Penerapan Total Quality Management (TQM) dalam Peningkatan Mutu Pendidikan

Mahasiswa Manajemen Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Shalsabilla Hadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan merupakan pendekatan manajemen yang menekankan mutu secara menyeluruh. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada setiap proses yang berlangsung di dalam penyelenggaraan pendidikan. TQM menuntut keterlibatan seluruh komponen sekolah sampai pimpinan, guru, tenaga kependidikan, siswa, hingga orang tua Untuk melakukan perbaikan berkelanjutan atau continuous improvement. Menurut Hidayat, TQM adalah manajemen strategis yang mengutamakan peningkatan mutu layanan pendidikan melalui partisipasi semua unsur. Sallis menambahkan bahwa TQM merupakan filosofi perbaikan berkesinambungan yang menyediakan alat praktis bagi sekolah dalam memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan pendidikan. Sementara itu, Goetsch & Davis menegaskan bahwa keberhasilan TQM hanya dapat dicapai apabila semua pihak menyadari tanggung jawab bersama terhadap mutu, sehingga kualitas bukan hanya tanggung jawab pimpinan atau guru, melainkan seluruh warga sekolah.

Pada MTsN 1 Jakarta, implementasi prinsip-prinsip TQM dapat dilihat melalui berbagai aspek proses pendidikan. Berdasarkan observasi yang dilakukan kepada siswa, mereka memahami bahwa visi dan misi sekolah diarahkan untuk membentuk peserta didik yang aktif, berkarakter, dan memiliki rasa ingin tahu tinggi. Para siswa merasa bahwa kegiatan yang dilaksanakan sekolah selaras dengan visi tersebut, karena lingkungan belajar yang ada membuat mereka merasa nyaman, termotivasi, dan mampu mengembangkan potensi diri secara optimal.
Pada proses pembelajaran, siswa menilai bahwa guru-guru di MTsN 1 Jakarta telah merencanakan kegiatan belajar dengan baik. Setiap materi disampaikan secara jelas dan rinci sehingga mudah dipahami. Ketika siswa mengalami kesulitan, guru selalu memberikan penjelasan tambahan. Selain itu, guru juga rutin melakukan evaluasi setelah ujian atau tugas, sebagai bagian dari penerapan siklus PDCA (Plan–Do–Check–Act) untuk memastikan pembelajaran berjalan efektif.
Keterlibatan siswa dalam pengembangan sekolah juga menjadi bagian penting dalam penerapan TQM. Para siswa menyampaikan bahwa pendapat mereka sering didengar oleh guru maupun pihak sekolah. Kegiatan seperti class meeting setelah ujian merupakan contoh program yang mengakomodasi aspirasi siswa. Mereka juga merasa memiliki kesempatan untuk menyampaikan masukan apabila terdapat masalah di lingkungan sekolah, yang menunjukkan adanya budaya kerja yang demokratis dan terbuka.
Dalam hal penggunaan data dan evaluasi, siswa mengaku pernah mengisi angket penilaian layanan dan proses pembelajaran. Mereka merasakan adanya perubahan positif setelah evaluasi tersebut, baik dalam cara guru mengajar maupun dalam peningkatan motivasi belajar siswa sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah memanfaatkan data untuk mendorong perbaikan berkelanjutan sesuai prinsip TQM.
Budaya mutu di MTsN 1 Jakarta juga tercermin dari suasana belajar yang disiplin dan penuh kerja sama. Guru dan siswa saling menghargai selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga tercipta iklim sekolah yang kondusif dan mendukung tumbuhnya motivasi belajar. Dorongan serta perhatian dari guru turut membuat siswa lebih aktif dan bersemangat dalam kegiatan belajar.
Selain itu, kerja sama antara sekolah dengan orang tua berjalan dengan baik. Guru sering mengundang wali murid untuk mengikuti musyawarah atau rapat yang membahas rencana kegiatan serta perkembangan siswa. Pelibatan ini membuat orang tua lebih memahami apa yang akan dilaksanakan di sekolah dan dapat memberikan dukungan yang sesuai kepada anak-anak mereka. Kolaborasi ini juga mencerminkan kemitraan antara sekolah dan masyarakat, sebagai salah satu langkah dalam implementasi TQM.
Secara keseluruhan, hasil observasi menunjukkan bahwa MTsN 1 Jakarta telah menerapkan prinsip-prinsip TQM dalam berbagai aspek kegiatan sekolah. Mulai dari visi yang jelas, proses pembelajaran yang terencana, keterlibatan warga sekolah, penggunaan data evaluasi, pengembangan budaya mutu, hingga kemitraan dengan orang tua—semuanya menunjukkan komitmen sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan secara berkelanjutan
Salwa Nisa Umniyah
Shalsabilla Hadi Pertiwi
Vira Septaria Utami
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Progam Studi Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
