Fenomena Sibling Rivalry: Mengapa Buah Hati Kita Sering Bertengkar?

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Shafa Salsabila Kamal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Ibu, itu kakak duluan yang mulai!"
"Kakaknya nyebelin tuh, Bu!"
"Adik saja yang terlalu lebay!"
Halo Bunda dan Ayah! Apakah kalian ramah dengan kalimat-kalimat tersebut? Ataukah justru cenderung pusing setiap kali mendengarnya? Kalimat-kalimat ini mungkin sudah menjadi soundtrack harian di rumah yang memiliki lebih dari satu anak.
Hal-hal seperti rebutan barang, perhatian, hingga siapa yang lebih dulu dipeluk Bunda atau Ayah adalah kejadian yang sangat wajar. Dalam dunia psikologi, fenomena ini disebut “Sibling Rivalry", alias persaingan antar saudara kandung untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya, lho!
Tidak Sesederhana “Anak yang Sedang Cemburu”
Penelitian pada 55 anak usia prasekolah di daerah Lubuk Begalung, Padang, menemukan bahwa sekitar 61% anak mengalami Sibling Rivalry. Selain anak-anak prasekolah dengan emosi belum stabil, penemuan yang cukup mengejutkan terjadi pada 100% partisipan mahasiswa salah satu universitas di Kota Padang, yang mengaku masih sering bertengkar dengan saudara kandungnya.
Jadi, Bunda tidak perlu berkecil hati. Persaingan saudara ini adalah bagian alami dari tumbuh kembang anak dan hampir terjadi pada setiap anak yang memiliki saudara. Kabar baiknya hubungan ini tidak serta merta berarti mereka memiliki hubungan yang buruk. Faktanya, 94% mahasiswa pada penelitian yang sama tetap menyatakan bahwa hubungan mereka dengan saudara kandung tetap positif, walau sering diwarnai pertengkaran.
Jadi, Apa Penyebab Buah Hati Kita Sering Bertengkar?
1. Sikap dan Pelakuan Orang Tua
Bunda, faktor yang paling dominan dari pertengkaran anak justru bukan karena barang mereka direbut, lho! Melainkan karena anak cenderung merasa orang tua kurang bersikap adil, seperti sering membanding-bandingkan atau meminta salah satu anak untuk mengalah (meskipun posisinya benar).
2. Jarak Usia Terlalu Dekat
Anak dengan jarak usia kurang dari 2 tahun cenderung lebih sering bersaing, karena adanya rasa direbut perhatiannya saat si adik lahir. Selain itu, kebiasaan menitipkan Adik untuk diawasi ke Kakak yang usianya masih dalam fase bermain (sama dengan Adik), menimbulkan beban tanggung jawab terlalu besar bagi si Kakak. Jarak usia yang lebih jauh biasanya memberi ruang bagi Kakak untuk lebih siap secara mental dalam memahami kehadiran Adik.
3. Hal Sepele Sehari-Hari
Menariknya, pada usia lebih matang, pemicu sibling rivalry, bergeser ke hal-hal domestik, seperti rebutan barang (motor atau charger hp dan leptop), pembagian pekerjaan rumah, candaan yang kelewat batas, sampai merasa dicuekin saat memberikan saran. Anak laki-laki biasanya lebih sering meributkan soal barang, sementara anak perempuan lebih sering bertengkar soal pembagian tugas rumah dan perbedaan pendapat.
Apasih Dampak Jika Dibiarkan Terus Menerus?
Tidak hanya sekedar Anak Rewel dan Cemburu, Jika tidak ditangani dengan bijak fenomena sibling rivalry ini akan membawa dampak jangka panjang bagi perkembangan emosi anak, diantaranya anak menjadi mudah marah dan sulit mengendalikan emosi, menyimpan dendam atau rasa tidak aman pada saudaranya, bahkan kesulitan beradaptasi secara sosial dan menjaga hubungan baik dengan teman sebaya akibat terbawa pola kompetisi tidak sehat dari rumah. Di usia matang, kumpulan perasaan negatif seperti kesal, marah, dan kecewa pada keluarga juga meledak sewaktu-waktu konflik terjadi.
Lalu, Langkah Apa yang Bisa Bunda dan Ayah Lakukan?
1. Hindari Membandingkan Anak
Kalimat dianggap sederhana seperti, “kok kamu nggak kayak kakak, sih?” atau “Sudah, nurut saja seperti adik”, dapat menanamkan rasa ketidakadilan mendalam pada batin anak.
2. Beri Perhatian Setara (Bukan Sama Rata)
Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai usia dan karakternya. Yang terpenting adalah meluangkan waktu untuk mendengar keluh kesah secara individual, sehingga mereka merasa dicintai dengan cara mereka masing-masing.
3. Ajari Anak Menyelesaikan Masalah (Jangan Langsung Turun Melerai)
Saat konflik, berikan mereka kesempatan bernegosiasi, berkompromi, dan mengakui kesalahan. Hal ini adalah latihan kemampuan sosial (problem solving) mereka.
4. Berikan Ruang dan Kepemilikan Pribadi
Pastikan sekiranya anak yang memiliki barang miliknya sendiri. Ajarkan mereka untuk selalu meminta izin sebelum meminjam barang milik saudaranya guna meminimalkan pertengkaran.
5. Jadilah Teladan, Bukan Sekedar Penasihat
Anak akan meniru Bunda dan Ayah dalam menyelesaikan konflik di rumah. Jika, Orang tua menyelesaikan masalah dengan tenang, anak akan meniru pola yang sama.
6. Libatkan dalam Kegiatan Bersama yang Menyenangkan
Anak-anak pada usia dini, dapat diajak bekerja sama menyusun lego, puzzle, atau proyek kecil bersama saudara, sedangkan pada usia remaja atau dewasa, fasilitasi ruang untuk saling bertukar cerita dan pendapat. Dengarkan dan validasi sudut pandang mereka sebelum memberi masukan, ya! Hal ini melatih kerja sama dan kompetisi yang sehat.
7. Beri Waktu Memproses Emosi
Jangan paksa untuk langsung bersalaman atau berbaikan saat setelah bertengkar. Mereka butuh ruang sejenak untuk menerima dan menyelesaikan emosi. Mereka akan lebih mudah memaafkan saat emosi telah mereda.
Jangan Stress Berlebihan, ya Bunda!
Bunda dan Ayah perlu mengingat, fenomena sibling rivalry adalah proses anak belajar untuk bernegosiasi, berbagi, mengontrol emosi, serta memahami orang lain. Lewat pendampingan tepat dari Bunda dan Ayah, persaingan kecil justru akan menjadi pelajaran berharga tentang empati dan kerjasama yang mereka bawa hingga dewasa.
Jadi, saat mendengar teriakan “Bu, dia duluan yang ganggu!” dari ruang tengah, mari tarik napas dalam-dalam. Percayalah, itu bukan tanda kegagalan dalam mendidik anak, melainkan kesempatan emas membentuk pribadi yang matang secara sosial.
