Konten dari Pengguna

Mahasiswa dan Organisasi Kampus: Dari Aktif hingga Selektif

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Serren Surya Anggita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mahasiswa yang sedang rapat organisasi (Pexels/Yusuf Çelik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa yang sedang rapat organisasi (Pexels/Yusuf Çelik)

Memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa baru dihadapkan pada berbagai kesempatan untuk mengembangkan diri di luar kegiatan akademik, salah satunya melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), organisasi, dan komunitas kampus. Pada awal semester, tidak sedikit mahasiswa yang tertarik mengikuti berbagai kegiatan sekaligus karena ingin menambah pengalaman, memperluas pertemanan, hingga menemukan minat baru. Antusiasme tersebut terlihat dari keinginan mereka untuk menghadiri pertemuan, mengikuti latihan rutin, dan berpartisipasi dalam berbagai acara. Namun, seiring bertambahnya semester, sebagian mahasiswa mulai mengurangi keterlibatan mereka, memilih bertahan di satu kegiatan, atau bahkan tidak lagi aktif dalam organisasi mana pun. Perubahan ini dapat terjadi karena berbagai alasan, mulai dari jadwal kuliah yang semakin padat hingga keinginan untuk menata kembali prioritas selama menjalani kehidupan kampus.

Pada awal perkuliahan, banyaknya kegiatan yang tersedia dapat membuat mahasiswa merasa sayang jika melewatkan kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru. Bergabung dengan berbagai organisasi juga bisa menjadi cara untuk mengenal lingkungan kampus dan membangun relasi dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Keinginan tersebut sebenarnya wajar, terutama bagi mahasiswa yang sedang berada dalam proses mengenali kemampuan dan minatnya. Namun, antusiasme untuk mencoba banyak hal terkadang tidak diiringi dengan pertimbangan mengenai waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk menjalaninya. Mengikuti sebuah organisasi bukan sekadar mendaftarkan diri, melainkan juga melibatkan komitmen untuk menghadiri kegiatan, menjalankan tanggung jawab, dan berinteraksi dengan anggota lainnya. Ketika semua kegiatan mulai berjalan bersamaan dengan tugas kuliah dan kebutuhan pribadi, mahasiswa pun harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dalam waktu yang sama.

Berkurangnya keaktifan mahasiswa dalam organisasi sering kali dianggap sebagai tanda menurunnya semangat atau kurangnya komitmen. Padahal, alasan di balik perubahan tersebut tidak selalu sesederhana itu. Ada mahasiswa yang baru menyadari bahwa kegiatan yang diikutinya ternyata tidak sesuai dengan minat, ada yang perlu lebih banyak meluangkan waktu untuk akademik, dan ada pula yang merasa lebih nyaman berfokus pada satu komunitas. Karena itu, keputusan untuk meninggalkan beberapa kegiatan tidak seharusnya langsung dipandang sebagai bentuk kegagalan dalam memanfaatkan masa kuliah. Meski demikian, penting juga untuk membedakan antara keputusan yang diambil setelah mempertimbangkan kebutuhan diri dan kebiasaan meninggalkan tanggung jawab tanpa komunikasi. Belajar menentukan prioritas bukan berarti menghindari komitmen, melainkan memahami kapasitas diri sebelum memutuskan kegiatan mana yang benar-benar sanggup dijalani. Dengan begitu, mahasiswa dapat tetap terlibat secara bertanggung jawab tanpa harus memaksakan diri mengikuti semua kesempatan yang tersedia.

Pada akhirnya, kehidupan perkuliahan bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling sibuk atau mengikuti kegiatan paling banyak. Pengalaman mahasiswa tidak bisa diukur hanya dari jumlah organisasi yang tercantum dalam daftar aktivitas mereka, sebab setiap orang memiliki kebutuhan, minat, dan kemampuan mengatur waktu yang berbeda. Mengikuti banyak kegiatan dapat memberikan pengalaman berharga, tetapi berfokus pada satu organisasi atau memilih untuk tidak aktif dalam organisasi tertentu juga tidak serta-merta membuat masa kuliah menjadi kurang bermakna. Hal yang lebih penting adalah bagaimana mahasiswa menggunakan kesempatan yang tersedia untuk belajar, mengenali dirinya sendiri, dan bertanggung jawab atas pilihan yang telah dibuat. Masa kuliah memang menjadi waktu untuk mencoba berbagai hal, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Terkadang, bertumbuh bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang berhasil diikuti, melainkan tentang keberanian menentukan mana yang benar-benar ingin dipertahankan.