Urgensi Menjaga Identitas

Shamsi Ali
Putra Indonesia ini merupakan Imam yang dihormati di AS. Dinobatkan sebagai salah 1 tokoh agama berpengaruh di New York.
Konten dari Pengguna
30 Januari 2023 22:50 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Shamsi Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi nasionalisme pudar. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi nasionalisme pudar. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Merupakan sunnatullah (ketetapan Pencipta) bahwa manusia diciptakan dalam berbagai ciri identitas sosial. Identitas itu sendiri pada diri manusia dapat dilihat pada sudut yang berbeda-beda. Ada identitas ras atau etnis dan suku. Ada pula identitas kultur dan budaya, termasuk bahasa. Dan, banyak lagi yang menjadi karakter sosial yang dibanggakan oleh setiap orang.
ADVERTISEMENT
Identitas manusia itu rentan mengalami pergeseran atau digeserkan, bahkan tidak jarang secara sistematis dan sistemik. Dalam dunia kita masa kini misalnya identitas itu tergeserkan oleh cara pandang kehidupan yang didominasi oleh kekuatan segmen tertentu. Sehingga identitas manusia seringkali tanpa terasa tergeser secara paksa dengan cara halus. Bahkan tidak jarang pula dengan cara yang kasar.
Di Amerika misalnya, kelompok komunitas hitam yang lebih dikenal dengan “Afro American” seringkali dipaksa untuk memposisikan diri sebagai American dengan cara pandang “mayoritas” yang kuat. Sehingga ketika seseorang memandang dirinya sebagai “an American” (orang Amerika) yang terimajinasikan kemudian adalah orang berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru.
Padahal orang-orang Amerika berkulit hitam itu datang ke Amerika, atau tepatnya dipaksa, datang ke Amerika dengan identitasnya sendiri. Mereka berkulit hitam, memiliki kultur budaya dan bahasa. Bahkan mereka memiliki keyakinan dan agamanya. Lingkungan dominan dengan kekuatannya memaksa mereka untuk mengubah identitasnya. Termasuk mengubah nama, bahasa, bahkan agama dan keyakinan.
ADVERTISEMENT
Poin yang ingin saya sampaikan adalah betapa identitas manusia rentan terancam ketika manusia itu berada pada posisi lemah atau dilemahkan. Ancaman itu bisa terjadi baik secara langsung atau melalui proses asimilasi sosial di mana kelompok dominan yang kuat akan menjadi pemenang.

Spiritual Identity

Dari sekian banyak identitas manusia dalam konteks kehidupan sosialnya, tidak ada identitas terkuat dan terpenting bahkan menjadi identitas mendasar (fundamental) dalam kehidupan manusia lebih dari identitas spiritualitas (agama dan keimanan). Identitas ini menjadi sangat mendasar karena menjadi bagian dari penciptaannya sebagai manusia (lihat Ar-Rum ayat 30).
Namun demikian, karena kuatnya dominasi mayoritas yang kuat menjadikan identitas yang paling mendasar ini pun terancam. Jika Komunitas hitam (Afro) di Amerika kehilangan identitas spiritulitas (agama dan keyakinan) karena dipaksa, belakangan justru imigran yang datang ke negara ini kehilangan identitas bukan karena paksaan. Tapi karena mengalami proses asimilasi (hanyut) tanpa pegangan yang kuat.
ADVERTISEMENT
Hilangnya identitas kemanusiaan menjadikan banyak orang yang tanpa disadari mengalami “identity degradation” (degradasi identitas) yang cenderung melihat identitas orang lain sebagai kebanggaan. Seolah identitasnya sendiri tidak punya nilai dan makna. Akibatnya cenderung lebih memuliakan dan meninggikan identitas orang lain.
Contoh terkecil yang sering terjadi ketika saya diminta oleh seseorang (termasuk dari Indonesia) untuk mencari calon pasangan (suami atau isteri). Biasanya tanpa disadari meninggikan identitas orang lain dengan kriteria calon yang diinginkan. Misalnya, “Ustaz, carikan saya calon pendamping yang baik ya. Tapi, kalau boleh yang bule ya, Ustaz!”
Really?” begitu dalam hati saya sebenarnya ingin menjawab. Apa alasannya sehingga harus secara khusus “bule” disebutkan? Dari pengamatan singkat saya dapatkan karena memang sedang terjadi krisis identitas yang menjadikan sebagian orang mengalami degradasi idenitas. Seolah bule itu lebih baik, lebih pintar, lebih maju, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dan, itu karena "bule"-nya.
ADVERTISEMENT
Di sinilah Islam mendobrak cara pandang yang salah itu. Islam pertama kali melakukan kritikan kepada “pikiran” (mindset) manusia dengan perintah “Iqra”. Bahwa manusia harus membuka wawasan dan pikiran sehingga tidak terpenjara oleh cara pandang yang dipaksakan oleh orang lain, termasuk lingkungan dominan yang kuat.
Salah satu hal yang paling mendasar dalam Islam adalah mengedepankan identitas spiritualitas (spiritual identity) di atas identitas-identitas yang lain. Islam di satu mengakui identitas ras, etnis, suku, warna kulit, budaya, dna seterusnya. Tapi di atas semua itu ada identitas spiritualitas yang paling bernilai. Itulah karakter ketakwaan pada manusia (Al-Hujurat: 13).
Ketakwaan atau identitas spiritualitas inilah yang menjadi benteng terpenting dalam menjaga identitas manusia. Jika tidak maka manusia akan terombang-ambing oleh perubahan identitas seiring dengan perubahan kekuatan dominasi yang ada. Jika ini terjadi, manusia akan menjadi objek dari lingkungan sekitarnya.
ADVERTISEMENT
Ketika Allah mengingatkan kita, bahwasanya “ittaqullaha haqaa tuqaatih” (ayat) atau Rasulullah dengan “ittaqillah hawtsu maa kunta” (hadits) sesungguhnya mengingatkan agar kita bertakwa dengan sungguh-sungguh, kapan dan di mana saja. Dan, itu menjadi keharusan demi terjaganya identitas kemanusiaan yang paling mendasar. Semoga!
Jamaica City, 29 Januari 2023
* Presiden Nusantara Foundation