Komedi

Humor dan Intelektualisme

Seno Gumira Ajidarma lahir tahun 1958. Bekerja sebagai wartawan sejak tahun 1977. Menulis fiksi maupun nonfiksi, dalam media massa maupun jurnal ilmiah, mendapat sejumlah penghargaan sastra, dan mengajar di berbagai perguruan tinggi.
26 Desember 2021 10:14
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Darminto M. Sudarmo (1956-2021) tentunya tergolong manusia langka: spesialisasinya humor, tetapi beliau bukan pelawak—yang istilahnya sekarang dibagus-bagusin sebagai ‘comedian’ itu, meski tugasnya masih sama, membuat orang tertawa. Kalau beliau pelawak, meski para pelawak sering dengan bangga menyatakan “nggak ada sekolahnya”, masihlah belum kelewat langka. Tentu, karena dengan spesialisasi humornya itu, alih-alih bikin tertawa, Darminto membuat orang berpikir: bagaimana caranya humor berjaya untuk menunjukkan martabat manusia—yakni humor tanpa penghinaan ala media sosial
Jejak serupa tentu berasal dari langkah Arwah Setiawan. Seperti Arwah pula, Darminto berjuang agar humor tidak tumbuh sebagai subkultur yang mempunyai banyak alasan untuk dilecehkan. Buku Darminto yang berulangkali terbit sebagai edisi baru, Anatomi Lelucon di Indonesia (2017), layak mendapat blurb pada sampulnya: sering dicari untuk bahan skripsi mahasiswa. Kenapa tidak? Dalam edisi mutakhir yang diterbitkan Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3), dapat diikuti bagaimana Darminto menggarap dan memperbarui isinya dengan sungguh-sungguh. Seperti tahu, setelah kepergiannya pada 21 Desember 2021 lalu di Kaliwungu—yang pernah menjadi pusat perkartunan nasional—tak akan bisa lagi melakukan revisi.
Bukan sekadar standar teknis-ensiklopedis dunia humor dipenuhinya, tetapi posisi Darminto sendiri sebagai “ensiklopedi berjalan” dalam humor Indonesia membuat informasi bukunya eksklusif: di mana lagi khalayak bisa menjumpai catatan dan ulasan atas kiat lawakan Mang Udel dan Mang Cepot misalnya dari tahun 1950-1960-an, sampai kepada fenomena studi humor di Indonesia masa kini? Bersama dengan aktifnya Darminto sebagai wartawan humor, penulis humor, kartunis, dan terlebih lagi aktivis humor, pertemanannya dengan kaum humoris menempatkan Darminto dalam posisi yang tak bisa lebih menguntungkan lagi untuk beropini seperti berikut:
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanplus
Dalam teori warung kopi saya, setidaknya ada tiga penyebab kurangnya pengetahuan: (1) malnutrisi atau kurang gizi; (2) kurang membaca; (3) terjebak kuasa wacana. Kolom Seno Gumira Ajidarma di kumparanplus. Rutin tiap Minggu.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten