Konten dari Pengguna

Pentingnya Independensi Bank Sentral di Tengah Krisis Lira di Turki

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shaphira Rosa Putri Wusanani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bank Sentral : sumber (https://pixabay.com/id/photos/uang-kertas-mata-uang-keuangan-euro-7850299/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bank Sentral : sumber (https://pixabay.com/id/photos/uang-kertas-mata-uang-keuangan-euro-7850299/)

Bank sentral merupakan sebuah instansi atau lembaga non pemerintah yang berperan penting dalam mengendalikan segala aktivitas perekonomian suatu negara. Setiap negara tentu saja memiliki bank sentralnya sendiri untuk menjaga peredaran uang dan tingkat suku bunga yang berdampak langsung pada tingkat pengangguran dan inflasi (Rozeqqi, 2024). Sebagai contoh, Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral Indonesia dan Federal Reserve System (The Fed) sebagai bank sentral Amerika Serikat. Bank sentral menggunakan berbagai instrumen penting untuk mencapai tujuan stabilitas ekonomi. Salah satu instrumen terpenting adalah kebijakan suku bunga acuan, yang memungkinkan bank sentral untuk mengontrol laju inflasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menaikkan atau menurunkan suku bunga (Purba, 2024). Bank sentral juga melakukan Operasi Pasar Terbuka (OPT) yang berarti membeli atau menjual surat berharga atau obligasi pemerintah untuk mengontrol jumlah uang yang beredar di pasar. Bank sentral juga mengintervensi di pasar valuta asing dan mengelola cadangan devisa nasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Mandat bank sentral dalam mengawasi dan mengatur sistem perbankan adalah dengan memastikan bahwa bank-bank umum beroperasi dengan stabil dan sehat. Longgarnya suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dapat meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, longgarnya suku bunga tersebut juga dapat menyebabkan peredaran suplai uang yang membengkak dan berakibat inflasi. Maka dari itu, kehati-hatian bank sentral dalam pengambilan keputusan mengeluarkan kebijakan moneter sangatlah krusial, karena kebijakan moneter yang diambil bank sentral harus menyesuaikan kebijakan fiskal dari pemerintah yang sedang berjalan. Dengan melakukan hal ini, bank sentral berusaha mencegah krisis keuangan yang dapat mengganggu ekonomi secara keseluruhan. Bank sentral, dengan semua fungsi dan alat yang mereka miliki, sangat penting untuk menciptakan iklim ekonomi yang stabil, mempertahankan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Melemahnya kurs mata uang yang dialami oleh Turki dalam beberapa tahun terakhir menjadi krisis ekonomi terburuk sepanjang sejarah dan juga sebagai contoh dari kegagalan bank sentral dalam menjalankan kebijakan moneter (Anriani, 2024). Ketidakstabilan perekonomian yang dirasakan Turki merupakan konsekuensi dari Presiden Turki, Erdogan, memangkas suku bunga yang justru memicu inflasi yang lebih tinggi. Inflasi di Turki setidaknya pernah melambat dari tingkat inflasi 80% menjadi sekitar 60% sebelum tahun 2023 lalu (Moh Ibrohim, 2024). Ketika bank sentral tidak dapat bertindak bebas, pasar kehilangan kepercayaan, hal ini berdampak langsung pada nilai tukar dan inflasi di Turki. Adanya tekanan Presiden Erdogan untuk menurunkan suku bunga secara tidak rasional meskipun inflasi tinggi memicu hilangnya kredibilitas bank sentral di Turki. Tidak hanya itu, kepercayaan masyarakat dan daya beli masyarakat yang cenderung menurun drastis akan memperkeruh stabilitas perekonomian nasional.

Ilustrasi inflasi Turki : sumber (https://pixabay.com/id/photos/koin-ekonomi-ekonomi-kurs-bagan-8450635/)

Kondisi perekonomian di Turki menunjukkan betapa pentingnya bank sentral untuk tetap menjalankan tugasnya secara independen dan membuat keputusan berdasarkan analisis ekonomi tidak dipengaruhi oleh politik. Bank sentral memegang peranan paling penting dalam mencegah krisis dalam upaya menjaga stabilitas perekonomian negara. Jika bank sentral tidak dapat memenuhi tugasnya dengan cara yang objektif dan profesional, stabilitas ekonomi suatu negara akan terancam. Semua negara tentu selalu berusaha untuk mencegah krisis karena telah diketahui bahwa setiap instabilitas atau krisis selalu menyebabkan kerugian yang besar. Krisis nilai tukar Turki menunjukkan bahwa menentukan kebijakan moneter dengan hati-hati, bekerja sama dengan kebijakan fiskal, dan menjaga kepercayaan pasar adalah kunci untuk mencegah gejolak ekonomi yang lebih besar.

