Budaya Flexing: Pengaruh Status Sosial terhadap Gaya Konsumsi Generasi Z
Tulisan dari Shalsa Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budaya flexing di media sosial semakin sering dijumpai, terutama di kalangan Generasi Z. Saat membuka Instagram atau TikTok, kita dapat melihat berbagai unggahan tentang barang bermerek, makanan mahal, perjalanan ke luar negeri, hingga pencapaian pribadi. Fenomena memamerkan harta, gaya hidup, dan pencapaian ini dikenal sebagai flexing. Istilah yang awalnya berasal dari budaya hip-hop Amerika tersebut kini semakin lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya Generasi Z yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012.
Generasi Z tumbuh sebagai digital native. Bagi mereka, media sosial bukan sekadar hiburan, melainkan ruang untuk membangun identitas, bersosialisasi, dan mencari pengakuan. Di ruang inilah status sosial tidak lagi diukur semata dari pekerjaan atau kekayaan sesungguhnya, melainkan dari apa yang tampak di layar. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana budaya flexing memengaruhi keputusan belanja dan pola konsumsi Generasi Z.
Memahami Flexing dan Maknanya
Secara sederhana, flexing adalah tindakan menampilkan kekayaan, kesuksesan, atau barang mewah untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dari orang lain. Dalam sosiologi, perilaku ini sebenarnya bukan hal baru. Thorstein Veblen pada akhir abad ke-19 telah memperkenalkan konsep conspicuous consumption atau konsumsi mencolok, yakni membeli barang bukan karena kebutuhan, melainkan untuk menunjukkan kedudukan sosial. Pierre Bourdieu juga menjelaskan bahwa selera dan gaya hidup berfungsi sebagai penanda kelas sosial.
Yang membedakan era sekarang adalah medianya. Media sosial memperluas panggung pamer dari lingkungan sekitar menjadi audiens yang tak terbatas. Satu unggahan dapat dilihat ribuan orang dalam hitungan menit, lengkap dengan tombol suka, komentar, dan bagikan sebagai bentuk validasi instan. Kegiatan memamerkan sesuatu pun menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih menggoda.
Media Sosial sebagai Panggung Status Sosial
Bagi sebagian anak muda, media sosial berfungsi layaknya etalase diri. Setiap unggahan diseleksi, diedit, dan dikurasi agar menampilkan versi terbaik dari kehidupan seseorang. Algoritma platform turut memperkuat pola ini karena konten yang menarik perhatian, termasuk yang tampak glamor, cenderung mendapat jangkauan lebih luas.
Beberapa faktor yang membuat flexing berkembang pesat di kalangan Generasi Z antara lain:
Kebutuhan akan pengakuan sosial. Masa remaja hingga dewasa awal adalah fase pencarian identitas. Pengakuan teman sebaya menjadi sangat berarti.
Peran influencer dan selebgram. Figur publik yang rutin memamerkan gaya hidup mewah dianggap sebagai standar kesuksesan dan menjadi panutan.
Fenomena FOMO (fear of missing out). Rasa takut tertinggal tren mendorong anak muda mengikuti gaya hidup yang sedang naik daun.
Perbandingan sosial. Melihat pencapaian orang lain secara terus-menerus memicu keinginan untuk menyamai, bahkan melampaui.
Ekonomi kreator. Citra sukses dapat dimonetisasi, sehingga tampil "berkelas" dipandang sebagai investasi untuk membangun merek pribadi.
Dampak Budaya Flexing terhadap Gaya Konsumsi Generasi Z
1. Konsumsi demi citra, bukan kebutuhan
Keputusan membeli kerap dipengaruhi pertanyaan "apakah ini layak diunggah?" dibanding "apakah ini benar-benar dibutuhkan?". Kafe dipilih karena estetik untuk difoto, pakaian dibeli demi konten outfit of the day, dan gawai terbaru dimiliki agar tidak terlihat ketinggalan. Nilai guna suatu barang bergeser menjadi nilai tampil.
