Asas Bisnis Islam: Menjaga Nilai Syariah di Tengah Perubahan Era Modern

Mahasiswi S-1 Ekonomi Syariah Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shafrina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi membuat cara menjalankan bisnis ikut berubah. Jika dahulu usaha mengandalkan toko dan lokasi strategis, sekarang bisnis dapat menjangkau konsumen lebih luas melalui media sosial dan marketplace. Promosi, transaksi, hingga pembayaran bisa dilakukan secara digital sehingga kegiatan bisnis menjadi lebih mudah dan cepat.
Namun, kemudahan ini juga membuat persaingan semakin ketat. Pelaku usaha dituntut lebih kreatif dalam menarik perhatian konsumen, tetapi bukan berarti bebas menggunakan cara apa saja untuk mendapatkan keuntungan.
Dalam Islam bisnis memang diperbolehkan dan keuntungan merupakan bagian yang wajar dari aktivitas perdagangan. Tetapi, cara mendapatkannya tetap memiliki batas. Bisnis harus dijalankan dengan berpegang pada prinsip kejujuran, amanah, keadilan, transparansi, dan tanggung jawab. Prinsip-prinsip tersebut tetap penting diterapkan, meskipun kegiatan bisnis kini semakin banyak dilakukan melalui marketplace, media sosial, dan berbagai platform digital.
Salah satu asas utama dalam bisnis Islam adalah kejujuran. Dalam praktik bisnis saat ini, jujur bukan hanya berarti tidak berbohong kepada konsumen, tetapi juga memberikan informasi produk sesuai dengan kondisi sebenarnya. Foto, deskripsi, kualitas, maupun harga harus disampaikan secara jelas agar konsumen tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang keliru.
Hal serupa juga berlaku dalam promosi digital. Diskon, flash sale, ulasan pelanggan, dan promosi melalui influencer memang menjadi strategi yang umum digunakan untuk menarik konsumen. Strategi tersebut tidak menjadi masalah selama dilakukan secara jujur. Persoalannya muncul ketika promosi dibuat berlebihan atau menyesatkan sehingga konsumen terdorong membeli tanpa mendapatkan informasi yang cukup.
Selain kejujuran, amanah juga menjadi hal penting dalam menjalankan bisnis. Saat membeli barang secara online, konsumen sebenarnya memberikan kepercayaan kepada penjual karena mereka tidak bisa melihat barang secara langsung. Oleh karena itu, penjual harus memastikan barang, harga, dan pelayanan sesuai dengan yang sudah dijanjikan.
Hal ini juga berlaku dalam promosi melalui influencer atau media sosial. Ketika seorang influencer merekomendasikan suatu produk, ada kepercayaan dari pengikut yang ikut dipertaruhkan. Penggunaan influencer dalam penjualan melalui TikTok memang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, tetapi tetap perlu diperhatikan agar informasi yang disampaikan benar dan tidak menyesatkan.
Asas berikutnya adalah keadilan. Dalam dunia bisnis, persaingan memang tidak bisa dihindari, tetapi persaingan tetap harus dilakukan secara sehat dan tidak merugikan pihak lain. Manipulasi informasi, penipuan, kecurangan harga, maupun promosi yang menyesatkan tidak sesuai dengan prinsip keadilan dalam bisnis Islam.
Prinsip ini semakin penting di tengah perkembangan bisnis digital. Siapa pun kini bisa membuka toko online dan memasarkan produk melalui media sosial, sehingga persaingan menjadi lebih terbuka. Di sisi lain, konsumen juga semakin bergantung pada informasi yang diberikan penjual. Karena itu, keterbukaan dan transparansi menjadi bagian penting dalam menjaga etika bisnis.
Hal tersebut semakin relevan dengan meningkatnya transaksi digital di Indonesia. Bank Indonesia mencatat bahwa pembayaran digital terus berkembang, termasuk transaksi QRIS yang mengalami pertumbuhan tinggi pada 2025. Ini menunjukkan bahwa transaksi digital sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat, bukan sekadar tren sementara.
Di tengah perkembangan teknologi, bisnis Islam tidak perlu berseberangan dengan perubahan. Islam tidak melarang inovasi, tetapi memberikan pedoman agar teknologi digunakan sesuai prinsip syariah. Marketplace, media sosial, pembayaran digital, hingga kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha selama tetap dilakukan secara jujur dan bertanggung jawab.
Bisnis syariah juga tidak hanya dilihat dari halal atau tidaknya produk, tetapi dari bagaimana proses bisnis tersebut dijalankan. Keuntungan harus diperoleh melalui transaksi yang jujur, transparan, adil, dan bebas dari praktik yang dilarang dalam Islam.
Semakin berkembangnya ekonomi modern justru membuat asas bisnis Islam semakin penting. Persaingan yang semakin luas membuat kepercayaan menjadi kunci dalam mempertahankan usaha. Bisnis boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi nilai kejujuran, etika, dan tanggung jawab tetap harus dijaga agar keuntungan dan inovasi dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.
