Pilih Jurnal Tujuan Sebelum Menulis Artikel Ilmiah
Tulisan dari SEVIMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menentukan jurnal sasaran sejak awal dinilai menjadi langkah penting sebelum dosen mulai menyusun artikel ilmiah. Pemilihan itu bukan pekerjaan terakhir setelah naskah selesai, karena gaya penulisan, struktur artikel, ruang lingkup, sampai aturan teknis setiap jurnal dapat berbeda.
Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Kristen Indonesia Paulus, Prof. Apriana Toding, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D. dalam webinar ‘Strategi Penyusunan Artikel Jurnal Bereputasi untuk Indeks SINTA’ yang digelar secara daring melalui Zoom, Selasa, 31 Maret 2026. Ia menjelaskan bahwa penulis perlu mengetahui terlebih dahulu ke mana artikel akan dikirim agar naskah disusun sesuai karakter jurnal tujuan.
"Kita pastikan bahwa kita harus memilih jurnal tujuan kita untuk men-submit artikel kita," kata Apriana Toding.
Memilih Jurnal Tujuan Bukan Sekadar Melihat Peringkat
Menurut Apriana Toding, target jurnal perlu dipelajari dari cara jurnal menyajikan pendahuluan, metode, hasil, diskusi, dan kesimpulan. Karena itu, pemilihan jurnal tidak cukup hanya dengan melihat reputasi atau peringkat indeksnya.
"Jurnal yang kita tuju adalah jurnal yang sesuai dengan kepakaran kita," ujar Apriana Toding.
Kesesuaian ruang lingkup juga menjadi perhatian penerbit internasional. Dikutip dari laman berjudul ‘Choose a journal’ di website Springer Nature, penulis diminta membaca aims and scope untuk memastikan riset sesuai dengan bidang khusus jurnal yang dituju sebelum melakukan submission.
Kesesuaian ini penting karena artikel yang baik sekalipun dapat berhenti pada tahap awal bila topiknya berada di luar cakupan jurnal. Dikutip dari artikel berjudul ‘Common reasons for rejection’ di website Springer Nature, out of scope dan tidak mengikuti struktur atau persyaratan format jurnal termasuk alasan editorial yang dapat menyebabkan naskah ditolak.
Dengan demikian, pencarian jurnal tujuan dapat dilakukan sebelum naskah ditulis penuh. Penulis dapat mulai dari kata kunci utama penelitian, melihat jurnal yang konsisten menerbitkan topik serupa, lalu membaca beberapa artikel terbaru dari jurnal tersebut.
Baca Artikel yang Sudah Terbit di Jurnal Sasaran
Apriana Toding menyebut penulis perlu membaca cara jurnal tujuan menyajikan bagian-bagian utama manuskrip. Langkah ini memberi gambaran nyata mengenai panjang pendahuluan, pola pembahasan metode, cara menampilkan tabel, serta seberapa dalam diskusi dikembangkan.
"Sehingga sangat-sangat penting bagi rekan sebelum menulis artikel, menulis menyusun hasil penelitiannya pastikan dulu cari akan jurnal tujuannya," jelas Apriana Toding.
Praktiknya dapat dimulai dengan tiga pemeriksaan sederhana. Pertama, cocokkan fokus penelitian dengan aims and scope. Kedua, baca author guidelines dan template terbaru. Ketiga, buka artikel yang sudah diterbitkan untuk melihat pola penyajian yang benar-benar digunakan oleh jurnal, bukan hanya format umum yang biasa dipakai penulis.
Langkah tersebut juga membantu penulis mengetahui apakah hasil dan diskusi disatukan atau dipisah, berapa jumlah kata abstrak, bagaimana format kata kunci, model sitasi yang digunakan, serta jenis file tambahan yang harus disiapkan ketika submit.
Bagi penulis yang menargetkan jurnal bereputasi, pekerjaan ini dapat mengurangi revisi teknis setelah manuskrip selesai. Naskah tidak perlu dibongkar besar hanya karena struktur, sitasi, jumlah kata, atau format tabel ternyata tidak sesuai ketentuan jurnal sasaran.
Kepakaran Harus Bertemu dengan Ruang Lingkup Jurnal
Dalam pemaparannya, Apriana Toding juga menekankan hubungan antara kepakaran penulis dan jurnal tempat artikel diterbitkan. Artinya, pilihan jurnal sebaiknya tidak semata mengejar label indeks tertentu, tetapi juga mempertimbangkan apakah substansi artikel relevan dengan rekam jejak akademik penulis.
Pendekatan ini dapat diterapkan dengan membuat daftar pendek jurnal. Setiap jurnal kemudian diperiksa dari empat sisi: kesesuaian topik, jenis artikel yang diterima, format manuskrip, dan artikel-artikel terbaru yang memiliki kedekatan tema. Setelah itu, penulis dapat menentukan satu jurnal utama dan beberapa alternatif yang tetap berada dalam rumpun keilmuan yang sama.
Pemeriksaan juga perlu dilakukan terhadap status jurnal secara berkala. Informasi pada website jurnal, halaman penerbit, serta basis data indeks perlu dibandingkan untuk menghindari keputusan berdasarkan informasi lama atau hanya rekomendasi dari pihak ketiga.
Jangan Menulis dengan Format Generik
Kesalahan yang berisiko terjadi adalah menyelesaikan artikel dalam format generik, lalu baru mencari jurnal setelah seluruh bagian dianggap final. Cara ini membuat penulis harus menyesuaikan kembali struktur, jumlah kata, referensi, tabel, gambar, dan gaya sitasi ketika jurnal sasaran sudah dipilih.
Karena itu, memilih jurnal tujuan dapat ditempatkan sebagai bagian dari perencanaan penulisan, bukan sekadar administrasi submission. Penulis tetap harus menjaga independensi ilmiah dan tidak meniru isi artikel lain, tetapi dapat mempelajari cara jurnal mengemas penelitian yang sesuai dengan pembacanya.
Pada akhirnya, memilih jurnal tujuan lebih awal membuat proses penulisan bergerak dalam koridor yang jelas. Manuskrip disusun sejak awal untuk pembaca, ruang lingkup, dan ketentuan teknis yang nyata, sehingga risiko salah kirim dan perombakan besar menjelang submission dapat ditekan.
Matriks Jurnal Membantu Menentukan Prioritas
Daftar pendek jurnal dapat dibuat dalam matriks sederhana. Kolomnya berisi scope, jenis artikel, batas kata, aturan referensi, format tabel, dan status indeks yang relevan. Matriks membuat keputusan lebih transparan ketika tim memiliki beberapa pilihan jurnal.
Penulis juga dapat mencatat tiga sampai lima artikel terbaru yang paling dekat dengan topik riset. Catatan itu bukan untuk meniru isi, melainkan memahami pertanyaan yang sedang dibahas komunitas ilmiah, istilah yang dipakai, dan standar bukti yang lazim diminta. Dengan cara ini, penulis mengetahui sejak awal kepada komunitas pembaca mana penelitian ditujukan.
Pemilihan jurnal tujuan kemudian dapat dikunci sebelum penulisan akhir, sementara satu atau dua jurnal alternatif disimpan jika naskah perlu dialihkan setelah proses editorial.

