Konten dari Pengguna

Skid Row, City of Homelessness: Manifestasi dari Structural Violence

Shallom Elzeta Putri

Shallom Elzeta Putri

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Mulawarman

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shallom Elzeta Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Homeless di area Skid Row pada tanggal  24 November 2022 di Los Angeles. Foto: https://www.shutterstock.com/image-photo/homeless-people-skid-row-area-on-2230423275
zoom-in-whitePerbesar
Homeless di area Skid Row pada tanggal 24 November 2022 di Los Angeles. Foto: https://www.shutterstock.com/image-photo/homeless-people-skid-row-area-on-2230423275

Homelessness atau Tunawisma adalah salah satu masalah kebijakan publik yang sangat sulit untuk dihadapi. Amerika Serikat, yang termasuk negara terkaya di dunia menghadapi masalah ini di kota-kota besarnya seperti Los Angeles, Sacramento dan San Fransisco kesulitan untuk mengatasinya bahkan meningkat dari tahun ketahun. Mengapa hal ini terjadi? Mari simak beberapa faktanya:

  1. Homelessness tidak hanya masalah tempat tinggal, ini adalah masalah kemanusiaan.

Penyebab utama dari Homelessness yang marak terjadi di Amerika Serikat adalah kecanduan obat-obatan terlarang dan gangguan mental.

Menurut data dari California Policy Lab di UCLA, sekitar tiga perempat dari orang yang hidup dan tinggal di dalam mobil, tenda, dan di jalanan menderita gangguan mental serius, kecanduan obat, atau keduanya.

  1. Para Homelessness sebenarnya rasional memilih di mana mereka ingin tinggal.

Meskipun dengan kondisi-kondisi tersebut, para tunawisma sebenarnya membuat keputusan yang rasional tentang di mana mereka ingin tinggal. Tidak mengherankan, banyak dari mereka pindah ke lingkungan yang paling toleran yang bisa mereka temukan. Jalur underpass Venice Boulevard di perbatasan antara Los Angeles dan Culver City menguatkan argumen ini. Jalur ini adalah salah satu dari ribuan struktur beton di daerah Los Angeles, namun ada detail menarik: sisi Los Angeles penuh dengan tenda-tenda, namun pada sisi Culver City kosong. Mengapa?

Karena kedua kota memiliki kebijakan publik yang berbeda. Los Angeles secara efektif telah memperbolehkan membangun kemah dipublik dan konsumsi obat di tempat umum, sementara Culver City menegakkan hukum. Pola ini menunjukkan bahwa para tunawisma pergi ke tempat di mana lingkungan kebijakan paling toleran—dapat dilihat di sepanjang West Coast. Di wilayah San Francisco, diperkirakan bahwa 30% dari homeless bermigrasi ke sana setelah menjadi homeless di tempat lain. Di kota Seattle, angka tersebut mencapai 51%.

Menurut perkiraan San Francisco Chronicle, ratusan individu homeless pindah ke Bay Area setiap tahun karena "persepsi bahwa ini adalah tempat perlindungan bagi orang-orang yang enggan berpartisipasi dalam program-program yang dirancang untuk membantu mereka keluar dari kehidupan di jalanan, dan menjaga mereka agar tetap tidak menjadi tunawisma."

Dalam survei penelitian tentang homeless migran di Seattle, 15% mengatakan mereka datang untuk mengakses layanan tunawisma, 10% datang untuk ganja legal, dan 16% merupakan orang yang sedang "bepergian atau berkunjung" ketika mereka memutuskan untuk mendirikan perkemahan. Namun, hal ini secara dramatis mengabaikan daya tarik terbesar dari semuanya: legalisasi de facto perkemahan jalanan, konsumsi obat-obatan, dan kejahatan properti. Seperti yang ditunjukkan oleh mantan penasihat keamanan publik Seattle, Scott Lindsay, kota tersebut sekarang menjadi rumah bagi populasi besar homeless "pelaku kejahatan yang produktif" - orang-orang yang melakukan kejahatan properti untuk memenuhi kecanduan mereka tetapi jarang dipertanggungjawabkan atas kejahatan tersebut oleh sistem peradilan pidana.

Homeless di area Skid Row pada tanggal 24 November 2022 di Los Angeles. Foto: https://www.shutterstock.com/image-photo/homeless-people-skid-row-area-on-2230423275

Kekerasan struktural menjadi faktor krusial dalam menjelaskan krisis homelessness yang melanda Los Angeles. Dalam konteks ini, krisis homeless menjadi fokus utama, dengan kebijakan tempat tinggal yang tidak memadai dan lonjakan harga sewa yang membuat banyak warga kesulitan untuk mendapatkan atau mempertahankan tempat tinggal yang layak. Selain itu, akses terbatas terhadap layanan kesehatan mental dan rehabilitasi obat-obatan terlarang juga menjadi masalah serius bagi banyak homeless di kota ini. Faktor-faktor struktural, seperti kurangnya pendanaan yang difokuskan untuk layanan kesehatan dan pembatasan akses terhadap sumber daya masyarakat, memperdalam ketidaksetaraan dalam kesempatan akses bagi mereka yang terpinggirkan. Dalam situasi ini, upaya pemerintah dan masyarakat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan meningkatkan akses terhadap layanan yang dibutuhkan menjadi sangat penting untuk mengatasi krisis homelessness yang masih terjadi dan terus meningkat di Los Angeles.