Generasi Muda & Krisis Kepercayaan Publik: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Sarjana Pendidikan di Universitas Negeri Jakarta & Guru Ilmu Pengetahuan Sosial Jenjang SMP Kreator Akun RUANG IPS sebagai platform edukasi sosial yang menjembatani ilmu sosial akademik dengan realitas kehidupan masyarakat.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhamad Shafar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, jalanan kota-kota besar di Indonesia kembali ramai oleh aksi generasi muda. Bukan karena pertunjukan festival, melainkan gelombang demonstrasi yang menuntut perhatian publik terhadap isu ekonomi, pendidikan, dan kebijakan pemerintah. Pesan mereka sederhana, namun mengaskan kepedulian yang lahir dari krisis kepercayaan terhadap sistem demokrasi.
“Kami peduli, tapi kami tidak percaya.”
Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi yang selama ini dijanjikan mampu melindungi hak dan kesejahteraan rakyat.
Gelombang Aksi Generasi Muda di Ruang Publik
Pada Agustus-September 2025, ribuan mahasiswa, pelajar, buruh, dan warga turun ke jalan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Mereka menuntut perhatian terhadap isu ekonomi dan demokrasi, termasuk kenaikan upah mnimum, reformasi perpajakan, dan transparansi kebijakan pemerintah.
Sebagian besar aksi berlangsung damai. Namun, beberapa bentrokan terjadi akibat respons aparat yang dianggap berlebihan. Gelombang protes ini menunjukkan tingginya partisipasi generasi muda dalam menyuarakan aspirasi.
Penangkapan Aktivis Muda & Kebebasan Berekspresi
Pasca demonstrasi, beberapa aktivis muda ditangkap terkait partisipasi mereka, termasuk mahasiswa dan pengorganisir komunitas. Penangkapan ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kebebasan berpendapat dan ruang demokrasi.
Kasis ini menegasan bahwa mesi aksi generasi muda merupakan bagian penting dari demokrasi yang sehat, respons negar terhadap ekspresi kritis dapat memengaruhi kepercayaan publik dan kesehatan demokrasi.
Aksi Generasi Muda dan Kepercayaan Publik yang Memudar
Survei Lembaga Indonesia (LSI) menunjukkan bahwa sekitar 35% warga percaya penh terhadap kebijakan pemerintah dalam satu tahun terakhir. Angka ini turun drastis dibanding lima tahun lalu yang mencapai 50-55%.
Sementara itu, pastisipasi generasi muda meningkat. Sekitar 60% responden usia 18-30 tahun merasa perlu turun tangan langsung melalui aksi atau kampanye publik. Data ini menunjukkan hubungan antara menurunnya kepercayaan publik dan meningkatnya aksi sosial.
Aksi Generasi Muda sebagai Cermin Demokrasi Partisipatif
Fenomena ini relevan dengan Teori Demokrasi Partisipatif oleh Carole Pateman yang menekankan bahwa demokrasi sejati tidak hanya soal pemilu, tetapi juga partisipasi aktif warga dalam pengambilan keputusan dan pengawasan pemerintah.
Aksi generasi muda yang turun ke jalan adalah contoh nyata dari prinsip ini. Mereka menuntut transparansi, mengawasi kebijakan publik, dan memastikan suara rakyat terdengar. Demonstrasi bukan sekedar protes, tetapi bagian dari proses demokrasi yang hidup dan partisipatif. Namun, aksi yang tidak terarah atau dimanfaatkan kepentingan politik tertentu memunculkan polarisasi dan menimbulkan disinformasi.
Suara Generasi Muda
Generasi muda kini menjadi kelompok yang paling vokal dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik. Mereka hadir lewat demonstrasi, diskusi terbuka, media sosial, hingga gerakan komunitas. Isu yang diangkat pun beragam, mulai dari biaya hidup, pendidikan, ketimpangan ekonomi, hingga kualitas demokrasi itu sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa kaum muda tidak apatis.
