Kampung Inggris Pare Dalam Tinjauan Psikologi

Tulisan dari Setyo Brotoadmodjo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pare adalah salah satu Kecamatan di Kediri Jawa Timur, dari Surabaya kurang lebih 3 jam menggunakan perjalanan darat. Di kecamatan ini terdapat kurang lebih 300 lembaga Kursus Bahasa (Inggris, Arab, Mandarin, dll) dengan Fasilitas yang memadai (ATM, Loundry, Fasilitas Ibadah, Warnet, Tempat Makan, dll) dan dengan harga yang tidak begitu mahal.
Dalam beberapa literatur, Kampung Inggris ini pertama kali dirintis oleh KH.Yazid Ibnu Tohir, tidak heran jika cara belajar disana hampir sama dengan cara belajar di Pondok Pesantren.
Banyak hal yang dapat kita ketahui tentang Pare dengan hanya mengetikkan kata Pare di key word Google terutama mengenai
. Namun bagaimanakah Pare dalam pandangan Psikologi dan sumbangan Pare terhadap Psikologis masyarakat Indonesia pada umumnya dan Pelajar khususnya?
Dari hasil SNMPTN Tahun 2017 ini Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, diketahui bahwa hanya sekitar 14,36 persen pendaftar SBMPTN yang dinyatakan lulus di 85 PTN di tahun ini(2017). Untuk SNMPTN hanya sekitar 19,8 persen yang dinyatakan lulus. Dari kedua data tersebut dapat diketahui bahwa terdapat banyak anak-anak yang tidak lulus seleksi untuk memasuki perguruan tinggi yang mereka inginkan.
Hal ini berdampak pada Psikologis mereka. Banyak dari mereka kebingungan akan melakukan apa. Bahkan dalam Observasi yang dilakukan kecil-kecilan oleh penulis ke 5 orang yang tidak lulus dalam seleksi masuk perguruan tinggi mengatakan bahwa ketidak lulusan tersebut membuat mereka low motivation, malu, tidak percaya diri, dll.
Dalam hal ini 3 dari 5 orang menyatakan bahwa jalan yang lain selain kuliah adalah pergi ke Pare. Pra-anggapan mereka terhadap Pare adalah sebuah tempat yang menyediakan banyak kursusan, kehidupan murah, guru-guru yang baik dan lingkungan yang mendukung. Dan mereka secara Psikologis mengharapkan Pare menjadi tempat untuk memberikan sumbangsih agar motivasi mereka kembali naik.
Dalam hal ini kita dapat mengetahui bahwa Pare menjadi harapan kebanyakan Siswa yang belum beruntung mendapatkan kursi perkuliahan. Dan hasil dari salah seorang teman yang pernah gagal masuk perkuliahan kemudian ke Pare adalah sebuah kenaikan motivasi yang sangat tinggi.
Contohnya pada teman saya yang pernah kursus di Pare selama 3 bulan semasa dia menunggu masa pendaftaran kembali Mahasiswa Baru. Dia mengatakan bahwa sumbangan Pare akan motivasi yang melonjak begitu tajam adalah sangat besar. Faktor lain selain karena lingkungan belajar juga adalah lingkungan pertemanan. Katanya, disana banyak yang mengalami hal serupa dan karena kesamaan rasa tersebut mereka membuat sebuah rencana baru bersama. Itu adalah salah satu pengaruh Psikologis secara individual yang dapat menyebabkan Pelajar khususnya agar tidak menganggur sehingga mengurangi beban negara, juga tidak membuat Pelajar melakukan hal-hal yang negativ disaat mereka memiliki jadwal yang kosong.
Selain pengaruh Psikologis secara Individual, pengaruh Psikologis massa juga didapatkann di Pare. Seperti pengaruh Psikologis satu Bangsa karena disana tempat bercampur antara beberapa pelajar dari Kota yang berbeda-beda sehingga membentuk paham Bhinneka Tunggal Ika yang kuat.
Selain beberapa Hasil Psikologis yang baik dari para peserta belajar, diharapkan pula Pare menjadi tempat membaiknya Psikologis masyarakat Pare tersebut. Bukan hanya sisi Psikologis Ekonomi yang membaik, tapi juga Psikologis perlombaan agar saling berlomba ke kelebih baikan lembaga atau daerah, juga Psikologis masyarakat dalam menumbuhkan Bhinneka Tunggal Ika mereka sendiri dan mewujudkan pra-anggapan para pemimpi Pare.
