementara Kasultanan Ngayogyakarta – atau Yogyakarta – dipimpin oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
Kemudian, tanggal 13 Maret 1755 menjadi tanggal bersejarah untuk Kasultanan Yogyakarta. Tanggal ini merupakan tanggal proklamasi atau Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat dikumandangkan.
Pembangunan Keraton Yogyakarta yang diperintahkan oleh Sultan Hamengku Buwono I, dimulai pada 9 Oktober 1755 dan berlangsung selama satu tahun. Selama proses pembangunan tersebut, Sri Sultan beserta keluarga tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang.
Setelah setahun, Sri Sultan Hamengku Buwono I beserta keluarga serta pengikutnya memasuki Keraton Yogyakarta pada tanggal 7 Oktober 1756. Peristiwa ini ditandai dengan sengkalan memet Dwi Naga Rasa Tunggal dan Dwi Naga Rasa Wani.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan informasi dalam terasmalioboro.jogjaprov.go.id, secara fisik bangunan istana para Sultan Yogyakarta ini memiliki tujuh kompleks inti, yaitu

2. Sempat Diduduki Inggris

Pada tahun 1812 hingga 1813, tepatnya pada tanggal 20 Juni 1812, Inggris berhasil menyerang dan memasuki keraton. Akibatnya, Sultan Hamengku Buwono II dipaksa turun tahta.
Kemudian, pengganti pemimpin kesultanan, Sri Sultan Hamengku Buwono III dipaksa menyerahkan sebagian wilayahnya untuk diberikan kepada Pangeran Notokusumo (putera Hamengku Buwono I).
Selanjutnya, oleh Inggris, Pangeran Notokusumo diangkat sebagai Adipati Paku Alam I. Daerah kekuasaan Paku Alam (sebagian kecil ibu kota dan daerah Adikarto (Kulonprogo bagian selatan)) ini bersifat otonom, sehingga dapat diwariskan kepada keturunan Pangeran Notokusumo.
ADVERTISEMENT
Sejak 17 Maret 1813, Adipati Paku Alam I mendeklarasikan berdirinya Kadipaten Pakualaman.

3. Pasca Proklamasi Indonesia

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sri Sultan Hamengku Buwono IX segera mengucapkan selamat dengan berdirinya republik baru kepada para proklamator kemerdekaan.
Dukungan terhadap Republik Indonesia semakin penuh ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII mengeluarkan amanat pada tanggal 5 September 1945 yang menyatakan bahwa wilayahnya yang bersifat kerajaan adalah bagian dari Negara Republik Indonesia.
Oleh karenanya, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, menetapkan bahwa Sultan Hamengku Buwono dan Adipati Paku Alam merupakan dwi tunggal yang memegang kekuasaan atas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Status keistimewaan menjadi kuat dengan disahkannya Undang-Undang nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Termasuk di dalamnya keistimewaan bentuk warisan budaya di Kasultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.
ADVERTISEMENT

4. Keraton Yogyakarta Saat Ini

Mengutip informasi dari kebudayaan.jogjakota.go.id, saat ini, Keraton Yogyakarta masih digunakan sebagai tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono dan keluarganya. Namun, sebagian dari bangunan Keraton Yogyakarta dapat dikunjungi oleh wisatawan.
Kemudian, bangunan Keraton Yogyakarta, bersama bekas Tamansari, Museum Sonobudoyo, benteng dan kelengkapannya, menjadi salah satu tempat yang memiliki berbagai warisan budaya, baik yang berbentuk upacara maupun benda-benda kuno dan bersejarah.
Hal ini menjadikan Keraton Yogyakarta sebagai suatu lembaga adat lengkap dengan pemangku adatnya, nilai-nilai filosofi begitu pula mitologi menyelubungi keraton ini.
Sehingga pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sempat dicalonkan untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.
Itulah informasi mengenai sejarah Keraton Yogyakarta, sebagai tempat tinggal keluarga Kesultanan Yogyakarta hingga fungsinya saat ini. (Fitri A)
ADVERTISEMENT