Konten dari Pengguna

Bohong yang Merugikan Diri Sendiri? Waspadai Kebohongan Patologis

Ilustrasi seseorang yang sering berbohong. Made with Canva
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seseorang yang sering berbohong. Made with Canva

Kebohongan Patologis: Ketika Bohong Menjadi ‘Penyakit’

Siapa yang tidak pernah berbohong dalam hidupnya? Memang kenyataan itu terkadang menyakitkan, ada hal-hal yang menurut sebagian besar orang lebih baik disembunyikan dengan berbohong. Biasanya tujuannya adalah untuk melindungi diri dari hal-hal sepele seperti takut dimarahi, takut terlihat memalukan, takut dipaksa melakukan sesuatu, atau bahkan melingungi diri dari hal-hal yang mengancam nyawa dan juga dipakai untuk mencapai suatu tujuan. Dalam kasus kriminal pun ada yang disebut dengan alibi, pernyataan untuk melindungi diri dari tuduhan yang bisa saja merupakan pernyataan bohong atau dalih. Dari sini kita tahu bahwa kebohongan adalah sesuatu yang menjaga ‘harga diri’ atau membebaskan seseorang dari ‘tuntutan’, tanggung jawab bahkan untuk mempertahankan egonya. Namun, ada sebagian orang yang bisa berbohong meskipun kebohongan tersebut tidak memberikan manfaat apa-apa baginya. Perilaku ini disebut dengan Pathological Lying atau kebohongan patologis.

Apa Itu Kebohongan Patologis?

Mengutip dari Collins dictionary, patologis (patological) dalam psikologi adalah gangguan di mana individu bertingkah berlebihan, tidak wajar, dan tidak dapat diterima serta memiliki perasaan yang sangat kuat yang sulit mereka kendalikan. Patologis disebut juga sesuatu yang berhubungan dengan penyakit atau gangguan. Dengan demikian, kebohongan patologis merupakan suatu penyakit mental—yang tidak resmi/bukan gangguan yang berdiri sendiri—yang membuat penderitanya terus menerus menyatakan kebohongan tanpa alasan yang jelas atau tanpa memikirkan konsekuensinya. Ini tentu bertolak belakang dengan kebiasaan berbohong pada umumnya. Orang yang sering berbohong umumnya memang suka sekali mengarang cerita, tetapi untuk pembohong patologis, kebohongan mereka cenderung merugikan diri mereka sendiri atau malah tidak bermanfaat sama sekali. Kebohongan-kebohongan yang mereka ucapkan bersifat kompulsif (dorongan yang kuat).

Pembohong patologis itu rumit, tidak jelas apakah mereka sadar bahwa yang mereka katakan itu tidak benar, yang jelas, beberapa teman mereka mungkin percaya dengan apa yang mereka katakan karena ‘kepintaran’ mereka dalam membuat cerita. Dalam konteks lain, perilaku ini juga oleh para psikiater disebut dengan pseudologica fantastica, keadaan di mana individu suka mencampurkan fantasi atau imajinasi mereka dengan fakta-fakta aktual sehingga terdengar seperti nyata. Gangguan ini memang tidak dicantumkan sebagai diagnosis resmi buku panduan psikiatri yang disebut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-V), tetapi psikiater menyatakannya sebagai masalah yang patut menjadi perhatian.

Dalam beberapa kasus, pembohong patologis baru akan mengakui bahwa mereka berbohong setelah kebohongan mereka terbukti tidak benar. Salah satu kasusnya datang dari seorang hakim Pengadilan Tinggi Wilayah Los Angeles, California bernama Patrick K. Couwenberg yang diberhentikan dari jabatannya pada hari Rabu tahun 2001 oleh komisi yudisial negara bagian setelah berulang kali berbohong tentang latar belakang dan kualifikasinya. Ia berbohong untuk menjadi hakim dan terus berbohong setelah ia menjadi hakim.

Ia telah banyak menyebarkan informasi palsu kepada pengacara dan wartawan seperti yang dilakukannya dalam komisi. Ia mengaku sebagai lulusan Caltech Loyola Law School, seorang veteran perang Vietnam yang menerima penghargaan Purple Heart atas luka-luka yang dideritanya—termasuk serpihan logam yang katanya masih tertanam di selangkangannya, memiliki gelas magister psikologi, dan dibawah sumpah mengaku pernah menjadi agen CIA untuk operasi rahasia di Laos dan Afrika, padahal dengan kenyataan bahwa dia sebenarnya berkuliah di Chaffey College, Cal Poly Pomona, dan La Verne College of Law, pernah bertugas di Cadangan Angkatan Laut AS, dan bekerja sebagai pekerja sosial daerah selama periode yang ia klaim sebagai misi rahasia, sudah cukup baginya untuk dimasukkan ke dalam dokumen kualifikasi hakim.