Bank sentral merupakan institusi fundamental dalam menjaga stabilitas ekonomi suatu negara. Fungsi utamanya meliputi pengaturan suku bunga, pengendalian inflasi, pengelolaan cadangan devisa, serta stabilisasi nilai tukar mata uang nasional. Keputusan-keputusan yang diambil oleh bank sentral bersifat teknis dan sangat bergantung pada pendekatan berbasis data serta perhitungan ekonomi jangka panjang (Mishkin, 2019).

Bank sentral yang kurang Independen atau kurang mandiri akan berakibat pada ketidakpastian pasar. Ketidakpastian pasar merupakan kondisi dimana pelaku ekonomi tidak dapat memprediksi kondisi ekonomi yang akan terjadi di masa depan. Para pelaku ekonomi pasar menjadi ragu dan takut karena dengan intervensi politik ke dalam bank sentral akan turut mempengaruhi keputusan atau kebijakan yang dikeluarkan bank sentral karena ada unsur kepentingan politik dalam kebijakan tersebut. Contohnya bank sentral yang memutuskan untuk mencetak uang untuk membiayai program pemerintah jangka pendek sehingga pelaku pasar menjadi ragu untuk investasi atau belanja besar-besaran.

Di lain sisi, kurangnya Independensi juga dapat menyebabkan hilangnya kredibilitas atau kepercayaan institusi, hal ini dikarenakan bank sentral yang semestinya dipercaya untuk dapat menjaga stabilitas ekonomi negara, tetapi fungsi tersebut hilang karena campur tangan politik sehingga dianggap tidak netral. Hal ini tentunya menyebabkan hilangnya kepercayaan dari pelaku pasar dan dianggap sudah tidak efektif. Selain itu, hal tersebut juga dapat mengurangi kepercayaan investor asing terhadap bank sentral karena dianggap sudah tidak mampu menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi. Dengan kata lain, bank sentral tidak hanya menjaga stabilitas moneter, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem keuangan.

Dampak lainnya adalah sulitnya menekan inflasi. Biasanya, jika terjadi inflasi di suatu negara, maka bank sentral akan menekan inflasi dengan cara menaikkan suku bunga sehingga masyarakat akan cenderung untuk menabung daripada berbelanja yang berakibat pada turunnya permintaan barang dan jasa sehingga inflasi bisa ditekan. Tujuan utama dari menekan inflasi adalah agar harga barang saat itu tidak terus menerus mengalami kenaikan, sehingga permintaan tidak lebih besar dari penawaran.

Jika bank sentral kurang independen, maka pemerintah dapat mengintervensi atau ikut campur terhadap keputusan terkait suku bunga. Saat inflasi terjadi pemerintah bisa saja melarang bank sentral untuk menaikan suku bunga karena alasan tertentu, seperti ketakutan apabila ekonomi di daerah tersebut terlihat buruk (biasanya menjelang pemilu) dan takut akan terjadi perlambatan ekonomi. Contoh negara yang sudah mengambil kebijakan dalam menaikkan suku bunganya adalah Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Langkah ini bertujuan untuk menekan inflasi yang berada di kisaran dua digit di tengah upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Selanjutnya, efek domino pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat juga turut menjadi dampak dari kurangnya independensi bank sentral. Makna efek domino adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana sesuatu dapat terjadi dan dampak yang ditimbulkannya. Seperti kartu domino, setiap kartu perlu disusun secara teratur dari awal hingga akhir, apabila ada salah satu saja yang jatuh maka akan mempengaruhi kartu berikutnya. Sama halnya dengan Bank Sentral apabila independensinya sendiri kurang maka dapat berakibat hingga memburuknya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Pengalaman dari krisis Turki menunjukkan bahwa tanpa adanya independensi, keputusan ekonomi cenderung bersifat jangka pendek dan tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu ada pendekatan berbasis data yang bisa mencegah campur tangan politik berlebihan, sekaligus memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga. Dengan sistem yang kuat dan keputusan berbasis penelitian, ekonomi suatu negara bisa lebih tahan terhadap krisis dan memiliki prospek yang lebih stabil di masa depan.