kumparan
11 Jun 2019 8:23 WIB

Ramadan Berlalu, Ketaatan Menetap!

Seseorang membaca Alquran sambil beriktikaf di Masjid Raya Baiturrahman, Rabu (8/5). Foto: Suparta/acehkini
Beberapa hari lalu Ramadan berlalu, seolah mengatakan: “Goodbye, see you again!”
ADVERTISEMENT
Kita yang mengenalnya sebagai bulan kebaikan, datang dengan segala kebaikan, tentunya bersedih dan berat hati ditinggalkan. Berat hati untuk melambaikan tangan secara berucap: “Goodbye, hope to see you again.”
Tapi itulah kenyataan. Berlalunya Ramadan sekaligus mengindikasikan bahwa segala sesuatu pasti berlalu. Tiada yang tetap dan abadi. Bagusnya, sebagian yang berlalu itu masih ada harapan untuk kembali.
Ramadan salah satunya. Kali ini telah berlalu. Tapi masih ada harapan untuk kembali. Hanya sebuah harapan. Karena bukan kepastian. Jangan-jangan sebelum masanya kembali, dunia sementara ini telah berakhir abadi.
Ramadan memang telah berlalu. Tapi semangat Ramadan menetap bersama kehidupan kita. Sebagaimana disebutkan oleh seorang ulama:
رمضان ليس شهرا فحسب بل أسلوب حياة وبداية التغيير. لا تدعوه....بل افسحوا المجال ليحيا معكم دوما..
ADVERTISEMENT
عيد كريم، تقبلًالله منا اجمعين!
Ramadan bukan sekadar sebuah bulan. Melainkan gaya hidup dan sebuah awal dari transformasi hidup. Karenanya jangan tinggalkan. Tapi perluas ruangnya dalam hidupmu untuk bersamamu selamanya.
Dengan berlalunya bulan Ramadan, ada beberapa prinsip dasar Islam yang harus diingat oleh kita semua.
Pertama, Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya dalam melakukan (ibadah), dalam arti pengabdian atau aktivitas hidup secara umum Islam tidak mengenal “retirement” (masa pensiun). Runyamnya lagi, dalam bahasa Arab kaya pensiun disebut “تقاعد" yang jika di-Inggris-kan bermakna: “in capable of doing anything” (ketidakmampuan melakukan sesuatu).
Taqaa’ada juga bisa bermakna “terduduk”, yang bisa melahirkan konotasi negatif, seperti kelemahan dan juga kemalasan.
Untuk menghindari semua konotasi negatif itu, Al-Quran menekankan bahwa seorang Mukmin tidak pernah berhenti dalam aktivitas (amal). Jika selesai di sebuah aktivitas maka dia akan segera menuju kepada aktivitas lainnya. Dan semua itu menjadi bagian dari jalan menuju Tuhannya.
ADVERTISEMENT
Itulah yang disimpulkan oleh ayat Al-Quran:
فإذا فرغت فانصب والي ربك فارغب.
Kedua, pengabdian kita kepada Allah itu seumur hidup. Tidak dibatasi oleh batas waktu dan ruang. Pengabdian berakhir di saat hidup itu telah berakhir.
Inilah yang ditegaskan oleh Al-Quran:
واعبد ربك حتي يأتيك القين
“Dan sembahlah Tuhanmu hingga keyakinan itu (kematian) tiba kepadamu”.
Al-Hasan Al-Basri pernah berkata: “Sesungguhnya Allah tidak pernah membatasi amal seorang Mukmin kecuali dengan kematiannya”.
Ketiga, keberhasilan sebuah ibadah itu tidak saja dilihat pada saat pelaksanaannya. Justru indikasi keberhasilan sebuah ibadah akan terlihat pasca-pelaksanaan ibadah itu sendiri.
Satu contoh yang kongkrit dalam Al-Quran adalah salat. Saya ambil penyebutan itu di dua tempat. Pertama, di surah Al-Mukminuun. Kedua, di surah Al-Maauun.
ADVERTISEMENT
Al-Mu’minun menggambarkan kesuksesan orang-orang salat: قدافلح المؤمنون
Sementara di Al-Maauun Allah mengancam orang-orang yang salat: فويل للمصلين
Poin yang saya ingin sampaikan adalah penggunaan kata “في” di Al-Mu’minuun dan “عن" di Al-Maauun. Apa bedanya?
Ternyata kata “fii” di Al-Mu’minuun menunjukan bahwa kekhusyu’an yang dimaksud itu harus ada dalam salat, ketika salat dilaksanakan.
Sebaliknya kata “‘an” di Al-Maauun menunjukan bahwa “kelalaian dari salat” (saahuun') dimaksudnya tidak ketika salat. Tapi melupakan apa yang pernah dilaksanakan (salat).
Dengan demikian salat yang sukses itu adalah khusyu dalam pelaksanaan. Tapi juga tidak terlupakan “makna-maknanya” dalam kehidupan ril manusia.
Demikian juga puasa. Keberhasilannya bukan saja pada bulan Ramadan. Tapi harusnya teridentifikasi setelah Ramadan berlalu. Apa dan bagaimana dampak puasa dalam kehidupan riil pelakunya?
ADVERTISEMENT
Keempat, Islam itu adalah agama yang selain memang sempurna, juga bersifat integratif (saling berkaitan). Ibadah ritual itu terkait, langsung atau tidak, dengan perilaku pelakunya.
Maka ibadah-ibadah semuanya dilihat kesuksesannya pada karakter moral pelakunya. “Sesungguhnya salat itu mencegah kekejian dan kemungkaran”.
Mengenai puasa Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan buruk dan perbuatannya maka tidak ada hajat bagi Allah untuk dia meninggalkan makan dan minum”.
Ibadah-ibadah ritual yang dilakukan tanpa kelanjutan moralitas dalam karakter melahirkan “double standard personality” (kepribadian mendua). Kepribadian seperti ini yang disebut dalam bahasa agama sebagai “nifaaq”.
Akhirnya, Semoga berakhirnya bulan bukanlah sebuah tanda berakhirnya pula ketaatan. Bulan datang dan pergi. Tapi ketaatan menetap sepanjang hayat masih dikandung badan. Semoga!
ADVERTISEMENT
New York City, 10 Juni 2019,
Shamsi Ali Presiden Nusantara Foundation
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan