Konten dari Pengguna

Ginjal Sehat pada Remaja: Peran Edukasi dan Pola Hidup Sehat

Shafa Alya Kharisa

Shafa Alya Kharisa

Mahasiswi Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shafa Alya Kharisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Air putih baik untuk kesehatan ginjal. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Air putih baik untuk kesehatan ginjal. Foto: Pixabay

Ginjal merupakan salah satu organ vital dalam tubuh yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh. Fungsi ginjal meliputi pengaturan keseimbangan cairan tubuh, pengendalian kadar garam dalam darah, menjaga keseimbangan asam basa, serta mengekskresikan zat sisa metabolisme seperti urea dan limbah nitrogen lainnya. Selain itu, ginjal juga berperan dalam menjaga keseimbangan elektrolit serta memproduksi hormon dan enzim yang berfungsi dalam pengaturan tekanan darah. Apabila fungsi ginjal terganggu, kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk gagal ginjal kronis yang berdampak pada anak-anak, remaja, hingga orang dewasa (Kulet al., 2013 dalam Musniati, Sari, Aini, Nurjanah, & Siregar, 2024).

Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari cairan, yaitu sekitar 80%, sehingga kebutuhan air menjadi sangat penting untuk mempertahankan fungsi tubuh. Manusia bahkan dapat bertahan lebih lama tanpa makanan dibandingkan tanpa air. Kebutuhan air mineral per hari berkisar antara 1 hingga 2,5 liter (Asmadi, 2014). Namun, penelitian menunjukkan bahwa masih banyak remaja dan orang dewasa yang mengalami dehidrasi akibat kurangnya asupan cairan. Sebanyak 49,5% remaja mengalami dehidrasi yang dapat berdampak pada penurunan daya konsentrasi (Hardiansyah, 2011).

Selain itu, penyakit batu ginjal juga menjadi masalah klinis yang cukup umum di dunia. Penyakit ini terjadi akibat terbentuknya batu di ginjal (nefrolitiasis), ureter (ureterolitiasis), atau kandung kemih (cystolithiasis). Proses pembentukan batu berlangsung melalui tahapan fisikokimia, yaitu supersaturasi, nukleasi, agregasi, hingga retensi (Shah and Bhave, 2018). Batu ginjal terbentuk dari pengendapan kristal yang berasal dari berbagai komponen seperti kalsium oksalat, kalsium fosfat, kalsium karbonat, magnesium-amonium fosfat, asam urat, dan sistein (Johnson et al., 2020).

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018, penyakit ginjal termasuk dalam kelompok penyakit tidak menular (PTM), yaitu penyakit kronis yang tidak dapat ditularkan antarindividu. Penyakit ini menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam upaya pengendalian karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat (Reaginta, Afriansyah, Ethica, & Widyana, 2022).

Sering Disepelekan! Ini Cara Mencegah Penyakit Ginjal Sejak Dini

Pencegahan gangguan ginjal, termasuk gagal ginjal, dapat dilakukan melalui penerapan perilaku hidup sehat dengan prinsip CERDIK, yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin beraktivitas fisik, diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat yang cukup, serta mengelola stres. Selain itu, langkah sederhana seperti mengonsumsi air putih minimal 8–10 gelas per hari juga sangat dianjurkan. Edukasi kesehatan memiliki peran penting dalam membentuk perilaku hidup sehat, karena merupakan upaya terencana untuk memengaruhi individu, kelompok, maupun masyarakat agar menerapkan perilaku yang mendukung kesehatan (Siregar, Kaban, Saftriani, & Hanim, 2023).

Penyuluhan kesehatan merupakan salah satu metode efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku masyarakat (Nita Yunianti Ratnasari, 2023). Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan pada pertemuan rutin Posbindu Remaja di Desa Bener, Ngrampal, Sragen, pada pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini dihadiri oleh 23 remaja dan 2 kader pendamping, dengan mayoritas peserta berusia 14–16 tahun yang termasuk dalam kategori remaja pertengahan (middle adolescence).

Hasil kegiatan edukasi mengenai kesehatan ginjal pada remaja di Desa Bener menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Hasil ini sejalan dengan penelitian Musniati dan Fitria (2022) dalam Musniati, Sari, Aini, Nurjanah, & Siregar (2024) yang menyatakan adanya perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Selain itu, pengabdian masyarakat oleh Rumida & Doloksaribu (2021) dalam Musniati (2022) juga menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan siswa dari 6,61 menjadi 13,80.

Lebih lanjut, Purwaningrum (2018) dalam Nurpalah, Kasmanto, & Nurhasanah (2024) menyatakan bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan cenderung lebih bertahan lama, terutama jika telah mencapai tahap penerapan. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan berdampak pada perubahan pola hidup menjadi lebih sehat, yang pada akhirnya dapat meningkatkan derajat kesehatan, khususnya dalam pencegahan gangguan pada organ ginjal.

Ambarwati, R., & Y. Wahyunti K. (2025). PENINGKATAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG MENJAGA KESEHATAN GINJAL . BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT, 7(1). https://doi.org/10.29040/budimas.v7i1.16744

Dayfi, B. A. (2022). Gambaran kebiasaan konsumsi air putih mahasiswa DIII Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Samawa. Jurnal Kesehatan Samawa, 7(1), 23–27. https://doi.org/10.58406/jks.v7i1.989

Nafisah, S., & Mubarak, Z. . (2024). Peningkatan Pengetahuan Masyarakat Tentang Pentingnya Minum Air Putih Dalam Pencegahan Batu Ginjal . Journal of Health Innovation and Community Services, 3(1), 152–156. https://doi.org/10.54832/jhics.v3i1.312

Sulfa, A. H., Purwaningsih, T., Utomo, D., & Didi Hermawan. (2026). EDUKASI, DETEKSI DINI DAN PENDAMPINGAN SISWA SD DALAM PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN KEMIH DENGAN GERAKAN MINUM AIR PUTIH DAN PERSONAL HYGIENE GENETALIA DI SD NEGERI DEBONG KULON 1 KOTA TEGAL. Jurnal Inovasi Masyarakat Terupdate, 3(1). https://doi.org/10.31983/jimat.v3i1.13675

Yusuf, S., & Nasution, L. K. . (2023). PENYULUHAN TENTANG HIDUP SEHAT DENGAN MENJAGA FUNGSI GINJAL DI KELURAHAN BINTUJU KECAMATAN ANGKOLA MUARATAIS TAHUN 2023. Jurnal Pengabdian Masyarakat Darmais (JPMD), 2(1), 32–35. Retrieved from https://ejournal.stikesdarmais.ac.id/index.php/jpmd/article/view/101