2. Meningkatnya perilaku impulsif dan konsumtif
Kemudahan belanja daring, fitur paylater, serta konten haul dan racun belanja membuat batas antara keinginan dan kebutuhan semakin kabur. Banyak anak muda membeli barang di luar kemampuan finansial demi menjaga penampilan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko menimbulkan utang konsumtif dan masalah keuangan sejak usia muda.
3. Gaya hidup "YOLO" dan pengorbanan tabungan
Semboyan you only live once sering dijadikan pembenaran untuk menghabiskan uang pada pengalaman mewah. Menabung, berinvestasi, atau menyiapkan dana darurat terasa kurang menarik karena tidak "layak pamer". Padahal, kemapanan finansial yang sehat jarang tampil spektakuler di linimasa.
4. Tekanan psikologis dan kesehatan mental
Paparan terhadap kehidupan orang lain yang tampak sempurna dapat menimbulkan rasa rendah diri, cemas, dan tidak puas dengan hidup sendiri. Sebagian anak muda merasa harus terus "tampil sukses" meski kondisi sebenarnya berbeda. Kesenjangan antara citra daring dan kenyataan ini dapat memicu stres dan kelelahan emosional.
5. Munculnya flexing semu
Tidak semua yang dipamerkan adalah milik sendiri. Ada yang menyewa barang mewah, meminjam properti, atau mengandalkan cicilan demi foto yang meyakinkan. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya dorongan untuk terlihat berstatus tinggi, sekalipun harus mengorbankan kejujuran dan kestabilan keuangan.
Sisi Lain: Tidak Semua Flexing Bersifat Negatif
Penting untuk bersikap adil dalam melihat fenomena ini. Berbagi pencapaian, misalnya lulus kuliah, mendapat pekerjaan, atau berhasil merintis usaha, dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi. Bagi pelaku usaha muda, menampilkan kualitas dan keberhasilan produk merupakan bagian dari strategi pemasaran. Masalah muncul ketika pamer berubah menjadi tujuan utama, memicu perbandingan yang tidak sehat, dan mendorong pola konsumsi di luar batas kemampuan.
Selain itu, kini juga berkembang tren tandingan seperti underconsumption core, de-influencing, dan gaya hidup minimalis yang mengajak anak muda lebih bijak dalam berbelanja. Hal ini menunjukkan bahwa Generasi Z tidak seragam; sebagian justru kritis terhadap budaya konsumtif.
Upaya Menyikapi Budaya Flexing
Agar tidak terjebak dalam pusaran flexing, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan Generasi Z maupun lingkungan di sekitarnya:
Meningkatkan literasi keuangan. Memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan, membuat anggaran, serta menyisihkan tabungan sebelum berbelanja.
Mengembangkan literasi digital dan berpikir kritis. Menyadari bahwa konten media sosial adalah hasil kurasi dan tidak selalu mencerminkan kenyataan.
Membangun harga diri dari nilai intrinsik. Menilai diri dari karakter, kompetensi, dan kontribusi, bukan dari barang yang dimiliki.
Mengatur penggunaan media sosial. Membatasi waktu layar dan mengikuti akun yang memberi nilai positif.
Peran keluarga, sekolah, dan kampus. Memberikan edukasi tentang pengelolaan keuangan dan dampak psikologis media sosial.
Tanggung jawab kreator dan influencer. Menampilkan konten yang jujur dan tidak menormalkan gaya hidup yang menyesatkan.
Pada akhirnya, budaya flexing di media sosial dapat memengaruhi gaya konsumsi Generasi Z karena keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan mengikuti tren. Jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini dapat mendorong perilaku konsumtif dan mengganggu kondisi keuangan. Oleh karena itu, Generasi Z perlu bijak dalam menggunakan media sosial dan mengatur pengeluaran. Kesuksesan tidak harus ditunjukkan melalui barang mewah, tetapi juga melalui kemampuan menjalani kehidupan dan mengelola keuangan dengan baik.

