Kamu Beneran Baik-Baik Aja atau Cuma Terbiasa Pura-Pura? Psikologi Menjawab

Mahasiswi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Shafwa Alima tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ternyata, kita nggak bisa bohongi perasaan kita sendiri loh.
Kadang kita pikir, kita sudah cukup kuat untuk pura-pura tidak merasakan apa-apa. Bodo amat. Bilang ke diri sendiri: "Gapapa kok, aman aja, udah biasa." Seolah-olah dengan mengucapkannya, semuanya bisa selesai begitu saja.
Padahal jauh di dalam sana, ada yang berisik. Ada yang belum benar-benar selesai.
Di depan orang lain, kita bisa terlihat baik-baik saja. Ketawa, ngobrol, tampil normal sepenuhnya. Tidak ada yang curiga. Tidak ada yang tahu.
Tapi begitu sendirian, sepi itu datang. Hal-hal yang coba kita lupakan, tiba-tiba terasa lagi. Pelan-pelan, atau sekaligus.
Dan di titik itulah kita sadar: kita nggak bisa bohongi diri sendiri. Semuanya tumpah, entah dalam bentuk air mata, kelelahan, atau rasa yang sulit dijelaskan namanya.
Ternyata Ini Namanya Apa?
Apa yang kita alami itu ternyata ada namanya loh! yaitu emotional suppression.
Psikolog James Gross dari Stanford University (1998) menjelaskan bahwa emotional suppression adalah cara kita menekan tanda-tanda luar dari perasaan yang ada di dalam. Sederhananya: emosinya tetap ada, tapi kita paksa supaya tidak kelihatan. Senyum tetap terpasang, suara tetap stabil, jawaban tetap "baik-baik aja", sementara di dalam, semuanya masih penuh.
Dan yang perlu digarisbawahi: ini bukan tanda kelemahan. Ini mekanisme yang otak kita lakukan, hal ini seringkali tanpa kita sadari, bahkan tanpa kita minta.
Kenapa Sih Kok Kita Jadi Terbiasa Pura-Pura?
Lalu kenapa kita bisa sampai terbiasa melakukan ini?
Seringkali jawabannya ada di lingkungan. Ada orang yang dari kecil memang tidak terbiasa mengungkapkan perasaan, entah karena tidak ada ruang untuk itu, atau karena pernah merasa bahwa emosinya tidak dianggap. Lama-lama, menyimpan perasaan jadi sesuatu yang terasa "normal."
Ada juga yang terlalu terbiasa memikirkan orang lain. Takut merepotkan, tidak enak mengungkapkan apa yang dirasakan, lebih nyaman jadi pendengar daripada yang didengar. Perasaan sendiri? Nanti dulu.
Dan ketika pola itu terus berulang, perasaan yang tidak pernah diungkapkan itu menumpuk. Satu per satu, diam-diam. Sampai suatu titik, tubuh dan pikiran sudah terlalu lelah untuk pura-pura kuat. Lalu semuanya meledak, kadang dalam bentuk yang bahkan kita sendiri tidak mengerti dari mana asalnya.
Tanda-Tanda Kamu Lagi Membohongi Perasaan Sendiri
Lalu bagaimana mengenali bahwa kita sedang membohongi perasaan sendiri? Tandanya seringkali halus, bahkan kita sendiri tidak menyadarinya.
Kamu mungkin sangat mudah menangis ketika sendirian, tapi begitu ada orang lain, kamu bisa bersikap ramah, tertawa, seolah tidak ada yang terjadi. Kamu refleks menjawab "baik-baik aja" ketika ditanya, bahkan sebelum sempat benar-benar merasakannya. Kamu lebih nyaman mendengar cerita orang lain daripada menceritakan dirimu sendiri. Dan kadang, kamu merasa lelah atau kosong, tapi tidak tahu lelah karena apa.
Tanda-tanda ini bukan kelemahan. Ini sinyal bahwa ada sesuatu di dalam yang belum benar-benar didengar.
Apa yang Terjadi Kalau Terus Dibiarkan?
Lalu apa yang terjadi kalau semua ini terus dibiarkan?
Penelitian dari Baylor University yang dipublikasikan di PubMed (2023) menemukan bahwa emotional suppression berkaitan dengan reaktivitas stres fisiologis yang lebih tinggi, artinya tubuh kita tetap "menanggung" beban itu meski kita pura-pura tidak merasakannya. Jantung, hormon stres, semuanya ikut terdampak. Perlahan, tanpa kita sadari.
Tidak hanya tubuh. Hubungan dengan orang lain pun ikut terpengaruh. Gross & John (2003) menemukan bahwa kebiasaan menekan emosi berkaitan dengan fungsi interpersonal yang lebih buruk, kita jadi sulit terhubung secara tulus dengan orang lain, karena sebagian diri kita selalu berjaga-jaga.
Dan pada akhirnya, kesehatan mental pun ikut berbicara. Emotional suppression yang dibiarkan terlalu lama berkorelasi dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan. Bukan karena kita tidak cukup kuat, tapi karena tidak ada manusia yang bisa terus menyimpan tanpa pernah melepaskan.
Langkah Kecil Untuk Mulai Jujur ke Diri Sendiri
Lalu dari mana kita mulai?
Tidak perlu langsung berubah drastis. Mulai dari yang kecil saja.
Coba biasakan menulis di jurnal atau catatan setiap malam sebelum tidur, hari ini ngapain aja, ketemu siapa, dan yang paling penting: hari ini rasanya gimana? Tidak perlu panjang, tidak perlu bagus. Ini bukan untuk dibaca orang lain, tapi ini untuk kamu sendiri. Psikologi menyebutnya expressive writing, dan penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini membantu kita mengenali dan memproses emosi yang selama ini tersimpan.
Selain itu, coba biasakan untuk tidak langsung menjawab "baik-baik aja" ketika ada sesuatu yang sebenarnya terasa berat. Tidak harus cerita semuanya tapi izinkan dirimu untuk mengakui, minimal ke diri sendiri, bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja.
Dan kalau sudah siap, cerita. Ke satu orang yang kamu percaya. Tidak harus semuanya, tidak harus sempurna. Sedikit dulu, cukup.
Pada akhirnya, tidak ada yang bisa kita lakukan untuk benar-benar lari dari perasaan kita sendiri. Cepat atau lambat, semuanya akan berbicara, entah lewat air mata di malam yang sepi, entah lewat ledakan yang tidak kita duga.
Jadi daripada terus berpura-pura, mungkin sudah waktunya kita mulai jujur. Pelan-pelan. Tidak harus sekaligus.
Karena dirimu itu berharga. Dan seseorang yang berharga layak untuk diperlakukan dengan baik, termasuk oleh dirinya sendiri. Kalau bukan kamu yang mulai menyayangi dirimu, siapa lagi?
Semuanya akan baik-baik saja. Insyaallah.
____________________________________
Oleh Shafwa Alima, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.
