Konten dari Pengguna

Resensi Opini: Strategi Komunikasi Efektif di Kapolresta Championship Season 4

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vincent Valencia Hermawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Dokumentasi Pribadi

Info Event:

Nama Event: Kapolresta Championship Season 4

Tanggal Pelaksanaan: 24 - 25 September 2026

Venue (Offline): Polresta Surakarta

Kolaborator: Polresta Surakarta x ESI Surakarta

Game: Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) & Free Fire (FF)

Prizepool: Jutaan

Sebagai mahasiswa yang sehari-hari mempelajari Ilmu Komunikasi sekaligus penikmat game online, saya sering kali merasa skeptis melihat cara instansi kepemerintahan atau aparat berkomunikasi dengan anak muda. Biasanya, pendekatannya terlalu kaku, satu arah, dan penuh formalitas. Namun, pandangan saya soal kakunya birokrasi ini benar-benar dipatahkan ketika saya mengamati jalannya Kapolresta Championship Season 4 pada 24-25 September lalu.

Bagi saya pribadi, melihat sebuah institusi kepolisian membuka pintu markasnya untuk ratusan anak muda beradu mekanik di gim daring adalah sebuah fenomena sosiologis yang menarik. Dulu, bermain gim sering mendapat stigma negatif sebagai kegiatan buang-buang waktu. Kini, kepolisian justru memfasilitasinya.

Melihat antusiasme komunitas lokal di mana ratusan tim rela mengikuti kualifikasi online hingga akhirnya bertarung di panggung offline, saya menyadari satu hal: pendekatan yang digunakan sangat tepat sasaran. Melibatkan tim-tim perwakilan dari setiap Polsek bukan sekadar urusan kompetisi, melainkan strategi Public Relations (Humas) yang brilian untuk menumbuhkan rasa percaya anak muda terhadap aparat di wilayahnya.

Dalam teori komunikasi, ada istilah untuk mengurangi jarak atau hierarki antara komunikator dan audiens. Hal inilah yang secara nyata saya lihat terjadi di event ini, terutama lewat dukungan penuh pemerintah kota dan jajaran kepolisian. Satu momen yang paling membekas dalam ingatan saya adalah ketika Bapak Kapolresta Surakarta tidak hanya hadir untuk seremonial, tetapi benar-benar ikut bermain Free Fire bersama para peserta dalam sebuah fun match. Duduk sejajar, memegang layar smartphone, dan berkoordinasi dalam mode Clash Squad (4vs4) bersama Gen Z. Menurut saya, momen itu bernilai ribuan kali lipat lebih bermakna daripada pidato imbauan menjauhi kenakalan remaja yang berjam-jam.

Pada akhirnya, opini saya terhadap Kapolresta Championship Season 4 adalah kekaguman. Ini bukan lagi sekadar perkara siapa yang menang atau berapa hadiah yang diperebutkan. Ini adalah cerita tentang bagaimana tembok tebal bernama "formalitas" itu bisa diruntuhkan lewat medium yang sangat dekat dengan keseharian kita: esports. Harapan saya, langkah berani dan inovatif seperti ini bisa terus dipertahankan.