Konten dari Pengguna

Perpisahan Sekolah: Tradisi Bermakna atau Beban Sosial?

Shafa Aulia Azzahra

Shafa Aulia Azzahra

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Bahasa Inggris

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shafa Aulia Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: www.pexels.com

Perpisahan sekolah merupakan kegiatan yang mungkin sudah menjadi budaya atau tradisi dalam pendidikan Indonesia. Hampir semua sekolah melaksanakan kegiatan ini pada setiap akhir tahun ajaran. Menurut Koentjaraningrat, seorang antropolog Indonesia, tradisi adalah kebiasaan sosial yang diwariskan dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari identitas kelompok masyarakat. Dalam konteks sekolah, perpisahan bisa disebut tradisi karena secara turun-temurun dilakukan sebagai bentuk penutup perjalanan pendidikan.

Namun, yang sangat disayangkan, dalam beberapa tahun terakhir, esensi perpisahan yang seharusnya lebih menonjolkan kenangan, rasa syukur, dan kesederhanaan mulai bergeser. Acara yang dulunya dibuat sederhana—biasanya menggunakan halaman sekolah—kini berganti dengan gedung-gedung mewah berbiaya tinggi. Tidak hanya menyewa gedung, bahkan juga menyewa bus pariwisata, baju seragam, hingga fotografer profesional dengan harga fantastis—ratusan ribu hingga jutaan rupiah per siswa.

Berdasarkan data Dapodik (Data Pokok Pendidikan) yang dikutip dari aceh.tribunnews.com, sekitar 85,6% siswa berasal dari keluarga dengan penghasilan ayah di bawah dua juta rupiah per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki latar belakang ekonomi yang tergolong rendah, sehingga biaya perpisahan yang tinggi bisa menjadi beban serius bagi mereka.

Bayangkan seorang siswa yang dihadapkan pada dua pilihan—antara mengikuti perpisahan atau tidak ikut demi membantu menghemat keuangan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan teman-temannya  sibuk menyewa baju atau fotografer, ia hanya bisa terdiam, menahan rasa malu karena ekonomi keluarga yang pas-pasan. Walaupun kisah ini jarang terlihat, namun kenyataannya benar-benar dialami sebagian siswa.

Tradisi yang Bergeser

Dalam tradisinya, perpisahaan memiliki esensi emosional tersendiri bagi siswa dan guru. Kegiatan ini sejatinya merupakan bentuk ungkapan rasa syukur dan penghormatan untuk para guru, teman, dan diri sendiri. Tidak hanya itu, momen ini juga sebagai penanda bahwa kebiasaan, kenangan, dan rutinitas yang sudah dijalani selama bertahun-tahun telah berakhir. Namun seiring perkembangan teknologi, esensi ini perlahan mulai dilupakan, dan malah bergeser menjadi momen ajang pamer di media sosial.

Fenomena ini dapat dengan mudah kita temukan di berbagai unggahan media sosial, seperti TikTok dan Instagram, di mana siswa-siswi tampil dengan busana dan riasan glamor, berfoto dengan latar belakang mewah, hingga membuat vlog study tur ke luar kota. Semua itu sering kali memakan biaya yang tidak sedikit, bahkan dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per orang.

Perpisahan yang awalnya merupakan momen kebersamaan dan syukur atas perjalanan belajar, kini perlahan berganti menjadi ajang pembuktian sosial—siapa yang tampil paling keren,  trendi, dan “niat”. Perubahan ini jelas menimbulkan isu sosial bagi siswa dari kalangan menengah ke bawah. Karena meskipun kegiatan ini sering disebut “opsional”, namun kenyatanya terdapat adanya tekanan sosial yang kuat untuk tetap ikut serta—karena takut dianggap tidak kompak, merasa malu, atau bahkan dikucilkan oleh teman.

Tekanan Sosial Tidak Terlihat

Memang tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan siswa untuk ikut perpisahan, namun ada norma dan tekanan sosial tak terlihat yang membebani siswa. Tak jarang, siswa yang tidak ikut merasa malu, dikucilkan, atau bahkan diejek “beda sendiri” dan dianggap “nggak kompak” oleh teman-temannya. Sehingga kerap kali beberapa siswa meminjam uang, mencicil, atau membebani orang tua yang pada dasarnya merasa “keberatan”.

Perpisahan pun akhirnya menjadi ajang ekslusif bagi siswa yang mampu, membuat makna kebersamaan justru hilang. Yang timbul justru rasa minder, iri, bahkan tekanan untuk tetap ikut.

Apa Peran Sekolah?

Sering kali, sekolah mengambil sikap “tidak ikut campur” dalam penyelenggaraan acara perpisahan dengan alasan bahwa seluruh kegiatan diatur oleh komite dan siswa itu sendiri. Padahal, sebagai institusi pendidikan, sekolah seharusnya memiliki tanggung jawab moral terhadap setiap kegiatan yang membawa nama sekolah serta melibatkan guru dan siswa.

Sebagai fasilitator, sekolah sudah sepatutnya berprinsip inklusif dan adil, dengan memastikan bahwa kegiatan perpisahan tidak memberatkan atau membebani siswa maupun orang tua. Sekolah dapat mengambil peran aktif, misalnya dengan membatasi anggaran perpisahan, menyarankan acara yang sederhana tanpa menghilangkan maknanya, atau juga dapat menyediakan fasilitas yang dapat digunakan tanpa adanya biaya tambahan.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan harus diselenggarakan secara demokratis, adil, dan tidak diskriminatif. Maka sudah selayaknya kegiatan yang membawa nama sekolah, seperti perpisahan, juga mencerminkan prinsip-prinsip tersebut.

Dengan cara cara itu, sekolah dapat menciptakan ruang yang adil bagi semua siswa tanpa memandang status ekonomi, sehingga esensi dari perpisahan itu sendiri dapat tetap terjaga.

Kembali ke Makna yang Sesungguhnya

Penting untuk diingat bahwa tradisi sebaiknya diwariskan dengan tujuan yang baik, tanpa paksaan yang memberatkan. Jika tradisi membuat sebagian orang merasa tidak nyaman atau terpinggirkan—terlebih lagi dalam lingkungan sekolah yang menjunjung tinggi nilai kesetaraan dan kebersamaan—maka sudah seharusnya tradisi itu dievaluasi.

Perpisahan sekolah tetap menjadi momen penting sebagai penanda berakhirnya jenjang pendidikan dan kebersamaan antar siswa. Namun, sebuah momen tidak harus mahal untuk menjadi berkesan. Perpisahan sederhana justru biasanya lebih sering meninggalkan kesan yang lebih tulus dan membekas. Karena pada akhirnya, yang akan diingat bukanlah seberapa megah tempatnya atau seberapa mahal bajunya, melainkan perasaan hangat akan kebersamaan dan kenangan yang tercipta di dalamnya.

Ketika sekolah dan masyarakat mampu mengembalikan esensi perpisahan dalam kesederhanaan dan kebersamaan, maka pendidikan yang adil dan inklusif bukan hanya sekadar harapan—melainkan bisa benar benar tercapai.