Konten dari Pengguna

Penerapan Mindfulness dalam Menemukan Makna Kesendirian

Shafwah Izzatunnisa

Shafwah Izzatunnisa

Mahasiswa Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shafwah Izzatunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

kesendirian terasa menyedihkan. source: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
kesendirian terasa menyedihkan. source: pexels.com

Sebagai seorang makhluk sosial, seringkali kita merasa bahwa kesendirian adalah hal yang menyedihkan. Tak jarang kita melihat ke kiri dan kanan sudah ada pegangan, namun diri ini belum juga menemukan pasangan. Lalu, muncul kekhawatiran dan kecemasan karena membandingkan kehidupan kita dengan teman-teman.

Padahal, hal tersebut bukanlah sumber utama penentu kebahagiaan seseorang bukan? Padahal, masih ada keluarga dan teman yang selalu ada bukan? Namun, bagaimana jika rasa kesendirian itu berasal dari dalam diri dan sulit dihindarkan?

Kesendirian akan terasa menyakitkan dan menakutkan, terutama jika dikaitkan dengan kekhawatiran akan masa depan. Perasaan tertinggal atau ditinggalkan dapat menjadi salah satu penyebabnya. Tertinggal dalam hal kesuksesan, pendidikan, pekerjaan, ataupun pasangan dapat membuat seseorang terjebak dalam kekhawatiran. Atau ditinggalkan orang tersayang juga bisa menjadi pengalaman traumatis yang menakutkan. Ketakutan akan menjadi semakin besar ketika melihat orang lain seolah-olah selalu bahagia, ceria, dan tidak takut menjalani kehidupannya, lalu kita jadi semakin merasa sendirian (Kardiansyah & Yilei, 2023).

Emosi, perasaan, dan pikiran yang berlarut atas suatu hal menyakitkan terkadang menyeret seseorang dalam kesedihan yang mendalam. Beberapa emosi tersebut dapat datang secara acak, seperti seseorang yang tiba-tiba menangis di keramaian tanpa tahu penyebabnya. Perasaan-perasaan tersebut biasanya berasal dari hal-hal yang seringkali direpresi dalam dada, sehingga terperangkap dalam kepala, dan terisolasi dalam asumsi. Meskipun begitu, manusia sebenarnya bisa mengontrol emosi dan pikirannya menjadi lebih tenang dan keluar dari rasa ketakutan berlebihan yang ada di dalam dirinya.

sendiri di tengah keramaian. source: pexels.com

Dalam kehidupan modern yang penuh dengan kesibukan dan distraksi, banyak orang merasa kesepian meskipun di tengah keramaian. Merasa kesepian, terasingkan, tidak dipedulikan, atau tidak layak dicintai dapat membuat manusia membenci dirinya sendiri.

Salah satu penyebab timbulnya rasa benci dalam diri adalah karena ketidakmampuan seseorang dalam mengolah hal yang dianggap buruk menjadi sesuatu yang lebih bermakna, seperti halnya kesendirian. Dalam menghadapi problem kesendirian tersebut, mindfulness dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk membantu individu menemukan ketenangan dari situasi yang dirasa menyedihkan.

Apa itu Mindfulness?

Menurut Baer, et al (2006), mindfulness merupakan peningkatan kesadaran penuh dengan berfokus pada pengalaman saat ini (present-moment awareness), serta penerimaan tanpa memberikan penilaian (non judgemental acceptance). Terdapat tiga dimensi pada mindfulness, yaitu:

  1. Acting with awareness atau bertindak dengan kesadaran, yakni menyadari tindakan yang sedang dilakukan dengan menaruh kesadaran pada saat ini.

  2. Observing atau mengobservasi, yakni kemampuan menyadari stimulus internal, seperti pikiran, perasaan, dan sensasi tubuh.

  3. Accepting without judgement atau penerimaan tanpa penilaian, yakni menerima dan mengamati tanpa menilai apa yang ada di pikiran.

Mindfulness hadir sebagai solusi untuk menghadapi gangguan kecemasan, kesedihan, kesepian, atau kekhawatiran berlebihan yang seringkali melanda. Dengan berfokus pada apa yang terjadi saat ini, maka kita tidak perlu menyesali apa yang sudah berlalu atau mengkhawatirkan masa depan.

