Konten dari Pengguna

Kerajaan Joseon Era Pemerintahan Raja Taejong

Shafa Audilla Rahmawati

Shafa Audilla Rahmawati

Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Semarang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shafa Audilla Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi pakaian tradisional Korea pada masa Dinasti Joseon. (sumber: milik pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pakaian tradisional Korea pada masa Dinasti Joseon. (sumber: milik pribadi)

Bagi pecinta drama Korea pasti tidak asing lagi dengan Dinasti Joseon bukan? Dinasti yang sering menjadi latar pada drama kerajaan ini menarik banyak perhatian pecinta drama Korea karena selain menghibur juga dapat menambah pengetahuan penonton melalui untaian peristiwa atau tokoh sejarah kerajaan Korea didalamnya. Lalu apakah untaian peristiwa dan tokoh dalam drama kerajaan Korea benar-benar ada dan terjadi? Jawabannya belum tentu karena tergantung pada genre, alur cerita dan penokohan yang diusung oleh produser masing-masing judul drama Korea. Sebuah dinasti pastinya memiliki kisah tersendiri yang mana tertulis dalam catatan sejarah atau peninggalan tiap dinasti. Dinasti Joseon sebagai dinasti terakhir juga memiliki perjalanan sejarah yang sangat panjang, mulai dari awal periode hingga keruntuhan dinasti yang kemudian digantikan oleh negara Kekaisaran Korea.

Sejarah Awal Terbentuknya Dinasti Josen

Dinasti Joseon adalah dinasti yang dibentuk oleh Yi Seong-gye atau dikenal dengan Raja Taejo setelah naik takhta. Dalam pembentukan dinasti ini, Yi Seong-gye yang dahulunya menjadi pemimpin militer di Kerajaan Goryeo melakukan pemberontakan dan kudeta terhadap Raja U demi menaikkan takhta putra Raja U yakni Chang pada tahun 1388. Raja Chang yang kemudian menempati takhta kerajaan ternyata gagal dalam melakukan restorasi terhadap Goryeo. Kemudian Yi Seong-gye membunuh mantan Raja U dan Chang dimana setelah itu kerajaan Goryeo dipimpin oleh bangsawan bernama Wang Yo yang bergelar Gongnyang. Pada tahun 1392, Yi Seong-gye menyingkirkan seorang pemimpin yang sangat disegani dan setia kepada Goryeo bernama Jeong Mong-ju. Selain itu Yi Seong-gye memecat Raja Gongnyang dan mengasingkannya ke Wongju sebelum Yi naik takhta.

Pada awalnya, Yi Seong-gye atau Raja Taejo berniat melanjutkan nama Goryeo untuk negara yang ia pimpin dan hanya mengubah keturunan kerajaan untuknya sendiri. Tujuan Raja Taejo adalah untuk meneruskan dan mempertahankan tradisi Goryeo yang sudah ada sejak 500 tahun yang lalu. Namun hal itu mendapat kecaman dan pemberontakan dari bangsawan Gwonmun yang kekuasaannya melemah namun masih berpengaruh dan setia terhadap Goryeo serta marga Wang yang diasingkan ke Wongju. Selain itu, penamaan dinasti baru dibutuhkan guna menandakan adanya perubahan atau reformasi dalam suatu kepemimpinan. Setelah menimbang-nimbang, Raja Taejo memutuskan untuk menamakan dinasti baru tersebut dengan “Joseon” yang diadopsi dari kerajaan Korea kuno Gojoseon. Setelah penggantian nama dinasti, Raja Taejo memindahkan ibu kota ke Hanyang pada tahun 1394 (sekarang Seoul).

Awal Pemerintahan Dinasti Joseon

Pada masa awal periode, Raja Taejo menyinggung tentang pemilihan putra mahkota yang akan menggantikan takhtanya nanti. Yi Bang-won, putra kelima Raja Taejo dan Ratu Sineui dipilih menjadi calon kandidat putra mahkota Joseon karena memberikan kontribusi yang besar terhadap kenaikan takhta ayahnya, namun sebenarnya Yi Bang-won memiliki dua musuh yang merupakan tokoh penting raja yakni perdana Menteri Jeong Do-jeon dan Nam eun dimana kedua belah pihak saling membenci.

Ketika ada kabar simpang siur bahwasannya Yi Bang-won akan menjadi putra mahkota, Jeong Do-jeon selaku perdana menteri menggunakan kekuasaannya untuk memengaruhi keputusan raja agar putra kedelapan raja yakni Yi Bang-seok yang merupakan putra dari Ratu Sindeok menjadi putra mahkota karena Jeong Do-jeon ingin mempertahankan posisinya. Alasan Jeong Do-jeon menyalonkan Yi Bang-seok menjadi putra mahkota karena ia menginginkan Joseon sebagai sebuah kerajaan yang dipimpin oleh para Menteri yang ditunjuk oleh raja sedangkan Yi Bang-won menginginkan kerajaan Joseon yang monarki absolut dimana pemerintahannya langsung oleh raja. Oleh karena Jeong Do-jeon sangat memberikan kontribusi terhadap ideologi, kelembagaan, dan hukum-hukum Joseon, permohonannya mengenai Yi Bang-seok menjadi putra mahkota dikabulkan dan ia mendapat dukungan dari Raja Taejo. Dari situlah Jeong Do-jeon terus membatasi kekuasaan kerajaan kerajaan dengan melarang para pangeran terlibat dalam politik dan meniadakan tentara pribadi pangeran.

