Konten dari Pengguna

Terpangku

shafira d mt

shafira d mt

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari shafira d mt tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang perempuan menyendiri. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang perempuan menyendiri. Foto: Pixabay

Aku melihat seorang puan memungut bunga di sepanjang jalan menuju toko kelontong,

Tempat ibu biasanya memborong barang yang dieksekusinya di dapur kecil rumah kami,

Aku melihatnya dari lobang kecil,

Aku melihatnya terus berjalan memunguti setiap tangkai bunga-bunga layu itu,

Aku tidak mengerti apa yang dilakukannya,

Aku penasaran untuk menyapa,

Aku ingin tahu kenapa,

Tapi tembok rumah kami terlalu kokoh dan lobang ini terlalu kecil,

Aku tak bisa melakukan apa-apa,

Aku lihat tadi pagi di televisi banyak orang pakai baju seragam berdiri di jalanan,

Aku lihat banyak bendera tinggi-tinggi dikibarkan,

Bapak dan ibu hari ini lebih banyak diam,

Tidak mau menjelaskan apa-apa,

Aku bingung, tapi enggan bertanya,

Paling nanti bapak bilang, “Anak kecil diam saja,”

Yang kutahu, tadi bapak bilang “Kamu tidak usah sekolah dulu,” aku langsung berteriak girang!

Sebenarnya, bapak masih bilang satu dua kalimat lagi tapi aku kepalang senang hari ini tak perlu pergi menemui guru-guru sekolahku yang sombong-sombong itu. Mentang-mentang mengerti pelajarannya, jadi tidak mau mengajarkanku dengan baik. Padahal katanya, bak pelita, bagiku mereka tak lebih menyegarkan dari bak mandi rumahku di saat gerah.

Lelah memperhatikan puan semakin jauh dari pandangan, aku beralih ke atas loteng.

Ini adalah tempat favoritku di seantero rumah kecil kami. Rasanya, seperti punya tempat rahasia yang hanya aku dan rumah ini tahu.

Aku mengambil buku untuk menghibur hati.

Tenggelam dalam fantasi, sampai tiba-tiba ibu berteriak dari bawah memanggilku.

Tiba-tiba semua jadi berisik sekali.

Hilang sudah pelangi di kepalaku.

Aku dipaksa ditarik entah oleh siapa menghadapi entah apa.

Ada suara bedentam bedentum, terdengar dekat.

Aku langsung bergerak cepat, mencari lubang lain untuk melihat ke luar rumah kami.

Puan tidak lagi berada di jalanan,

Ia hilang,

Kini justru para orang-orang berseragam yang kulihat lari ke sana ke mari,

Ada kembang api di langit yang mulai berganti warna,

Apa orang-orang sedang berpesta?

Pesta apa?

Tapi, kalau berpesta, kenapa harus lari-lari?

Apa sedang bermain kejar-kejaran seperti kami di sekolah?

Tapi, muka mereka tidak terlihat bahagia.

Ah, mungkin sedang panik saja takut tertangkap.

Ayo! Ayo! Semangat kakak-kakak! Kalian pasti bisa! Aku saja tidak pernah tertangkap kalau main kejar-kejaran di sekolah!

Asyik sekali melihatnya, ternyata orang dewasa bisa bermain juga. Aku kira mereka tak punya waktu. Ternyata, tidak semua orang seperti bapak dan ibu.

Eh! Eh!

Kok, ada pak polisi juga?

Tapi, pak polisi bawa senjata. Apa permainan orang dewasa memang harus pakai senjata segala?

Loh, loh, kok ada yang berteriak?

Biasanya kalau main kejar-kejaran teman-teman perempuanku juga suka berteriak, tetapi setelah itu kami tertawa.

Aduh, kenapa teriakannya membuatku gelisah?

Aduh, kenapa teriakannya semakin banyak di mana-mana.

Aku coba perhatikan lebih cermat, itu bukan hanya teriakan perempuan, tapi juga laki-laku.

Aduh, aku tidak mengerti bagaimana cara bermain kejar-kejaran orang dewasa.

Duar!

Loh, pak polisi kenapa menembak-nembak?

Itu kan, bahaya?

Aku pernah lihat di televisi, katanya tidak boleh menembak sembarangan.

Nanti bisa masuk penjara, kata mbak-mbak pintar serba tahu yang setiap pagi menemani sarapanku. Iya loh, dia pintar sekali, semua hal yang terjadi di belahan dunia ini, dia pasti tahu. Keren!

Duar!

Aku mulai panik dan semakin tidak mengerti.

Ada tuan yang terjatuh tiba-tiba dan di kakinya keluar cairan merah. Apa itu darah?

Kupicingkan mataku agar dapat melihat lebih akurat.

Ya tuhan, itu memang darah.

Ada apa ini?

Pukannya pak ustaz di khotbah jumat bilang manusia tidak boleh saling menyakiti?

Duar!

RONI!

Suara tembakan dan suara teriakan ibu terdengar bersamaan. memekakkan telingaku. Suara-suara ini mulai menakutkanku.

Sebelum berpaling, sudut mataku juga menangkap di sebelah kiri ada seorang tuan yang pegang bendera merah putih, berlari. Hampir menabrak sepasang tuan dan puan yang berpegangan tangan, berlari. Tapi alih, alih bertabrakan mereka langsung berpegang tangan. Menjadikannya tiga. Berlari bertiga. Dengan merah putih di tangan yang terombang-ambing tak tentu arah. Di angkat tinggi-tinggi sang saka, karena katanya kan, tak boleh sampai tersentuh tanah?

Duar!

RONI!

Kedua kalinya suara tembakan dan suara ibu terdengar bersamaan. Di bawahku, jalanan semakin ramai tak karuan.

Permainan orang dewasa ini mengerikan.

Aku tidak mau jadi dewasa.

Aku segera berlari turun ke bawah.

meninggalkan pemandangan mengerikan yang melekat di kepala.

Ibu memelukku erat saat aku sampai di depannya.

Membuatku sulit bernapas.

Aku mendengar sayup-sayup,

Aku mendengar semakin jelas,

Aku mendengar semakin sumbang,

Teriakan-teriakan itu semakin kencang,

Tembakan-tembakan itu semakin banyak,

AAAAAAA!!!

DUAR DUAR!!! AAAAA!!!

DUARRR!!!

Aku merasakan bulir hangat di keningku. Aku mencoba mengintip mendongak. Aku melihat mata ibu. Ia menatapku nanar. Terlalu banyak jawaban dan pertanyaan dalam suatu tatapan.

Aku tidak mau menatap ibu lagi.

Aku tidak mau menjawab atau menanyakan sesuatu padanya. Aku tidak pernah melihat ibu seperti ini. Aku takut. Aku takut. Aku takut.

Aku dekap ibu erat-erat.

Tangan hangat lain mendekapku dari samping; Bapak.

Aku bergeming.

Rasanya aneh; tapi hangat.

Kupejamkan mataku. Damai.

Aku tidak pernah merasa sedamai ini.

Suara-suara itu perlahan hilang.

Hanya dekapan ibu dan bapak yang kuaminkan.

Tenang.

Tenang sekali.

“RONIIII!!!!!!”

Aku pergi.

—di antara keramaian dan sedu sedan tragedi 2019.