Ia berdalih tidak pernah dengan sengaja memberikan informasi yang salah di mana istrinya yag mengetikkan dokumen saat aplikasi yudisialnya. Ia mengaku telah berbohong kepada istrinya tentang latar belakangnya beberapa dekade lalu, sehingga istrinya mengulangi kebohongan itu bertahun-tahun kemudian dan bahwa pernyataan-pernyataan lain yang ia buat itu hanyalah lelucon. Namun, ia tetap bersikukuh bahwa dirinya pernah berada di Laos. Pengacaranya mengatakan bahwa Patrick mengalami kondisi tersebut akibat trauma masa kecil yang dialaminya di Indonesia di tempat ia lahir pada tahun 1945 saat kemerdekaan, di mana Patrick kecil tidak dapat berbicara sampai ia berusia 5 tahun. Ia mengatakan bahwa Patrick dibesarkan di kamp konsentrasi dan telah menjalani terapi setelahnya. Namun, komisi menyatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti adanya kondisi mental yang dapat dijadikan alasan atas pelanggaran yang dilakukan Couwenberg.

Kasus selanjutnya berasal dari Janie Santana, seorang ibu di Houston, Texas, Amerika Serikat yang berbohong bertahun-tahun pada banyak orang bahwa anak laki-lakinya, Rudolf Farias, menghilang sejak 2015. Janie padahal mengurung anaknya sendiri di rumah dan ia terus menyebarkan kabar lewat sosial media untuk menarik simpati publik tentang menghilangnya Rudolf. Ia sangat suka bermain sosial media dan selama “pencarian anaknya” pun, tulisan-tulisannya di platform kesukaannya, Facebook, memuat banyak skenario yang dibuatnya. Ia bukan hanya berniat menggalang dana menggunakan nama anaknya yang menghilang, namun juga untuk mencari perhatian. Janie dari dulu sangat suka bermain sosial media, ia haus perhatian sampai-sampai pernah membuat lebih dari tiga akun palsu di Facebook yang akhirnya ia gunakan sendiri untuk mengomentari akun-akunnya yang lain sehingga terlihat seperti banyak orang yang berinteraksi dengannya.

Ia mengurung Rudolf dengan mengatakan bahwa anaknya itu sedang menjadi buronan polisi untuk dihukum atas tilang yang pernah didapatkannya karena melanggar lalu lintas. Rudolf benar-benar percaya karena dirinya yang cenderung lugu. Tetangga-tetangganya saat ditanyai bahkan tidak tahu bahwa Janie kehilangan anaknya dan bahkan hampir setiap hari melihat Rudolf di sekitar rumahnya sampai akhirnya mereka sadar bahwa foto Rudolf yang ada di koran itu adalah orang yang sama dengan anak Janie yang mereka lihat selama ini.

Janie menipu para detektif yang membantunya bahwa penculik Rudolf adalah orang Mexico dengan membuat sebuah percakapan online palsu menggunakan dialek Mexico janggal yang kemudian ketahuan oleh mereka. Kebohongan berlanjut dengan pengaduan Janie ke polisi bahwa ia pernah dirampok oleh orang tidak dikenal dan mengatakan bahwa orang itu lari ke Mexico yang ketika ditanya bagaimana ia tahu orang itu lari ke sana, ia tidak dapat menjawab.

Kedua kasus di atas sudah cukup menjelaskan bagaimana seorang pembohong patologis, bahkan dari orang yang penting seperti hakim sekalipun. Perilaku ini dapat berkaitan dengan gangguan yang disebut histrionik (Histrionic Personality Disorder atau HPD), gangguan yang disebut "cluster B" atau gangguan kepribadian yang dramatis atau liar di mana seseorang sangat ingin menjadi pusat perhatian. Mereka sering kali bertingkah laku secara dramatis bahkan melakukan hal tidak pantas demi perhatian. Histronic sendiri berarti "dramatis atau teatrikal”. Berbohong patologis dapat berkaitan juga dengan gangguan kepribadian anti-sosial dan narsistik.

Bagaimana cara mengetahui seseorang berbohong patologis?

