Konten dari Pengguna

Prof Imas: Research Gap dan Novelty Jadi Bagian Penting Artikel Ilmiah Dosen

Prof Imas: Research Gap dan Novelty Jadi Bagian Penting Artikel Ilmiah Dosen
zoom-in-whitePerbesar

Kemampuan menemukan research gap dan novelty menjadi salah satu kunci yang perlu dikuasai dosen saat menyusun artikel ilmiah untuk jurnal bereputasi.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Imas Maisaroh, menjelaskan penelitian tidak cukup hanya mengangkat sebuah persoalan. Peneliti perlu menunjukkan apa yang belum dijelaskan penelitian sebelumnya serta kontribusi baru yang ditawarkan penelitiannya.

Menurut Prof. Imas, alurnya dapat dimulai dengan membandingkan kondisi ideal dan realitas. Perbedaan tersebut melahirkan masalah, kemudian dari masalah ditarik kesenjangan penelitian atau research gap.

Research gap selanjutnya menjadi dasar untuk menjelaskan urgensi dan kontribusi penelitian.

"Nah, penelitian terdahulu ini untuk kemudian kita mendiskusikan apa nih gaps dan kemudian novelty," kata Prof. Imas dalam webinar kolaborasi SEVIMA dan Kopertais Wilayah VII.

Dalam menyusun pendahuluan, peneliti perlu menunjukkan fenomena yang diteliti, masalah konkret di lapangan, penelitian terdahulu yang relevan, kesenjangan penelitian, tujuan penelitian, hingga kebaruan yang ditawarkan.

Prof. Imas menyarankan peneliti memasukkan data atau fakta untuk memperkuat adanya masalah. Sumbernya dapat berasal dari statistik, laporan resmi, penelitian terdahulu, maupun artikel jurnal terkini.

Setelah masalah diperjelas, dosen dapat memilih beberapa penelitian sebelumnya yang paling relevan untuk mengetahui posisi penelitiannya.

Dari perbandingan tersebut dapat terlihat aspek yang sudah banyak dibahas dan aspek yang masih belum digali.

Menurut Prof. Imas, reviewer juga akan memperhatikan apakah sebuah artikel benar-benar mempunyai research gap atau sekadar mengulang penelitian terdahulu.

Kebaruan kemudian perlu dijelaskan secara spesifik. Peneliti harus mampu menjawab apa yang membuat penelitiannya berbeda serta nilai tambah apa yang diberikan dibanding penelitian sebelumnya.

Ia juga mengingatkan bahwa paragraf pendahuluan perlu mempunyai struktur yang jelas.

Satu paragraf idealnya mempunyai gagasan utama, penjelasan atau bukti pendukung, dan bagian penutup yang menghubungkan pembahasan menuju paragraf berikutnya.

Dengan demikian, pendahuluan tidak menjadi kumpulan kutipan yang berdiri sendiri.

Prof. Imas menekankan pentingnya rujukan dalam bagian pendahuluan.

Setiap penjelasan yang berfungsi mendukung gagasan utama perlu diperkuat sumber. Hal tersebut sekaligus membantu dosen memastikan argumen yang dibangun mempunyai basis akademik yang dapat ditelusuri.

Kemampuan membangun research gap juga menjadi semakin penting ketika dosen ingin menerbitkan artikel pada jurnal dengan standar seleksi tinggi.

Peneliti bukan hanya perlu menjelaskan bahwa suatu fenomena menarik, tetapi juga membuktikan bahwa masih terdapat persoalan ilmiah yang layak dijawab.

Dengan pola tersebut, novelty tidak ditempatkan sekadar sebagai kalimat yang menyatakan penelitian "berbeda".

Kebaruan lahir dari pembacaan sistematis terhadap penelitian terdahulu, pemetaan persoalan, serta argumentasi mengenai hal yang belum terjawab.