kumparan
9 Nov 2018 13:34 WIB

Catatan I Tokyo International Film Festival ke-31: Highlight Festival

Salah satu festival film internasional terbesar dan terkemuka di dunia, Tokyo International Film Festival (TIFF) baru saja selesai digelar untuk kali ke-31 di kawasan Roppongi, Tokyo, Jepang selama 10 hari dari tanggal 25 Oktober hingga 3 November 2018. Saya beruntung mendapatkan undangan dari panitia TIFF dengan dukungan The Japan Foundation Asia Center untuk kembali ketiga kalinya menghadiri dan merasakan pengalaman berfestival yang tak kan pernah menjemukan ini.
ADVERTISEMENT
Betapa tidak, berada dalam sebuah festival film bagi saya merupakan semacam ziarah, perjalanan menemukan film-film menakjubkan, dan saya mengalaminya: ditemani banyak sekali orang yang juga memiliki kecintaan yang sama terhadap film.
Apa yang membuat sebuah festival film begitu besar dan berarti bukanlah soal seberapa festive (meriah), tetapi tersedia ruang yang luas bagi semua jenis orang untuk menyesuaikan diri dan merasa dekat satu sama lain. Setidaknya itulah yang menarik saya untuk dapat selalu hadir di tengah festival film, dan karena itu saya tidak pernah bisa cukup bersyukur lantaran memiliki privilege untuk merasakan begitu banyak film bagus dari kedekatan tersebut.
Suasana di sekitar booth penjualan tiket di Roppongi Hills, Tokyo, Jepang (Dok. Pribadi)
ADVERTISEMENT
Tahun ini ada sekitar 1.800 film dari pelbagai negara yang ikut mendaftar agar masuk ke dalam program festival, ratusan film hasil kurasi, termasuk 16 film yang berkompetisi di seksi utama, tersedia setiap hari setiap jam dan dapat disaksikan di semua studio/theater TOHO Cinema dan EX Theater di Roppongi, Tokyo.
Begitu banyak film, begitu banyak konferensi pers, dan jadwal wawancara, kemampuan membuat agenda layaknya seorang sekretaris CEO perusahaan ternama amat diperlukan, agar film-film yang kita incar untuk ditonton tak bertabrakan jadwalnya dengan yang lain. Terutama jadwal party yang banyak sekali; party wartawan, party para tamu undangan, party yang diadakan oleh asosiasi film, delegasi negara peserta, party perpisahan (ini wajib!).
Serta masih ada agenda wawancara dengan Direktur Festival, para juri seksi kompetisi, dan para sutradara film dan cast. Begitu padat.
ADVERTISEMENT
Kali ini saya hanya berhasil menyaksikan sekitar 15 film, dua sesi konferensi pers, dua sesi wawancara, dan semua party yang saya sebut di atas saya hadiri! Hehehe.
Opening party bersama kolega wartawan dari Indonesia (Dok. Daniel Irawan)
Highlight
Hari pertama TIFF dibuka dengan pemutaran film A Star is Born (Bradley Cooper, 2018), film yang sudah saya tonton di Jakarta beberapa waktu sebelumnya, maka saya lewatkan kali ini. Lagi pula tak ada perwakilan dari crew dan cast yang menghadiri TIFF, jadi tak menarik–tak seperti dua tahun lalu kala TIFF ke-29 dibuka dengan film Florence Foster Jenkins (Stephen Frears, 2016) dan Meryl Streep sebagai aktris utama hadir menyambut para penggemarnya.
Perhatian para wartawan, tamu undangan, dan penggemar film di Tokyo nampaknya malah tertuju kepada The White Crow dan Amanda. The White Crow merupakan karya terbaru dari aktor/sutradara Ralph Fiennes yang masuk seksi kompetisi utama. Filmnya sendiri bercerita tentang kehidupan seorang penari balet bernama Rudolf Nureyev (Oleg Ivenko), dengan latar Uni Soviet di tahun 1950-an, dan didasarkan pada kejadian nyata.
ADVERTISEMENT
Saya sendiri cukup terkesan dengan film ini, dan menganggapnya sebagai salah satu pengalaman menonton terbaik yang saya dapatkan sepanjang tahun ini. Ralph Fiennes hadir memberikan sambutannya pada event opening party, hadir kembali ketika film The White Crow tayang untuk publik dan wartawan disertai sesi tanya jawab. Ketika film usai ditayangkan, tepuk tangan penonton membahana cukup lama.
Ralph Fiennes berpose usai pemutaran dan tanya jawab film The White Crow (Dok. Pribadi)
Sedangkan Amanda (Mikhael Hers, 2018) pada mulanya tak begitu diantisipasi, tetapi kelar pemutaran perdana, ia langsung menjadi favorit semua orang dan semua orang membicarakannya. Termasuk para juri yang menghadiahinya penghargaan tertinggi yakni Tokyo Grand Prix. Amanda memotret sepenggal kehidupan orang-orang biasa yang sangat menyedihkan dalam menghadapi tragedi yang sangat kontemporer, membuat saya terguncang selama berhari-hari.
Juri Seksi Kompetisi Utama--dari kiri ke kanan: Bryan Burk, Kaho Minami, Brillante Ma Mendoza (Ketua Juria), Taraneh Alidoosti, Stanley Kwan (Dok. Pribadi)
ADVERTISEMENT
Keikutsertaan Indonesia
Kali ini kehadiran film Indonesia di ajang TIFF diwakili oleh film Aach… Aku Jatuh Cinta–film cukup lawas karya sutradara veteran Garin Nugroho yang sempat rilis tiga tahun silam. Film ini dimasukkan ke dalam program Crosscut Asia #05: Soundtrip to Southeast Asia–sebuah kompilasi sederet film dari kawasan Asia Tenggara yang memiliki satu kesamaan tema, yakni musik.
Dan Variable No. 3–sebuah film pendek karya terbaru Edwin, menjadi segmen penutup dalam sebuah omnibus yang diberi judul Asian Three-Fold Mirror 2018: Journey, sebuah proyek yang menyatukan tiga sutradara bereputasi dari kawasan Asia untuk bersama-sama membuat sebuah omnibus dengan satu tema tertentu. Diproduksi dengan dukungan dari The Japan Foundation Asia Center dan Tokyo International Film Festival.
ADVERTISEMENT
Tema yang dipilih kali ini adalah travel beyond space and time (perjalanan melampaui ruang dan waktu). Segenap cast dan crew bekerja bersama melintasi batasan negara untuk menggambarkan kehidupan sejumlah karakter yang melakukan perjalanan di Cina, Myanmar, dan Jepang. Nicholas Saputra, aktor kenamaan asal Indonesia, tampil dalam ketiga segmen film omnibus ini. Saya akan mengulas filmnya lebih dalam lewat tulisan mendatang, juga ada wawancara dengan sutradara dan ketiga pemain Variable No. 3 yakni Nicholas Saputra, Oka Antara, dan Agni Pratista. Nantikan artikel berikutnya ya.
Keterangan foto: Poster Asian Three-Fold Mirror 2018: Journey (Dok. TIFF 2018)
Video
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan