Konten dari Pengguna

Cikini, Ruang Pulang di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

Serly Agustin

Serly Agustin

Karyawan di PT Kalbe Farma

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Serly Agustin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perpustakaan Cikini. Sumber : Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Perpustakaan Cikini. Sumber : Foto Pribadi

Cikini merupakan kawasan ikonik yang berada di Jakarta Pusat, tidak pernah kehilangan daya tariknya. Dikenal sebagai area yang hidup dan pusat kebudayaan di Jakarta. Kini wajah Cikini berkembang menjadi modern tanpa meninggalkan karakter aslinya. Cikini merupakan salah satu kawasan di Jakarta Pusat yang seolah tidak pernah kehilangan denyut hidupnya.

Taman Ismail Marzuki dan Wajah Baru Ruang Publik

Kalau berbicara tentang Cikini, hal pertama yang terlintas dibenak adalah Taman Ismail Marzuki, yang merupakan pusat kesenian dan kebudayaan Jakarta. Menjadi pusat berkumpulnya seniman dan penikmat seni.

Pasca revitalisasi beberapa waktu lalu, Taman Ismail Marzuki tampil semakin cantik dengan arsitekturnya yang ciamik. Banyak ruang ruang publik yang bisa dipergunakan untuk anak muda berkumpul maupun melakukan kegiatan positif seperti kegiatan membaca bersama dipelataran Taman Ismail Marzuki. Kehadiran ruang-ruang terbuka ini menjadikan TIM bukan hanya pusat seni, tetapi juga ruang sosial yang hidup di tengah kota. Di sinilah Cikini menunjukkan perannya sebagai ruang kota yang inklusif tempat berkumpul tanpa sekat, tanpa harus selalu bertransaksi.

Ruang Literasi di Tengah Kota

Ruang Literasi dan Edukasi Perpustakaan Cikini. Sumber : Foto Pribadi

Salah satu ikon edukasi dan literasi di kawasan ini adalah Perpustakaan Cikini. Perpustakaan ini tumbuh di tengah kota dan sangat selaras dengan perkembangan masyarakat urban, dengan interior yang nyaman dan koleksi yang lengkap perpustakaan ini kerap menjadi tujuan utama masyarakat untuk sekedar membaca buku atau bekerja.

Kebijakan baru yang memperpanjang jam operasional hingga pukul 22.00 WIB semakin memperkuat peran perpustakaan ini sebagai ruang aman bagi masyarakat urban yang membutuhkan tempat belajar di malam hari. Keberadaan Perpustakaan Cikini menunjukkan bahwa ruang literasi masih memiliki tempat di tengah dinamika kota Jakarta yang serba cepat.

Bakmi Roxy dan Ingatan Kolektif Cikini

Bakmi legend Roxy. Sumber : Foto Pribadi

Selain seni dan literasi Cikini juga menyimpan kenangan melalui kulinernya. Kuliner di Cikini sangatlah beragam tentunya, namun hal yang tidak boleh kalian lewatkan ketika sedang berkunjung ke Cikini adalah mencoba bakmi legendarasi yang sudah ada sejak tahun 1990an yaitu bakmi Roxy.

Letaknya hanya 100 meter dari TIM. Tempat makan ini dikenal dengan sajian yang konsisten dengan cita rasa terjaga dengan tektstur mie yang kenyal dipadukan dengan kuah kaldu yang gurih. Tak heran jika tempat makan ini selalu ramai didatangi pengunjung. Di tengah menjamurnya tempat makan baru, Bakmi Roxy tetap bertahan dengan caranya sendiri.

Caffe yang Dulunya Pabrik Kopi

Giyanti Coffe Roastery. Sumber : Foto pribadi

Bergeser sedikit ke lagi kita akan menemukan toko kopi Giyanti yang bisa dibilang unik karena ketika kamu masuk akan disambut dengan nunsa homey dengan gaya interior rustic-vintage dengan sentuhan greenry rasanya kaya masuk ke ruang seni penuh karakter. Giyanti Coffe Roastery menawarkan pengalaman kopi yang autentik dengan biji kopi pilihan.

Cikini merupakan kawasan yang menawarkan pengalaman lengkap dalam satu area. Dengan akses yang mudah, karena dapat diakses melalui KRL maupun Transjakarta. Cikini layak menjadi tujuan utama bagi kamu yang mau menjelajahi sisi autentik Jakarta Pusat. Di tengah Jakarta yang terus berubah, Cikini tetap menjadi tempat singgah yang terasa akrab, seolah menjadi ruang pulang bagi siapa pun yang datang.