Tentunya mengesalkan menjadi orang yang dibohongi apalagi bukan hanya sekali dua kali. Jadi, dengan mengetahui ciri-ciri dari pembohong patologis, kita bisa menempatkan diri kita untuk memberi bantuan atau bahkan membuat jarak dengan mereka.

1. Terus menerus berbohong. Ketika apa yang mereka pernah katakan atau ceritakan terbongkar, mereka akan membuat kebohongan lain untuk menutupi kebohongan sebelumnya,

2. Cerita mereka terdengar tidak masuk akal atau memang secara logika tidak bisa diterima

3. Cerita mereka konsisten namun tidak dapat dibuktikan dan dapat juga berubah-ubah seiring waktu

4. Berbohong tanpa adanya motif yang jelas atau malah dapat menyakiti mereka sendiri ketika ternyata apa yang mereka katakan terbukti tidak benar,

5. Jika kita memang sudah tahu mereka berbohong dan menuduh mereka, mereka akan marah dan sangat yakin bahwa mereka benar. Mereka juga tidak suka jika pernyatannya diragukan oleh orang yang curiga mereka berbohong,

6. Mereka cepat dalam berpikir seperti merespons atau mengarang sehingga cerita atau kesaksian mereka terdengar real,

7. Mereka kurang empati. Mereka bisa jadi sangat egois atau mementingkan diri sendiri,

8. Mereka biasanya punya riwayat masalah dalam hubungan sosial/interpersonal.

Cara Menghadapi Orang yang Sering Berbohong

Pastinya tinggal maupun berteman atau kenal dengan seseorang yang sering berbohong membuat kita merasa tidak nyaman. Untuk itu, menurut WebMD, cara agar dapat menghadapi maupun mempertahankan hubungan dengan orang seperti ini adalah:

1. Tetap tenang. Seperti yang sudah dijelaskan, mereka yang sering berbohong cenderung bereaksi buruk saat kita menuduh atau menunjukkan emosi seperti marah. Jadi tetaplah tenang agar-

2. Tidak terpancing atau tidak terlibat dalam kebohongan. Jangan ikut-ikutan terlibat kebohongan mereka atau mendukung kebohonga mereka karena justru hal itu bisa memperkuat perilaku mereka,

3. Bantulah mereka untuk menerima pengobatan, karena kebohongan adalah perilaku yang membuat tekanan mental bagi seseorang. Terlebih, kebiasaan ini dapat sewaktu-waktu membahayakan diri mereka sendiri.

Pembohong patologis cenderung berbohong karena dorongan batin yang kuat, kebanyakan bukan untuk keuntungan konkret. Kebohongan mereka kerap rumit, besar, dan bisa berkembang sendiri, serta sering merusak hubungan dan kesejahteraan. Meskipun bukan gangguan resmi, ada bukti klinis yang kuat untuk memandangnya sebagai kondisi psikologis yang nyata.

Bonus: https://www.youtube.com/watch?v=FcaW0Xt7ptA&pp=ygUbcGF0cmljayBrYXUgcGVtYm9ob25nIDEgamFt

REFERENSI:

‘I was brainwashed:’ Rudy Farias speaks out on fabricating disappearance for 8 years. (2023, Juli 12). ABC7 San Francisco / KGO-TV. Diakses dari https://abc7news.com/post/rudy-farias-interview-what-happened-to-why-did-fake-being-missing-where-was/13491399/

Collins English Dictionary. (n.d.). pathological. In Collins English Dictionary. Diakses pada 21 Juli, 2025, dari https://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/pathological

Dr Sohor Das [@APsychForSoreMinds]. (2022, Februari 9). What makes some people pathological liars? [Video]. YouTube. https://youtu.be/O47cIb65o7o

Kamar Film. (2023, November 23). What happened to Rudy Farias? [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=KEMG-xSpIYA&pp=ygUYa2FtYXIgZmlsbSBydWRvbGYgZmFyaWFz

Psych2Go. (2021, November 21). How To Spot a Pathological Liar [Video]. YouTube. https://youtu.be/iyo9CwJPj98

WebMD Editorial Contributors. (2023, Desember 5). Histrionic personality disorder: Symptoms and treatment options. https://www.webmd.com/mental-health/histrionic-personality-disorder

WebMD Editorial Contributors. (2023, Maret 8). What to know about pathological liars. WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/what-to-know-pathological-liars

Winton, R. (2001, Agustus 16). Panel ousts judge for lying. Los Angeles Times. Diakses dari https://www.latimes.com/archives/la-xpm-2001-aug-16-me-34920-story.html