Bagaimana cara menerapkan Mindfulness?

Aplikasi mindfulness dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan melatih pernapasan atau disebut dengan mindful breathing. Penerapan mindful breathing dipercaya dapat mereduksi stress dan kecemasan dengan memberikan perhatian penuh pada pernapasan (Williams et al., 2007).

ilustrasi mindful breathing. source: unsplash.com

Untuk mengetahui pergerakan pernapasan dalam tubuh dapat dilakukan dengan berbaring telentang dan meletakkan satu tangan di atas perut. Lalu, perhatikan posisi dinding perut yang naik seiring dengan masuknya napas dan turun seiring dengan keluarnya napas. Rasakan gerakan tersebut dengan tangan, lalu tanpa tangan, dan letakkan pikiran di perut. Biarkan ia datang dan pergi sebagaimana mestinya tanpa harus mengontrol aliran nafas yang masuk dan keluar. Rasakan perubahan sensasi fisik, lalu beristirahatlah dalam kesadaran dengan gerakan pernapasan dalam tubuh.

Memberikan perhatian penuh pada pernapasan dapat dilakukan dalam posisi apapun, seperti tiduran atau duduk. Dengan belajar memfokuskan dan memusatkan kembali perhatian pada nafas akan mengajarkan kita cara untuk hadir sepenuhnya di sini dan pada saat ini. Hal tersebut dapat dilakukan ketika ada hal yang menyedihkan dan mengganggu pikiran, di mana kita harus belajar mengendalikan diri dengan memberi jeda untuk berpikir sejenak. Setelah itu, barulah kita memberi respon dengan tenang.

Penerapan mindfulness tidak hanya dilakukan melalui latihan pernapasan, namun ada juga mindfulness dalam berjalan atau mindful walking, mindfulness dalam berbicara atau mindful speaking, dan masih banyak lagi. Dengan mengaplikasikan metode-metode mindfulness tersebut diharapkan bisa menciptakan ketenangan dalam kesendirian.

Ketika kesedihan atau ketakutan melanda, cukup rasakan tanpa menyangkal atau mengubahnya menjadi perasaan lain. Jika kita menahan atau meluapkan dengan kemarahan, justru akan mempersulit keadaan. Begitu pun jika kita menyangkal kesedihan dengan membangun delusi atas realita yang terjadi, maka akan menimbulkan penderitaan berkepanjangan.

Apa kaitan Mindfulness dengan Kesendirian?

Melalui latihan kesadaran diri dan fokus pada apa yang terjadi saat ini, kita dapat memahami dan menerima kesendirian tanpa terjebak dalam rasa sedih berkepanjangan. Dengan mengamati dan meresapi momen yang ada, kita dapat melihat kesendirian sebagai suatu peluang untuk mengenal diri sendiri dan mencari makna hidup yang lebih dalam, menjadi kesempatan untuk refleksi, serta mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Jika telah menerapkan mindfulness dalam keseharian, maka kita dapat memaknai kesendirian dengan mensyukuri hal-hal yang ada di sekitar tanpa terjebak dalam kekhawatiran.

Dengan demikian, relevansi dari pengaplikasian mindfulness tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan emosional, tetapi juga membantu individu mengubah perspektif mereka terhadap ‘kesendirian’ menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Dengan menerapkan mindfulness dalam kehidupan, kita dapat mengatasi problem tersebut dan tidak lagi merasa sendiri sebagai sesuatu yang patut dikhawatirkan.

Daftar Pustaka

Baer, R. A., Smith, G. T., Hopkins, J., Krietemeyer, J., & Toney, L. (2006). Using self-report assessment methods to explore facets of mindfulness. Assessment, 13(1), 27-45.

Kardiansyah, N. N., & Yilei, W. (2023). Mengubah Pandangan Hidup dalam Kesendirian. Literaksi: Jurnal Manajemen Pendidikan, 01(01), 229–234.

Williams, M., Teasdale, J., Segal, Z., & Kabat-Zinn, J. (2007). The Mindful Way trough Depression. In Case Medical Research. The Guilford Press. https://doi.org/10.31525/ct1-nct03922217