Konten dari Pengguna

Film Horor Religi: Dakwah atau Dagangan?

Setyo Pinandito

Setyo Pinandito

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Setyo Pinandito tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi agama Islam dalam representasi film horor Indonesia (Sumber Foto: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi agama Islam dalam representasi film horor Indonesia (Sumber Foto: AI)

Hantu mengamuk, keluarga ketakutan, lalu seorang ustaz datang, membaca ayat, dan setan kalah. Lampu menyala, musik mereda, penonton lega. Kita semua hafal polanya. Formula ini sudah begitu sering diulang sampai kita jarang bertanya: kenapa hantu-hantu kita selalu takut pada ayat?

Jawabannya tidak sesederhana “karena masyarakat kita religius”. Unsur agama di horor Indonesia lahir dari kewajiban sensor, bertahan karena menguntungkan, dan kini perlu dipertanyakan: masih bermakna, atau sudah jadi formula?

Warisan Sensor

Akar kebiasaan ini bisa ditelusuri ke era Orde Baru. Kode Etik Produksi Film 1981 yang diterbitkan Menteri Penerangan Ali Murtopo mengharuskan film memuat pesan moral dan agama agar lolos sensor. Akibatnya, setan nyaris selalu dikalahkan kiai atau tokoh agama, seperti dalam film-film Suzanna, Sundel Bolong dan Ratu Ilmu Hitam. Agama hadir bukan karena cerita membutuhkannya, melainkan karena aturan menuntutnya. Tak heran para peneliti menyebut karakter kiai dan ustaz di film-film itu sering tidak menyatu dengan alur.

Yang menarik, ketika aturan itu hilang, unsur agama ikut menghilang. Horor awal Reformasi, seperti Jelangkung (2001), tampil dengan wajah baru dan tidak lagi bergantung pada tokoh agama. Artinya, agama bukan “kodrat” genre horor Indonesia. Ia bisa dilepas, dan memang pernah dilepas.

Lalu Kenapa Kembali?

Karena pasar. Pada 2024, enam dari delapan film Indonesia terlaris adalah horor, dan Siksa Kubur sendiri ditonton sekitar empat juta orang. Bagi produser, formula yang laku adalah formula yang diulang. Ada pula alasan budaya: bagi banyak penonton, urusan gaib dan agama memang tidak terpisah. Ayat dan doa terasa dekat, sehingga cerita jadi lebih meyakinkan.

Joko Anwar, sutradara Siksa Kubur, menilai wajar jika film horor memuat nilai religi, bahkan bisa berfungsi sebagai dakwah. Tapi ia juga menegaskan bahwa unsur agama tidak semestinya dipakai hanya untuk menciptakan adegan seram. Garis batas inilah yang menurut saya menentukan segalanya.

Garis Yang Sering Dilanggar

Sutradara Gina S. Noer pernah mengkritik tren ini: unsur agama yang mestinya memperkuat keyakinan malah direduksi menjadi jalan pintas untuk jumpscare. Kritik ini terasa tepat. Ketika ayat suci hanya berfungsi sebagai tombol “hantu mundur”, ia berhenti menjadi simbol iman dan berubah menjadi properti. Para peneliti menyebut gejala ini desakralisasi: hal yang dianggap suci diturunkan derajatnya menjadi alat untuk menakut-nakuti.

Polemik film Kiblat menunjukkan masalah serupa dari sisi pemasaran. Judul dan poster yang memakai istilah religius dengan tampilan menyeramkan memicu seruan boikot dan kekhawatiran bahwa Islam dieksploitasi demi keuntungan. Terlepas dari pro-kontranya, kasus ini memperlihatkan betapa tipis jarak antara mengangkat agama dan menjual agama.

Bukan soal ada atau tidaknya agama

Di sini saya tidak sedang bilang horor sebaiknya steril dari agama. Itu tidak realistis, dan tidak adil bagi film yang memang mengolahnya dengan serius. Siksa Kubur contohnya: ia menjadikan ajaran tentang kehidupan setelah mati sebagai bahan renungan, bukan sekadar alat menakut-nakuti. Di film seperti itu, agama punya peran dalam cerita.

Masalahnya ada pada film yang memakai agama sebagai kosmetik. Tokoh ustaznya datar, doanya cuma pelengkap, dan kesalehan dijadikan pemicu rasa takut, bukan bahan perenungan. Yang dikorbankan bukan hanya mutu film, tapi juga agama itu sendiri, yang direduksi jadi mantra.

Penutup

Horor religi bisa menjadi dakwah, bisa juga dagangan. Bedanya terletak pada keberanian pembuatnya. Maukah kita melihat horor yang bertanya soal iman, keraguan, dan rasa bersalah, bukan sekadar mengusir setan? Selama formula lama masih laku, mungkin tidak ada alasan untuk berubah. Tapi penonton juga punya suara. Setiap tiket yang kita beli adalah pilihan: mau terus ditakut-takuti, atau mau diajak berpikir.