Nyamuk

Tulisan dari shafira d mt tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aku benci sekali dengan serangga-serangga yang berbunyi: lalat, kumbang, lebah, nyamuk. Ah…... Nyamuk.
Kalau ada binatang yang paling kubenci di dunia ini, nyamuk adalah jawabannya. Bukan hanya karena bunyinya yang berisik di malam hari di sekitar telingaku, bukan hanya karena itu. Aku benci nyamuk karena mengingatkan aku pada si bodoh itu.
Lima tahun lalu, aku sedang asik dengan rokok lintinganku. Baru saja masuk rokok ketiga pagi itu, matahari bahkan masih malu-malu menunjukkan wajahnya. Pak Bandeng—tetangga jauhku kalau diukur berdasarkan letak rumah—sekaligus tetangga akrabku di ladang, tiba-tiba berteriak dari ujung jalan.
“Bangsaaat! Bangsaaaat!”
Iya, bangsat namaku, maksudnya. Dia bukan sedang mengumpat. Lagi-lagi, gara-gara si bodoh itu aku dipanggil Bangsat. Kata Pak Bandeng dan tetangga lain, Bangsat itu ada kepanjangannya, tapi tidak ada yang ingat apa kepanjangannya. Aku selalu sangsi terhadap niatan orang yang memanggil namaku; ingin mengumpat atau memanggil. Katanya lagi, namamu itu bukan umpatan, Sat. Itu sebuah doa dari Bapakmu. Haleh, doa tai kucing. Setiap orang baru pasti melihatku dengan tatapan aneh saat dipanggil.
Pak Bandeng akhirnya sampai di depan wajahku. Ia terengah-engah. Jauh juga sepertinya ia berlari.
“Kenapa, Pak?”
“Bapakmu… anu… Bapakmu…”
Aku mengernyitkan dahi.
Tidak menghentikan isapanku pada si kecil di sela-sela jariku.
Ada apa lagi ini.
“Kenapa Bapakku?”
“Di ladang… Ayo Sat, ayo!”
Pak Bandeng semerta-merta langsung menarik lenganku. Membuat rokok lentinganku jatuh tak tertangkap. Ia memegang erat pergelanganku dan mengajakku berlari menuju ladang. Aku akhirnya pasrah mengikuti lariannya yang semakin kencang. Ladang kami adalah ladang tembakau. Sebentar lagi puncak musim panen tembakau. Pohonnya sedang tinggi-tinggi dan itu membuat langkah kami sulit menempuh jalan-jalan di ladang.
Pak Bandeng terus mengajakku berlari sampai di ujung jalan yang berbatasan dengan jurang. Aku terdiam. Hening. Tidak ada siapa-siapa kecuali kami bertiga. Aku mematung melihat apa yang terlihat di depanku: Bapak.
Si tua bodoh yang memberikanku nama Bangsat, yang menghilang tujuh tahun lalu membiarkanku hidup sendiri. Untung kampung ini kecil dan intim, masih ada yang mau sesekali memberikan makan padaku hingga akhirnya hari ini aku mampu mengurus ladang sendiri. Untung. Untung saja.
Ia di depanku. Terbujur. Kaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku juga tidak tahu ia sudah berapa lama di sini. Mungkin, sudah cukup lama juga.
Tapi, tunggu dulu. Ada yang aneh. Aku mencoba memicingkan mataku agar lebih fokus ke arah makhluk yang mengerumuni mayat tua bangka ini. Benar saja. Aneh. Ia tidak dikerumuni oleh lalat seperti layaknya kita melihat mayat-mayat yang membusuk. Si tua bodoh ini dikerumuni…nyamuk. Iya, kau tidak salah baca: Nyamuk. Nyamuk-nyamuk itu seperti sedang dapat makanan besar. Kalau dihitung mungkin ratusan, bahkan ribuan. Menempel, menggigiti seluruh bagian tubuh Bapak, hingga berputar-putar di sekitar tubuhnya. Menimbulkan bunyi nyaring yang berisik.
“Yang sabar, yo, Sat…” ujar Pak Bandeng seraya menepuk-nepuk pundakku.
Aku hanya menarik napas. Mengernyitkan dahi. Mencoba mencerna apa yang ada di depan mataku. Aku tidak tahu apa persisnya perasaanku saat ini. Jijik. Bahagia. Sedikit sedih, mungkin? Entahlah.
“Kenapa nyamuk yo Sat yang ngerubungin Bapakmu?”
Aku tak bisa menjawabnya.
Aku menarik napas.
Tersenyum sinis.
Ternyata begini rasanya.
“Tak tahu aku, Pak. Mungkin karena sebagai makhluk hidup, yang manis dan bisa dihargai dari dia, memang cuma darahnya saja.”
Aku kemudian berbalik arah.
Meninggalkan Pak Bandeng dengan si tua bodoh yang tersungkur itu.
Dasar.
Bodoh.
