Sepiring Makan Gratis : Siapa yang Sebenarnya Menanggung Biayanya?

Mahasiswa universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Serlin Nur Sabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Program makan bergizi gratis menjadi salah satu kebijakan paling ambisius dalam pemerintahan Prabowo Subianto. Di dalam rancangan APBN 2026, alokasi anggaran untuk program ini diperkirakan menyedot dana ratusan triliun rupiah. Pertanyaannya: apakah ini benar-benar solusi bagi persoalan gizi nasional, atau justru berpotensi menjadi beban fiskal jangka panjang?
Masalah gizi di Indonesia memang nyata. Stunting masih menjadi tantangan serius, terutama di daerah tertinggal. Anak-anak yang kekurangan asupan nutrisi berisiko mengalami hambatan pertumbuhan dan penurunan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dalam konteks ini, intervensi melalui penyediaan makanan bergizi di sekolah tampak sebagai langkah strategis. Negara hadir secara langsung untuk memastikan generasi mendatang tumbuh sehat dan produktif.

Namun, kebijakan publik tidak hanya dinilai dari niat baiknya, tetapi juga dari keberlanjutannya. APBN memiliki ruang fiskal yang terbatas. Di satu sisi, pemerintah harus membiayai pendidikan, kesehatan, infrastruktur, subsidi energi, hingga pembayaran bunga utang. Jika porsi belanja untuk program makan gratis terlalu besar, risiko pelebaran defisit menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari.
Defisit yang melebar berarti pemerintah harus menambah utang atau memangkas anggaran sektor lain. Dalam situasi global yang tidak menentu, ketergantungan pada pembiayaan utang bisa meningkatkan risiko fiskal. Beban pembayaran bunga di masa depan dapat mengurangi fleksibilitas anggaran untuk kebutuhan prioritas lainnya.
Meski demikian, melihat program ini semata sebagai beban fiskal juga tidak sepenuhnya tepat. Jika dirancang dengan baik, anggaran makan bergizi bisa menjadi stimulus ekonomi. Pelibatan UMKM, petani lokal, dan industri pangan domestik berpotensi menciptakan efek pengganda (multiplier effect). Artinya, uang yang dibelanjakan negara tidak berhenti di satu titik, tetapi berputar dalam perekonomian nasional.
Kuncinya terletak pada desain kebijakan dan pengawasan. Tanpa sistem distribusi yang transparan dan akuntabel, program sebesar ini rawan kebocoran. Pemerintah harus memastikan data penerima akurat, kualitas makanan terjaga, serta rantai pasok efisien. Evaluasi berkala juga penting untuk mengukur apakah program ini benar-benar menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Pada akhirnya, perdebatan mengenai anggaran makan bergizi gratis bukan soal setuju atau tidak setuju. Ini soal bagaimana negara menyeimbangkan antara investasi sumber daya manusia dan disiplin fiskal. Jika dikelola dengan hati-hati, program ini bisa menjadi fondasi Indonesia Emas 2045. Namun tanpa perhitungan matang, ia bisa berubah menjadi tekanan jangka panjang bagi keuangan negara.
APBN bukan hanya dokumen angka, melainkan cerminan prioritas bangsa. Dan dalam APBN 2026, publik berhak memastikan bahwa setiap rupiah benar-benar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masa depan Indonesia
