Pelopor Pertanian Kopi Robusta dan Arabica di Kampung Cibulao, Kabupaten Bogor

shafina maharani
Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor
Konten dari Pengguna
15 Maret 2023 16:14 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari shafina maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
CISARUA-BOGOR, Ketua Kelompok Tani, Kiryono, yang merangkap sebagai perintis kebun kopi Cibulao berhasil menjadikan Kampung Cibulao sebagai satu-satunya pertanian kopi yang berhasil menumbuhkan biji Kopi Robusta di wilayah dataran tinggi Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara Puncak, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pertanian Kopi Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara, Cisarua Bogor. Foto : Shafina Maharani (23/2)
Puncak Cisarua merupakan tempat yang identik dengan kebuh teh, namun berbeda dengan yang dilakukan Kiryono, selaku pelopor dari pertanian kopi di wilayah tersebut yang mendirikan pertanian kopi di daerah dataran tinggi dan berhasil. Adanya perkebunan ini tidak serta merta dilakukan. Pada awalnya penduduk setempat hanya fokus menjadi petani sayuran dan teh, sebelum akhirnya Kiryono memiliki inisiatif sendiri untuk mendirikan pertanian Kopi Robusta yang pada akhirnya menjuarai tingkat nasional.
ADVERTISEMENT
Menilik Kopi Robusta sendiri kerap disebut-sebut sebagai kopi yang mirip rasanya dengan jenis Arabica. Sebenarnya jenis kopi ini seringkali ditemui di wilayah Indonesia, namun untuk yang berada di wilayah dataran tinggi baru ditemukan di Kampung Cibulao, Cisarua. Adanya pertanian kopi ini juga diketahui bermitra dengan PT Perhutani di Indonesia, sejak tahun 2008. Pada tahun berikutnya yakni 2009 dibentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) yang resmi oleh Perhutani.
Partinah, sebagai ibu dari ketua KTH Cibulao Hijau, saat ditemui, Kamis (23/2) mengemukakan terkait keikutsertaannya dalam membangun perkebunan Kopi Robusta tersebut, “Tadinya mah nyuri lahan kayak semak, ternyata sekarang Alhamdulillah justru dianjurkan dan diberikan sertifikat nanam 35 tahun. Dibanding dengan Jawa, di sana mulai berbuah menanam kopi 5 tahun, kalau di sini 3 tahun juga sudah berbuah,” ungkap Partinah.
ADVERTISEMENT
Motivasi dari dirintisnya kebun kopi tersebut ialah menyelamatkan alam dengan penanaman pohon kopi. Usahanya tidak gagal, sebab ketika kebun kopi itu dirintis Hulu Ciliwung yang semula mengalami kerusakan itu hijau kembali. Kemudian atas berkat pertanian kopi di Cibulao itu pula kawasan hutan yang rusak kembali hijau, dan membuat wilayah tersebut lebih tahan bencana karena akar-akar Kopi Robusta memiliki sifat yang saling mengikat, adapun bentuknya yang seperti karpet tersebut berfungsi untuk menahan air ketika longsor terjadi. Selain itu diketahui apabila penanaman kopi ini juga membuat orang enggan untuk mebebang pohon, hal itu dikarenakan penanaman kopi sebanyak 50 batang, bawaan dari Temanggung dan sengaja diletakkan pada titik longsor Ciliwung, sehingga misalnya ada penebangan maka kopi yang di tanam di bawah pohon tersebut juga akan ikut ambruk.
Menanam Pohon Kopi di sekitar Kali Ciliwung Kampung Cibulao, Desa Tugu Utara (23/2). Foto: Shafina Maharani
Selain untuk upaya pelestarian alam, adanya Kopi Robusta yang tumbuh di dataran tinggi membuat Kampung Cibulao menjadi terkenal karena perkebunan kopi di daerah tinggi ini. Adapun terkait hal itu, pohon-pohon Kopi Robusta yang tumbuh segar di sana berdampingan dengan pohon endemik, sehingga menambah kesan keindahan dari wilayah Cibulao tersebut.
ADVERTISEMENT
Mencapai titik ini Kiryono tidak melakukan hal yang mudah, saat ditemui, Kamis (23/2), ia mengemukakan kesulitannya untuk memahami istilah-istilah pertanian. “Dulu enggak tahu apa itu konversasi. Cukup kesulitann karena warga juga kurang berminat buat pertanian ini,” tutur Kiryono.
Namun ia tidak menyerah dalam mewujudkan gagasan atas idenya, kemudian ia bercerita dahulu langsung bergegas untuk menemui sang ibu untuk melakukan pertanian ini. Kemudian ia juga mengatakan terkait kualitas biji Kopi Robusta.
Biji Kopi Robusta di Kampung Cibulao Cisarua Bogor. Foto: Shafina Maharani
“Meski umumnya kalau Kopi Robusta ada di daratan rendah, sekitar ketinggian 700 lah. Untuk ketinggian 800 keatas baru orang nanam arabika. Ya tapi kalau di puncak juga orang nanam Robusta dan Arabika. Lalu jika Robusta nya daratan tinggi, dan digolongkan find Robusta, kuantitasnya memang ga nentu banyak, tapi kalau kualitas masih yang utama,” ujar Kiryono saat diwawancarai.
ADVERTISEMENT
Ia juga mengungkapkan terkait rasa syukurnya karena usaha yang ia lakukan berhasil, meskipun awalnya penanaman Kopi Robusta cukup riskan di dataran tinggi, namun Kiryono berhasil membuatnya sukses dengan kualitas rasa dan aroma yang baik pula.
Jenis Kopi Robusta dan Arabica dalam kemasan yang siap di distribusikan. Foto : Shafina Maharani
Penulis : Shafina Maharani, Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB