Konten dari Pengguna

Haji itu Miniatur Kehidupan

Shamsi Ali

Shamsi Aliverified-green

Putra Indonesia ini merupakan Imam yang dihormati di AS. Dinobatkan sebagai salah 1 tokoh agama berpengaruh di New York.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shamsi Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jemaah haji berkumpul di Bukit Rahmah di dataran Arafah selama ibadah haji tahunan, di luar kota suci Makkah, Arab Saudi, Selasa (27/6/2023). Foto: Mohamed Abd El Ghany/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Jemaah haji berkumpul di Bukit Rahmah di dataran Arafah selama ibadah haji tahunan, di luar kota suci Makkah, Arab Saudi, Selasa (27/6/2023). Foto: Mohamed Abd El Ghany/REUTERS

Tak tersangkal lagi bahwa selain sebagai representasi Kesempurnaan Islam (kamaliat al-Islam), haji juga sekaligus menjadi gambaran kehidupan manusia secara totalitas. Mungkin tepatnya, haji adalah miniatur kehidupan atau gambaran kecil dari “life cycles” (seluruh rangkaian perputaran kehidupan manusia).

Kita mulai dengan persiapan-persiapan haji yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Dalam hidupnya manusia mempersiapkan diri secara fisikal (material), intellektual (ilmu dan akal) maupun persiapan spiritual (ruhiyah). Dalam prosesnya persiapan haji juga menuntut ketiga hal itu. Persiapan itu menjadi penting karena sebagaimana haji adalah perjalanan, kehidupan manusia sesungguhnya juga adalah “perjalanan”.

Para pelaku haji (hujjaj) kemudian memulai perjalanan Ibadahnya itu dengan sebuah ritual yang disebut “ihram”. Ihram adalah terminologi yang disematkan kepada niatan jemaah untuk memulai ibadah itu. Niat haji (dan Umrah) disebut ihram karena perjalanan hidup manusia juga dimulai dengan Ihram. Ihram diartikan “Kesucian” atau “kehormatan”. Awal dari perjalanan hidup manusia dengan kesucian itu (fitrah).

Jemaah kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Mina untuk tarwiyah. Di sini jemaah seolah melakonkan kelahiran (milad) untuk memulai perjalanan ibadahnya. Tarwiyah yang berarti memberikan minum, menyimbolkan jika kehidupan itu perlu air. Karena air adalah sumber kehidupan. Baik air dari bumi maupun air samawi.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah di pagi hari jemaah Haji memulai perjalanan menuju Arafah untuk melakukan amalan haji yang terpenting. “Al-Hajju ‘Arafah” (haji itu adalah wukuf di Arafah). Wukuf di Arafah menjadi esensial karena realitanya kehidupan manusia hanya akan bermakna ketika terbangun di atas kesadaran.

Tidak dalam kelalaian dan kealpaan. Orang yang sadar itu adalah orang hidup. Orang yang tidak sadar itu mengalami kematian. Karenanya amalan terafdhol di Arafah adalah “mengingat” jati diri yang mendasar: laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa alaa kulli syaein qadiir”. Mengenal jatidiri (fitrah) akan membangun kesadaran akan diri dan alam sekitar. Manusia hanya akan akan hidup efektif ketika sadar Tuhan, diri dan alam sekitarnya. Itulah hakikat wukuf di Arafah..

Setelah terbenam matahari, jemaah bergegas menuju Muzdalifah. Di Muzdalifah mereka mabit, menginap, untuk sebuah persiapan. Hidup itu bukan dadakan. Memerlukan persiapan. Hidup itu perjuangan (al-hayatu jihadun). Maka Persiapan menyongsong perjuangan adalah tuntutan. Persiapan mental spiritual dengan zikir. Dan juga persiapan fisikal material dengan bebatuan. Hakikat mabit di Mina (masy’aril haram) adalah persiapan memasuki arena perjuangan hidup.

