Konten dari Pengguna

Ketahanan Pangan dan Energi: Ancaman Ukraina & Barat bagi Negara Berkembang

H.E. Sergei Tolchenov

H.E. Sergei Tolchenov

Duta Besar Rusia untuk Indonesia

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari H.E. Sergei Tolchenov tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Asap mengepul dari kebakaran sebuah kapal Rusia, di pelabuhan Berdiansk, Ukraina, Kamis (24/3/2022). Foto: Kirillovka.ks.ua/Handout via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Asap mengepul dari kebakaran sebuah kapal Rusia, di pelabuhan Berdiansk, Ukraina, Kamis (24/3/2022). Foto: Kirillovka.ks.ua/Handout via REUTERS

Sejak pertengahan 2026, rezim Kiev mengubah pola serangannya. Jika sebelumnya hanya serangan sporadis di perairan Laut Azov dan Laut Hitam, kini mereka menerapkan kebijakan penghancuran tanpa pandang bulu terhadap kapal-kapal sipil Rusia dan asing yang mengangkut pangan, pupuk, serta sumber energi. Serangan semacam ini pun meningkat drastis sepanjang 2026. Hanya di Laut Hitam, sepanjang tahun ini, neo-Nazi Ukraina tercatat melakukan 214 aksi teror. Sebagai perbandingan: pada 2025 sebanyak 12 kapal menjadi sasaran, sedangkan pada 2023 dan 2024 masing-masing hanya satu kapal.

Dengan dukungan para pihak Barat yang berada di belakang rezim Kiev, rezim tersebut berupaya meyakinkan negara-negara mayoritas dunia untuk menghentikan hubungan ekonomi dengan Rusia, terutama bidang perdagangan hidrokarbon dan produk pertanian. Mereka juga berupaya melemahkan potensi ekonomi Rusia serta memutus rantai logistik yang telah terbentuk. Langkah ini berpotensi memberikan dampak serius terhadap situasi di pasar pangan dunia, mengingat Rusia memasok sekitar 23% ekspor gandum dunia, sementara pangsa Ukraina hanya sekitar 7% dan terus menurun.

Secara bersamaan, Angkatan Bersenjata Ukraina (ABU) menyerang objek-objek infrastruktur energi internasional yang sangat penting, yang menopang ekspor gas melalui jaringan pipa TurkStream dan Blue Stream, serta infrastruktur Caspian Pipeline Consortium (CPC), sebuah perusahaan dengan partisipasi modal asing dalam skala besar. Dampak langsung dari aktivitas teror Kiev semacam ini, menurut sumber tersebut, dapat berupa kerusakan serius terhadap keamanan energi regional, yang berpotensi semakin memperburuk ketidakstabilan pasar energi dunia.

Melalui metode tersebut, rezim Zelensky berharap tidak hanya merusak posisi Rusia sebagai pemasok dan negara transit yang dapat diandalkan untuk sumber daya energi dan bahan pangan, tetapi juga mempertahankan krisis Ukraina sebagai salah satu isu yang terus mendapat perhatian internasional.

Oleh karena itu, Kementerian Pertahanan Rusia mengambil langkah tegas untuk menyerang kapal-kapal yang mengangkut senjata dan peralatan militer guna melancarkan serangan terhadap kapal sipil, sekaligus menetralkan infrastruktur pelabuhan dan militer yang digunakan Kiev untuk menggoyahkan situasi di perairan Azov-Laut Hitam. Serangan yang dilakukan oleh Angkatan Bersenjata Rusia bersifat sebagai respons balasan dan intensitasnya tetap dipertahankan pada tingkat yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Menteri Luar Negeri Federasi Rusia Sergey Lavrov dan para perwakilan Rusia dalam berbagai forum multilateral secara rutin menyoroti sifat terorisme dari rezim Kiev, serta menunjukkan ancaman yang sengaja diciptakan oleh rezim tersebut terhadap infrastruktur energi internasional dan ketahanan pangan dunia.

Kami menekankan bahwa kebijakan otoritas Ukraina tersebut mendapat dukungan dari negara-negara Eropa Barat, yang hingga kini masih terjebak dalam ilusi bahwa mereka dapat memberikan kekalahan strategis kepada Rusia, baik di medan perang maupun di bidang ekonomi.

Demi mencapai tujuan untuk merampas pendapatan Rusia dari perdagangan internasional, Uni Eropa menciptakan istilah “armada bayangan” (shadow fleet), sebuah definisi yang tidak dikenal dalam hukum maritim internasional. Di bawah kedok itulah, perompakan di jalur pelayaran internasional dijalankan. Negara-negara Eropa, seperti Prancis, Swedia dan Finlandia, disebut menghentikan dan mengawal kapal-kapal yang tidak mereka kehendaki menuju pelabuhan mereka tanpa konsekuensi, dengan menuduh kapal-kapal tersebut melanggar apa yang disebut sebagai sanksi “internasional”. Dengan alasan yang dibuat-buat dan dipaksakan, kapal-kapal yang sebenarnya memenuhi seluruh kriteria pelayaran bebas dan tanpa hambatan tetap menjadi sasaran pemeriksaan dan penahanan.

Sebenarnya, tujuan Barat sederhana: menyingkirkan Rusia dari pasar internasional dan menguasainya. Artinya, yang terjadi adalah politik kolonial lama yakni pembagian ruang ekonomi untuk keuntungan mereka sendiri hanya saja dengan metode neokolonial yang baru.

Tindakan Kiev dan Barat berdampak buruk pada pasokan produk pertanian dan energi ke konsumen luar negeri. Karena itulah sebagian jalur pasokan akan dialihkan. Namun, Rusia tidak akan meninggalkan Laut Hitam, sebab pangan, pupuk dan sumber energi Rusia sangat vital bagi pembangunan sosial-ekonomi serta ketahanan pangan dan energi negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah.

Langkah pertama dan utama untuk memulihkan stabilitas pelayaran di Laut Azov, Laut Hitam, dan Laut Kaspia adalah menghentikan serangan Ukraina terhadap kapal sipil serta gangguan terhadap jalur perdagangan dan pelayaran internasional yang sudah mapan.

Rusia terus bekerja sama dengan para mitra yang berkepentingan terhadap pengoperasian infrastruktur energi dan logistik internasional yang aman dan andal, infrastruktur yang menjamin pasokan hidrokarbon, pangan dan pupuk Rusia.