Budaya 6S: Solusi Meningkatan Kualitas Produk, Efisiensi Produksi

Mahasiswa Teknik Mesin, Politeknik Negeri Semarang.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Setiawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam persaingan bisnis semakin ketat perusahaan dituntut untuk mencari solusi yang dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kualitas dalam bekerja. Fenomena ini muncul akibat keinginan dari konsumen yang menuntut hasil produk berkualitas namun tetap terjangkau. . Sumber daya manusia yang unggul sangat berpengaruh dalam proses produksi. Aktivitas produksi menjadi hal terpenting dalam menjaga kualitas produk agar terhindar dari barang reject, defect maupun no good. Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk mendapatkan alternatif proses kerja yang baik, efektif dan efisien. Perusahaan yang mampu memperhatikan kualitas secara serius terhadap kedisiplinan karyawan akan berdampak menjadi efektif melalui pembelajaran nilai-nilai budaya kerja yang terkandung dalam 5S + 1S, yakni ringkas (seiri), rapi (seiton), resik (seiso), rawat (seiketsu) dan rajin (shitsuke) + keselamatan (safety).
Budaya 6S merupakan pengembang dari 5S ditambah 1, budaya 5S pertama kali di dikenalkan oleh Takashi Osada pada tahun 1980 dari jepang, sebagai bagian dari Toyota Production Sytem (TPS) untuk meningkatkan efisiensi manufaktur.Berikut contoh penerapan 6S dalam industri:
Area Kerja bersih sebelum memulai aktivitas, selama melakukan aktivitas dan setelah melakukan aktivitas (Resik).
Tempat Sampah dalam keadaan bersih.
Membuang sampah pada tempat yang sesuai dengan identifikasinya.
Tempat sampah tertutup untuk sampah makanan/minuman.
Tidak terdapat barang/material yang tidak diperlukan (Ringkas).
Area penyimpanan (Laci, Lemari, Box, dll) memiliki Identifikasi yang jelas sesuai dengan peruntukannya (Rapi).
Produk dengan penampilan yang mirip dan sulit dibedakan tidak boleh dikemas secara berdekatan, kecuali ada pemisah yang jelas secara fisik.
Identifikasi dan pemisahan yang jelas untuk barang dengan kondisi OK, NOK atau menunggu Pemeriksaan.
Produk harus disimpan menggunakan palet/wadah, hindari penyimpanan produk diatas lantai secara langsung.
Pastikan barang/material diletakkan diberi jarak dari dinding minimal 30 cm, baik di Area Produksi maupun Warehouse agar pembersihan/sanitasi lebih efektif.
Material dijaga dari kelembaban, jamur dan serangga kutu, dil).
Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai HIRADC yang diwajibkan di Area Kerja masing-masing.
Gunakan jalur Pejalan Kaki (Pedestrian) termasuk trotoar untuk berjalan.
Pintu Darurat dan Media Keselamatan (APAR, P3K, Hydrant, dll) tidak boleh terhalang oleh benda apapun.
Mematuhi rambu-rambu informasi K3 yang ada.
Dengan menerapkan 5S + 1S yaitu ringkas (seiri), rapi (seiton), resik (seiso), rawat (seiketsu) dan rajin (shitsuke) + keselamatan (safety), industri tidak hanya menciptakan tempat kerja yang lebih aman dan efisien, tetapi juga menumbuhkan tenaga kerja yang lebih disiplin, termotivasi, dan memiliki kesadaran akan kualitas. Oleh karena itu, bagi setiap tempat kerja yang bertekad mencapai keunggulan operasional dan keberlanjutan, adopsi dan komitmen terhadap budaya 6S adalah langkah strategis yang tak terhindarkan.
Bekerja dengan menerapkan 6S dapat memberikan rasa aman, nyaman, teratur dan bersih dalam bekerja sehingga meningkatkan semangat kerja para karyawan. Penerapan 6S juga dapat meningkatkan disiplin kerja sehingga menciptakan budaya kerja yang unggul dan produktif. Dapat disimpulkan penerapan budaya 6S dengan sistematis di lingkungan kerja berdampak positif bagi perusahaan.
SETIAWAN, Mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang.
Referensi:
Suwondo,C. (2012). Penerapan budaya kerja unggulan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke) di Indonesia. Jurnal Magister Manajemen, 1(1), 29–48. http://www.ejurnal.asmi.ac.id
Soesilo,R. (2017). Implementasi kaizen dan 5S pada pengeringan produk di proses plating. Jurnal Teknik Industri, 18(2), 121–126. https://doi.org/10.22219/JTIUMM.Vol18.No2.121-126
Devani,V., & Fitra, A. (2016). Analisis penerapan konsep 5S di bagian proses maintenance PT.Traktor Nusantara. Jurnal Teknik Industri, 2(2), 112–118.
Yudhanto,A. D., & Purwanto. (2020). Analisa pengaruh penerapan budaya 5S terhadap produktivitas karyawan di PT Samsung Electronics Indonesia, Bekasi. Jurnal Muara Ilmu Ekonomi dan Bisnis, 4(2), 205–215. https://doi.org/10.24912/jmieb.v4i2.7609
Taurisa, C. M. (2012). Analisis pengaruh budaya organisasi dan kepuasan kerja terhadap komitmen organisasional dalam meningkatkan kinerja karyawan (Studi pada PT. Sido Muncul Kaligawe Semarang) [Tesis magister, Universitas Diponegoro]. Repository Universitas Diponegoro. https://repository.undip.ac.id/
