Kita Memilih Tren, atau Algoritma yang Memilih untuk Kita?

Serren Surya Anggita mahasiswi aktif semester 3, Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia (UBM).
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Serren Surya Anggita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram semakin berperan dalam menentukan konten yang muncul di hadapan pengguna setiap hari. Sistem ini bekerja dengan mempelajari berbagai aktivitas pengguna, seperti video yang ditonton, disukai, dibagikan, atau dilewati, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk memberikan rekomendasi konten yang dianggap sesuai dengan minat mereka. Pengaruhnya tidak hanya terlihat dari konten hiburan, tetapi juga dapat merambah ke musik, makanan, fashion, tempat nongkrong, hingga berbagai topik yang sedang ramai dibicarakan. Fenomena ini semakin terasa di kalangan anak muda yang menjadikan media sosial sebagai salah satu sumber untuk menemukan sesuatu yang baru. Akibatnya, apa yang kita lihat berulang kali di media sosial dapat ikut membentuk hal-hal yang akhirnya kita anggap menarik.
Menurut saya, pengaruh algoritma sebenarnya sering tidak terasa karena prosesnya berlangsung secara perlahan. Misalnya, seseorang awalnya hanya melihat satu video tentang tempat makan tertentu. Setelah menonton atau berinteraksi dengan video tersebut, konten serupa mulai muncul berkali-kali di halaman rekomendasi. Tidak lama kemudian, tempat tersebut terlihat seperti sedang ada di mana-mana. Ketika teman-teman juga mulai membicarakannya, muncul anggapan bahwa tempat itu memang sedang populer dan layak dicoba. Padahal, bisa saja kita mengenalnya bukan karena secara aktif mencarinya, tetapi karena algoritma terus mempertemukan kita dengan konten yang sama.
Hal yang sama juga bisa terjadi pada musik dan fashion. Ketika satu lagu terus muncul dalam berbagai video, kita mungkin mulai hafal nadanya meskipun awalnya tidak pernah mencari lagu tersebut. Begitu juga dengan tren pakaian tertentu yang muncul berulang kali di halaman media sosial. Lama-kelamaan, sesuatu yang awalnya terasa biasa saja bisa terlihat menarik karena terlalu sering kita temui. Menurut saya, di sinilah algoritma menjadi menarik untuk dibicarakan. Kita memang tetap memiliki kebebasan untuk memilih, tetapi pilihan tersebut tidak selalu muncul dari ruang yang benar-benar netral. Apa yang kita pilih sudah lebih dulu dipengaruhi oleh hal-hal yang diberikan kepada kita.
Pada akhirnya, menurut saya, masalahnya bukan apakah algoritma sepenuhnya mengendalikan pilihan kita. Tentu saja kita masih bisa menentukan sendiri musik yang ingin didengar, makanan yang ingin dicoba, atau tren yang ingin diikuti. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa apa yang terus muncul di depan mata dapat memengaruhi cara kita melihat sesuatu. Kalau setiap hari kita hanya diperlihatkan tren yang sama, bukan tidak mungkin kita menganggapnya sebagai sesuatu yang memang paling menarik. Karena itu, sesekali penting untuk bertanya kepada diri sendiri: “apakah saya benar-benar suka ini, atau saya cuma terlalu sering melihatnya?”