Keesokan harinya jemaah bergegas menuju Mina. Kini mereka memulai peperangan itu. Mereka dalam perjalanan (hidup) diadang oleh musuh-musuh. Yang mereka harus hadapi pertama kali adalah musuh terbesarnya (jamrah aqabah). Konon musuh terbesar manusia itu ada pada dirinya sendiri. Peperangan melawan musuh-musuh ini memakan waktu terlama dalam proses perjalanan itu. Dua atau tiga hari. Sungguh perjuangan melawan musuh-musuh kehidupan itu adalah perjuangan panjang (life long struggle).

Dari Mina jemaah bergegas menuju Makkah untuk melaksanakan thawaf ifadhoh. Membangun kembali kesadaran akan hidup yang berputar. Hidup itu pergerakan. Tapi pergerakan itu bagaikan putaran. Dari bayi menjadi remaja, dewasa, tua dan kembali ke asalnya. Kehidupan semuanya berputar. Hari ini di atas. Besok boleh jadi di bawah. Hari ini nyaman. Mungkin besok sumpek. Hari ini kuat. Besok boleh jadi lemah. Demikianlah kehidupan berthawaf.

Namun satu hal yang harus diingat, bagaimanapun perputaran itu Ka’bah harus selalu menjadi “sentra”nya. Apa pun dan bagaimanapun perputaran hidup, pastikan “al-haqq” selalu menjadi rujukannya.

Jemaah kemudian melanjutkan ritualnya dengan Sa’i dari bukit Shofa menuju Marwa. Lalu kembali ke bukit Shofa hingga tujuh kali. Amalan ritual ini menyimbolkan urgensi mencari “fadhlul” (rezeki) Allah. Sa’i merupakan penggambaran jika mencari sumber rezeki itu menuntut sa’i (usaha). Intinya jangan berleha-leha dalam upaya meraih karuniaNya. Hidup itu pastinya tertantang dan tantangan itu harus ditantang dengan Sa’i yang maksimal.

Di antara amalan ritual yang dilakukan oleh jemaah haji, dan juga Umat Islam secara umum, adalah berkorban. Amalan ini menegaskan bahwa keberhasilan hidup itu bukan “taken for granted” (tidak ada jaminan). Yang pasti keberhasilan hidup menuntut pengorbanan-pengorbanan. Udhiyah atau korban merupakan komitmen untuk melakukan pengorbanan demi mencapai cita-cita tinggi dan mulia dalam kehidupan.

Menutup segala amalan rukun haji, jemaah melakukan tahallul. Tahallul tersimbolkan dengan mencukur. Sebuah sombolisasi bahwa akhir dari kewajiban-kewajiban hidup harus dengan mencukur keegoan. Memangkas rasa ego yang merasa hebat dengan segala capaian itu. Rasulullah SAW bahkan diperintahkan: fasabbih bihamdi Rabbik wastaghfiruh. Innahu kaana tawwaba”. Keberhasilan manasikmu, capaian hidupmu, keberhasilan juangmu jangan meninggikan egomu. Pangkat keakuanmu. Tinggikan pujian Allah!

Akhir dari segala rangkaian perjalanan haji adalah thawaf wada’. Urgensi membangun kesadaran bahwa semua rangkaian perjalanan haji/hidup harus berakhir. Namun harapan para musafir kiranya akhir perjalanan itu dengan thawaf. Di mana Ka’bah sebagai simbol “al-haqq” menjadi pusat perputarannya. Hakikat dari amalan ini merupakan eksprsei dari pesan Ilahi: wa laa tamutunna illa wa antum Muslimun (jangan kalian meninggal kecuali dalam keadaan Muslim). Meninggal dengan “Laa ilaaha illallah” itu adalah cita-cita semua insan Mukmin.

Para akhirnya jemaah kembali ke tempat asal dengan harapan dan impian membawa haji mabrur. Haji mabrur bukan oleh-oleh dari Makkah (tanah suci). Justru Haji mabrur adalah tekad dan komitmen yang membara dada untuk mewujudkannya di tempat kediaman masing-masing. Haji mabrur adalah haji yang menghadirkan transformasi kehidupan ke arah yang lebih baik. Semoga!

Makassar City, 28 Juni 2023