Konten dari Pengguna

Puasa Itu Menyuburkan Ruhiyah (16)

Shamsi Ali

Shamsi Aliverified-green

Putra Indonesia ini merupakan Imam yang dihormati di AS. Dinobatkan sebagai salah 1 tokoh agama berpengaruh di New York.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shamsi Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Mankind is a spiritual being in a physical body."

Ilustrasi muslim yang sedang menjalankan ibadah. (Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi muslim yang sedang menjalankan ibadah. (Pixabay)

Kalau seandainya saya ditanya tentang definisi manusia maka jawaban saya kira-kira seperti di atas. Bahwa manusia itu adalah wujud spiritualitas dalam sebuah bentuk fisik.

Intinya adalah bahwa nilai (value) sejati manusia itu ada pada posisi ruhiyahnya. Kemuliaan, kehormatannya ditentukan oleh nilai spiritualitasnya.

Kalau sekiranya manusia bangga karena fisiknya maka sudah pasti gajah, kerbau atau sapi pantas lebih bangga darinya. Kalau kekuatan fisiknya boleh jadi seekor harimau akan lebih bangga karena memang lebih kuat.

Karenanya sekali lagi, nilai kemanusian (human value) manusia ada pada aspek ruhiyah kehidupannya. Jika penciptaan jasad manusia terbuat dari tanah liat (thiin). Maka eksistensi “roh” manusia langsung dari tiupan roh Ilahi (nafakha fii min ruhina).

Oleh karena roh adalah tiupan roh Ilahi maka roh inilah yang nanti pada akhirnya kembali ke asalnya, kembali menghadap Allah SWT. Sementara fisiknya akan kembali pula bersatu dengan asalnya di tanah.

Jika fisik berakhir dengan kebusukan dan kehancuran, maka roh yang yang terjaga, mulia selamanya.

Hakikatnya sebagai pemberian Allah yang khusus kepada manusia, menjadikan roh rahasia yang tiada tahu kecuali Allah SWT sendiri. “Dan katakan sesungguhnya roh itu adalah urusan Allah,” (Alquran).

Sedemikian mulianya roh manusia maka Islam sebagai agama kehidupan, elemennya mengandung aspek “spiritual nourishment” (makanan roh). Dari ibadah-ibadah ritual hingga ke aspek-aspek muamalatnya, semuanya mengandung unsur ruhiyah.

Ketika akan makan atau tidur misalnya, doa yang dipanjatkan semuanya bermuara langit (Allah). Makan meminta “barokah”. Dan barokah itu ada di tangan Allah yang “Tabaaraka”.

Tidur juga atas namaNya Allah (bismika). Keduanya bukan sekedar aktifitas duniawi yang hampa ruhiyah. Tapi terikat dengan nilai-nilai samawi yang sarat dengan kandungan ruhiyah.

Jangankan makan dan tidur, hubungan suami istri pun tidak lepas dari nilai-nilai ruhiyah itu. Sehingga disebutkan bahwa hubungan yang tidak dimulai dengan doa perlindungan dari setan akan dipengaruhi oleh setan.

Bahkan Keluar masuk WC sekalipun semuanya memiliki nilai-nilai ruhiyah karena bersentuhan langsung dengan nilai-nilai samawi. Meminta perlindungan dari setan “Allahumma inni auzdu bika minal khubutsi wal khabaaits” itu memiliki makna ruhiyah yang dalam.

Apalagi aspek ritual agama ini. Dari salat, puasa, haji dan ragam bentuk ibadah ritual, semuanya secara mendasar dimaksudkan untuk menumbuh suburkan nilai-nilai ruhiyah manusia. Karena pada semua amalan itu “dzikirlah” yang menjadi esensi dasarnya.

Salat yang kosong dari dzikir (mengingat Allah) dikategorikan oleh Alquran sebagai salat kemunafikan. Bahkan terancam dengan neraka “wael.”

Puasa secara khusus penuh dengan nilai-nilai spiritualitas (ruhiyah). Makan sahur itu bukan sekedar makan pagi. Tapi sebuah amalan ibadah yang padanya dijanjikan “barokah”.

“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu ada barokah,” (hadits).

Barokah itu adalah nilai yang bersentuhan langsung dengan Allah (Tabaraka). Sehingga dengan sendirinya merupakan “penguatan roh” yang memang langsung dari Allah (ruhina).

Singkatnya semua amalan yang terjadi di Bulan Ramadan, salat-salat sunnah, baca Alquran, Tarawih, dan qiyaam, hingga kepada sadaqah dan bahkan tidur sekalipun bernilai spiritualitas.

Puasa diakhiri dengan berbuka puasa (Iftar). Sebuah amalan yang bukan sekedar makan malam seperti biasanya. Tapi semua amalan yang sarat dengan nilai ruhiyah.

Karenanya doa berbuka semuanya dikaitkan dikaitkan langsung dengan Ilahi: “untuk Engkau Aku berpuasa, kepadaMu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu juga aku berbuka puasa. Maka terimalah dariku. Sungguh Engkau Maha mendengar lagi Maha melihat”.

Karenanya bulan Ramadan ini harus menjadi momentum yang baik dalam membangun kehidupan ruhiyah yang solid. Kerapuhan nilai-nilai spiritualitas menjadikan manusia terombang-ambing dalam pergerakan gelombang dunia yang tiada akhir.

Kehidupan materialistis, konsumeris dan hedonistis menjadikan manusia semakin rakus dan kehilangan nuraninya. Akibatnya dalam dunia yang kerap kali diakui sebagai dunia modern yang lebih beradab (civilized) manusia justru berkarakter biadab. Bahkan lebih biadab dari hewan.

“Mereka bagaikan hewan. Bahkan lebih sesaat dari hewan,” (Alquran).

Semoga puasa kita menumbuh suburkan hati dan roh kita sehingga dorongan dunia yang dahsyat ini mampu terimbangi. Keseimbangan dalam hidup materi (jasad) dan spiritualitas (roh) inilah yang menjadikan Islam sebagia agama yang unik.

Agama yang membangun kebaikan pada dua aspek kehidupan. Hasanah fid-dunya wa hasanah fil-akhirah. Amin.

New York, 20 Mei 2019