Suatu hari, Ratu Seondeok tiba-tiba meninggal dunia dan kerajaan diliputi oleh duka. Jeong Do-jeon memanfaatkan keadaan ini dengan menyebarkan konspirasi untuk mengeliminasi Yi Bang-won dan saudara-saudaranya menjadi putra mahkota. Menanggapi hal ini, Yi Bang-won murka dan membunuh Jeong Do-jeon beserta pengikutnya. Selain itu Yi Bang-won juga membunuh putra mahkota dan saudaranya dari Ratu Seondeok. Insiden ini dinamakan Perselisihan Pangeran Pertama. Mengetahui bahwa putranya saling membunuh untuk duduk di kursi raja, Raja Taejo menaikkan takhta putra keduanya yakni Yi Bang-gwa menjadi Raja Jeongjong dan kemudian menyepi ke Hamhung utara karena terdampak psikis atas kematian istrinya.

Pada masa pemerintahannya, Raja Jeongjong memindahkan ibu kota Hanyang ke Kaeseong kembali karena merasa lebih nyaman. Yi Bang-won yang merasa tidak puas karena kakaknya naik takhta mulai mencalonkan diri sebagai Saudara Pangeran Penerus Kerajaan yakni gelar tradisional adik-beradik raja yang ditunjuk sebagai penerus raja apabila raja yang berkuasa tidak punya pengganti. Usaha Yi Bang-won ini ditentang oleh putra Taejo keempat yakni Yi Bang-gan yang ternyata juga haus akan kekuasaan hingga pada tahun 1400, Yi Bang-won dan Yi Bang-gan berkonflik yang kemudian dikenal dengan Perselisihan Pangeran Kedua. Dampaknya, Raja Jeongjong mengasingkan Yi Bang-gan ke Dosan dan mengeksekusi pendukungnya karena mengalami kekalahan melawan Yi Bang-won. Raja Jeongjong turun takhta secara sukarela dan melantik Yi Bang-won menjadi raja ketiga Joseon yang bergelar Raja Taejong.

Dinasti Joseon dibawah Kepemimpinan Raja Taejong

Pada awal pemerintahan Raja Taejong, ayahnya yakni mantan Raja Taejo menolak memberikan stempel kerajaan guna mengesahkan legitimasi karena Raja Taejong telah membunuh saudara-saudaranya demi duduk di kursi raja. Oleh karena itu, Raja Taejong mengutus sahabat sekaligus orang kepercayaannya untuk pergi ke Hamhung guna meminta stempel tersebut. Raja Taejo yang belum memaafkan Raja Taejong memerintahkan para pengawal untuk menghabisi utusan yang datang untuk meminta stempel.

Sikap Raja Taejo membuat Raja Taejong membuat kebijakan yang ia percaya mampu untuk membuktikan kepandaiannya dan haknya dalam memimpin. Salah satu kebijakannya yakni menghapus hak-hak khusus yang dimiliki oleh pejabar dan bangsawan guna mempertahankan kemiliteran negara. Pencabutan hak tersebut memutuskan kemampuan mereka untuk memberontak secara besar-besaran dan orang-orang yang bekerja di kemiliteran meningkat secara drastis. Selain itu, Raja Taejong merevisi undang-undang pajak kepemilikan tanah dan pencatatan keadaan subyek. Alhasil pendapatan nasional meningkat dua kali lipat.

Pada tahun 1399, Raja Taejong mengeluarkan dekrit dimana semua keputusan disahkan oleh Uijeongbu yang hanya berlaku dengan persetujuan raja. Hal ini dimaksudkan untuk mengakhiri kebiasaan menteri dan penasehat istana membuat keputusan melalui debat dan negosiasi sendiri. Tak lama kemudian, Raja Taejong mendirikan sebuah kantor yang dikenal dengan Kantor Sinmun yang berfungsi untuk menampung dan menindaklanjuti kasus pengeksploitasian yang dilakukan oleh pejabat atau aristrokrat pemerintah. Selain itu, Raja Taejong mengeksekusi atau mengasingkan pendukung yang membantunya naik takhta guna menguatkan otoritas kerajaan. Untuk membatasi pengaruh mertua, ia membunuh keempat saudara ratu dan putranya. Raja Taejong membunuh banyak saingan dan kerabatnya agar mendapatkan kekuasaan dan secara pemerintahan sebenarnya Raja Taejong belum efektif dalam meningkatkan kehidupan rakyat dan memperkuat pertahanan kerajaan.

Selama masa pemerintahan Raja Taejong, Joseon mendukung cita-cita dan doktrin Konfusianisme Tiongkok dalam bermasyarakat. Neo-Konfusianisme dipasang sebagai ideologi negara dinasti yang baru dan Buddhisme direndahkan dan kadang-kadang menghadapi penganiayaan oleh Dinasti Joseon. Hal itu menjadikan ketegangan antara kumpulan Buddhis dan pengikut paham Konfusius meningkat tatkala pemerintah memutuskan paham negara menjadi Konfusius. Selain itu, pemberlakuan sistem kelas sosial dimulai, dimana bangsawan menduduki posisi tinggi. Pada Agustus 1418, Sejong yang merupakan putra dari Raja Taejong naik takhta. Sepanjang pemerintahan Raja Sejong, Joseon memiliki peninggalan kebudayaan yakni abjad Hangeul yang dibuat oleh Raja Sejong pada 1443 yang sampai sekarang masih dipergunakan dalam penulisan bahasa Korea. Selain itu, ilmuwan Jang Yeong-sil menemukan alat mengukur hujan pertama.