Akibat Covid-19 Kedai Kopi Di Kota Tasikmalaya Mulai Banyak Bermunculan

Hallo, Saya Azri Setya Pratama dari Prodi Ilmu komunukasi 2019 UMY
Tulisan dari Azri S Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa bulan terakhir angka kenaikan pengusaha kedai kopi di Kota Tasikmalaya naik, dikarenakan oleh covid-19 yang dimana masyarakat Kota Tasikmalaya dipaksa untuk diam dirumah dan juga harus mematuhi protokol kesehatan. Tetapi meski harus mematuhi protokol kesehatan para pengusaha di Kota Tasikmalaya yang khususnya dibidang kedai kopi tetap tertib tanpa adanya melawan ke aparat tentang dimana jadwal penutupan kedai jangan lebih dari jam 8 malam.
Dengan adanya protokol kesehatan dari pemerintah yang menghimbau diharuskan memakai masker bagi penjual dan pembeli juga harus ada sarana hand senitizer atau sabun cuci tangan juga kedai kopi harus tutup jam 8 malam. Dan jika kedai kopi tersebut tidak tutup setelah jam 8 malam maka akan ada polisi yang mengecek keadaan di kedai kopi tersebut dan membubarkannya, lalu jika kedai kopi tersebut terus menerus menentang hal itu maka kedai kopi tersebut akan di segel.
Kenaikan pesat angka pengusaha baru di Kota Tasikmalaya bukan hanya di karenakan oleh dampak dari pandemi Covid-19 tetapi memang dalam beberapa tahun kebelakang juga sudah banyak pengusaha pengusaha baru yang muncul karena memang Kota Tasikmalaya bukan hanya dikenal sebagai kota santri saja melainkan Kota Tasikmalaya juga dikenal sebagai kota penghasil kerajinan “ Kelom Geulis, Batik, Payung Geulis, Bordir, dan Anyaman rotan, “ tetapi yang menjadi perhatian adalah dimasa pandemi ini dimana daerah lain sibuk usaha dirumah tetapi di Kota Tasikmalaya banyak kedai kopi yang bermunculan.
Seperti yang dikatakan oleh Eza Muhammad selaku barista di kedai kopi AFDHOL di daerah Panumbangan, Jum’at (22/10/2020). Ia mengatakan bahwasanya ada yang berbeda terkait omzet kedai kopi 1 bulan kebelakang.
“Omzet usaha kedai kopi pada 1 bulan kebelakang mengalami kenaikan karena banyak mahasiswa ataupun siswa SMP SMA yang ikut mengerjakan tugas online mereka di kedai kopi AFDHOL yang mana memeberikan dampak baik bagi kedai kopi,” Ungkapnya.
Padahal, Lanjut Eza, seharusnya dengan ada penurunan omzet tetapi alhamdullah masih banyak orang yang berkunjung ke kedai kopi AFDHOL. Tetapi masih banyak juga kedai kopi ditasik yang memang mengalami penuruna omzet dikarenakan dampak pandemi covid-19 ini, yang dimana menandakan tidak semua kedai kopi mengalami kenaikan omzet karena dampak pandemi ini.
Padahal jika dilihat dari penghasilan nasgor, pecel lele dan sate yang dipinggir jalan mereka terlihat bebas meski dengan adanya protokol kesehatan yang harus dipahami, kemudian yang membuat penurutan omzet juga dimana setiap kedai kopi si pendatang diwajibkan menjaga jarak setidaknya 1 meter, ini sangat merugikan pegusaha kopi yang memang tidak mempunya tempat yang besar.
Tetapi setiap kedai juga seharusnya mempunyai solusi untuk menangani dampak merugikan dari pandemi ini misalkan dengan menyediakan take away dan adanya delivery order seperti yang dilakukan oleh kedai kopi AFDHOL sebagaimana yang dikatakan oleh Eza Muhammad.
“ Kami menyediakan take away dan delivery order bagi pelanggan yang memang ingin menjaga jarak ataupun ingin menikmati kopi nya dirumah, ini juga sebagian dari strategi marketing yang kedai kopi AFDHOL lakukan un
tuk mengurangi pengurangan omzet, “ Ungkapnya.
Sebenarnya tidak ada hal yang mustahil selagi kita bisa mengolahnya, dan memang dengan konsep nya berwirausaha itu tidak selalu jalan dari usaha tersebut bisa berjalan dengan baik dengan banyaknya kedai kopi yang mulai bermunculan di Kota Tasikmalaya ini menjadi alasan dimana tidak ada kata menyerah selagi memang kita masih mempunyai ide yang bisa dirubah menjadi uang.