Namun, meningkatnya partisipasi ini beriringan dengan menurunnya kepercayaan terhadap institusi demokrasi. Banyak anak muda merasa suara mereka tidak benar-benar memengaruhi keputusan politik. Aspirasi disampaikan, tetapi kebijakan tetap berjalan tanpa dialog yang berarti. Dalam situasi seperti ini, kritik menjadi bentuk ekspresi paling jujur dari kegelisahan generasi muda.
Demokrasi tidak cukup dijalankan melalui pemilu lima tahunan, demokrasi menuntut keterlibatan aktif warga dalam proses pengambilan keputusan dan pengawasan kekuasaan. Aksi, kritik, dan partisipasi generasi muda ustru menjadi indikator bahwa demokrasi masih bekerja.
Dalam perspektif Teori Demokrasi Partisipatif, demokrasi tidak cukup dijalankan melalui pemilu lima tahunan. Demokrasi menuntut keterlibatan aktif warga dalam proses pengambilan keputusan dan pengawasan kekuasaan. Aksi, kritik, dan partisipasi generasi muda justru menjadi indikator bahwa demokrasi masih bekerja—meski tidak ideal.
Peran Generasi Muda ke Depan
Generasi muda berperan sebagai pengawas pemerintah saat ini sekaligus penjaga nilai-nilai demokrasi di masa depan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Terus Kritis dan Partisipatif
Mengawasi kebijakan publik dan mengekspresikan aspirasi secara konstruktif melalui demonstrasi damai, diskusi publik, maupun kampanye sosial berbasis data.
2. Memperkuat Literasi Demokrasi
Memahami hak dan kewajiban warga negara agar partisipasi tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik tertentu.
3. Menjadi Jembatan Antar Generasi
Menyuarakan kebutuhan masyarakat yang sering tidak terdengar dan mendorong kebijakan lebih transparan.
4. Mengembangkan Inovasi untuk Partisipasi
Memanfaatkan teknologi dan media digital untuk memantau kebijakan, memfasilitasi debat publik, dan menciptakan solusi sosial.
Dengan langkah-langkah ini, generasi muda tidak hanya menuntut perubahan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi dalam membangun demokrasi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan.
Implikasi bagi Demokrasi
Fenomena ini memberi pelajaran penting:
• Pemerintah harus lebih transparan dan responsif, karena kepercayaan publik tidak bisa dipaksakan.
• Media harus menyajikan informasi akurat, agar aksi tidak dimanfaatkan untuk agenda tertentu.
• Generasi muda perlu diarahkan agar energi protes bersifat produktif, bukan destruktif.
Secara lebih luas, aksi generasi muda adalah alarm bahwa demokrasi Indonesia sedang diuji. Jika kepercayaan publik terus menurun, partisipasi aktif kaum muda bisa menjadi penyelamat atau pemicu ketegangan baru.
Refleksi
Aksi generasi muda di tengah krisis kepercayaan publik menegaskan satu hal penting bahwa demokrasi bukan milik segelintir elite, melainkan hak dan tanggung jawab seluruh warga negara. Kaum muda hari ini hadir sebagai pengingat bahwa demokrasi hanya akan hidup jika ia sanggup mendengar, merespons, dan belajar dari suara rakyat.
Turunnya mereka ke jalan bukanlah ekspresi chaos atau ketidakteraturan, melainkan bentuk partisipasi politik yang sah dan bermakna. Di ruang publik, mereka menegaskan bahwa demokrasi sejati menuntut keberanian untuk bersikap kritis, keterlibatan aktif, serta negara yang responsif terhadap aspirasi warganya.
Lebih dari sekadar protes, gerakan ini mencerminkan kegelisahan kolektif terhadap praktik demokrasi yang kian prosedural namun kehilangan substansi. Ketika ruang dialog formal buntu dan kepercayaan pada institusi melemah, aksi jalanan menjadi kanal terakhir untuk memastikan suara publik tetap hadir dalam proses pengambilan keputusan. Di titik inilah, demokrasi diuji: apakah ia mampu berbenah, atau justru semakin menjauh dari rakyat yang seharusnya ia wakili.
