Representasi Indonesia dalam Lagu Nacht over Java

Mahasiswi jurusan Sastra Belanda, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia
Tulisan dari Shafina Zahrani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah kamu? Hubungan Indonesia dan Belanda dapat dilihat dalam sebuah karya sastra berbentuk lagu. Penjajahan Belanda di Indonesia melahirkan banyak bentuk kebudayaan baru di Indonesia yang disebut sebagai kebudayaan Indis.
Apa itu kebudayaan Indis? Menurut Abdurrahman Surjomihardjo (2000;41), kebudayaan Indis adalah suatu gaya hidup yang bersifat campuran. Kita dapat melihat bentuk kebudayaan Indis dalam sebuah karya sastra juga, salah satunya adalah lagu Nacht over Java.
Dari judulnya saja, sudah jelas bahwa lagu tersebut membahas tentang kota Jawa. Lagu itu sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Malam di Jawa". Fakta menariknya, lagu ini merupakan hasil karya seorang seniman yang berdarah campuran Indonesia dan Belanda. Ia bernama Wieteke van Dort, anak dari pasangan Theo van Dort dan Bernardine Rommelaar Soesman, dimana ayahnya adalah orang Belanda, sedangkan ibunya orang Indonesia. Masa kecilnya banyak dihabiskan di kota Surabaya, tepatnya di Embongan yang merupakan kawasan elit di Surabaya yang dihuni oleh orang-orang Eropa pada masa kolonial. Namun, di usianya yang ke-14 tahun, ia bersama keluarganya pergi berlibur ke Belanda dan tidak dapat kembali lagi ke Indonesia, karena pada saat itu Presiden Soekarno sedang melakukan pengusiran kepada orang-orang Belanda (Zwarte Sinterklaas) dan nasionalisasi perusahaan asing secara besar-besaran.
Wieteke van Dort sangat identik dengan budaya Indis, kecintaannya terhadap Indonesia membuatnya sering memasukkan unsur budaya Indis dalam setiap karyanya. Beberapa dari lagu-lagunya tersebut, ada yang mengisahkan tentang kerinduannya kepada Indonesia, karena sudah lama menetap di Belanda dan tidak dapat kembali ke tanah air. Salah satu lagu yang mencurahkan kerinduannya terhadap Indonesia adalah Nacht over Java. Ia merilis lagu tersebut pada tahun 1991 dalam album Weerzien met Indie.
Dalam lagu Nacht over Java, ia menjabarkan bagaimana suasana di Jawa dengan menggunakan beberapa penggalan kata berbahasa Indonesia. Berikut ini merupakan lirik lagu tersebut.
Na een dag vol kleuren en schoonheid
Rijk aan zon en tropisch heet
Smelten donk're wolken samen
Tot een ondoordringbaar kleed
Nacht over Java
'T Land van smaragd
Ligt als in duisternis verzonken
Nacht over Java
Ondanks de pracht
Trilt in de lucht iets van een bange klacht
Vreemde geluiden en zachte muziek
Scheppen samen een sfeer van mystiek
Nacht over Java Het doet angstig aan
Nu al het schoons in duisternis
Verloren schijnt gegaan
Maar wat de nacht ook brengen mag
Er komt een nieuwe dag
"Hoor dan, al die geluiden: Dit zijn djangkriks, krekels.
En een loewak, ja, een wilde kat.
Wat een rotgeluid
Aj, kodoks, kikkers in de vijver!
En dat is een kalong, een vleermuis
Wat een muggen hier zeg, njamuks.
Net nou ik mijn obat njamuk vergeten ben.
Kenak! (Raak)
Daar komt een grobak voorbij met een sapi ervoor (Ossenkar)
Oh, die hond van Pak Sudirman. Husj!"
Terdapat beberapa penggalan kata yang menggunakan ejaan bahasa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dalam kata-kata seperti, "djangkriks", "kodoks", dan "njamuks". Dalam lagu tersebut, penyebutan kata jangkrik menggunakan ejaan lama bahasa Indonesia menjadi “djangkrik”, tetapi pada lirik sesudahnya disebutkan lagi kata “krekels” yang merupakan bahasa Belanda dari jangkrik. Terdapat juga penyebutan kodok yang menjadi “kodoks” dan lirik setelah itu terdapat kata “kikkers” yang merupakan bahasa Belanda dari kodok. Lalu, van Dort juga menyebut nyamuk menjadi “njamuks”, dimana pada lirik sebelumnya terdapat kata “muggen” yang merupakan bahasa Belanda dari nyamuk. Penggunaan dua bahasa berbeda dalam satu baris adalah untuk menunjukkan kepada pendengar bahwa lagu ini merupakan perpaduan warisan budaya antara Indonesia dan Belanda.
Terdapat juga kata “grobak” dan “sapi” yang merupakan bahasa Indonesia. Penggunaan kedua kata tersebut bertujuan untuk menjelaskan apa itu “Ossenkar”. “Ossenkar” sendiri adalah gerobak sapi, sebuah gerobak yang ditarik oleh hewan sapi. Penyair sengaja menggunakan kata “grobak” dan “sapi” dengan tujuan pendengar yang merupakan orang Indonesia dapat langsung memahami apa maksud dari “Ossenkar”. Gerobak sapi merupakan salah satu bentuk kearifan lokal di Indonesia yang sudah ada sejak masa kolonial. Pada zaman dahulu, masyarakat pribumi menggunakan gerobak sapi sebagai alat transportasi sebelum adanya kendaraan beroda.
Secara garis besar, lagu Nacht over Java menggambarkan bagaimana suasana di kota Jawa saat siang dan malam hari. Menurut Wieteke van Dort, suasana keduanya sangatlah berbeda, dimana siang hari dipenuhi dengan ketenangan dan malam hari dipenuhi dengan kebisingan. Menurunya, siang hari di kota Jawa sangat indah dengan dipenuhi sinar matahari, sedangkan malam hari di kota Jawa dipenuhi dengan kegelapan yang menakutkan, karena sering terdengar suara-suara mistis. Namun, Wieteke van Dort tetap merasa senang pernah tinggal di Jawa yang suasananya berbeda dengan Belanda. Di Belanda jarang ada matahari dan juga suara-suara aneh pada malam hari. Hal tersebut yang membuatnya rindu dengan Indonesia dan menceritakannya lewat sebuah lagu.
Sumber Referensi:
Gunawan, Andre. Karakteristik Budaya Indis dalam Lagu-Lagu Karya Wieteke van Dort. Depok: lib.ui.ac.id, 2019.
Riandi, Mega Putri. Representasi Indonesia dalam Lagu Arm Den Haag (1975), Geef Mij Maar Nasi Goreng (1991), dan Terug naar Soerabaja (1991) Karya Wieteke van Dort: Analisis Semiotik. Depok: lib.ui.ac.id, 2019.
