Konten dari Pengguna

Jurus Mitigasi Rob: Mahasiswa KKNT-I IPB Pasang Peilschaal & Petakan Bencana

sharma hanifah

sharma hanifah

Mahasiswa IPB

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari sharma hanifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bencana banjir rob yang menerjang wilayah pesisir Kabupaten Karawang memberikan dampak yang cukup berat bagi warga Desa Tambaksari, khususnya di Dusun Sarakan. Wilayah yang berada di garis pantai terdepan ini mengalami dampak terparah, di mana luapan air laut kerap menyapu habis komoditas perikanan milik petani tambak setempat.

Peristiwa ini menyebabkan para pembudidaya ikan menderita kerugian materiil yang tidak sedikit. Arus banjir rob yang deras kerap membawa lari seluruh hasil budidaya ikan bandeng hingga tak bersisa, sehingga memicu kekhawatiran warga untuk memulai kembali usaha mereka.

"Saat ini saya tidak berani untuk menebar benih bandeng pasca mengalami kerugian akibat banjir rob. Sekarang pun ketinggian air masih tidak stabil dan banjir rob bisa terjadi kapan saja," ujar salah satu petani tambak di Dusun Sarakan.

Merespons kondisi tersebut, tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Inovatif (KKNT-I) IPB University bergerak merancang program mitigasi bencana. Program kerja yang diambil meliputi pembuatan peta potensi rawan banjir rob serta perakitan dan pemasangan peilschaal.

Pemetaan wilayah rawan banjir rob difokuskan di seluruh area Desa Tambaksari. Peta ini disusun berdasarkan analisis enam parameter utama, yakni data garis pantai, curah hujan, pasang surut air laut, Digital Elevation Model (DEM), tutupan lahan, serta penurunan muka tanah. Indikator kerawanan pada peta dibagi menjadi tiga zona warna, yaitu warna merah untuk tingkat kerawanan tinggi, kuning untuk kerawanan sedang, dan hijau untuk kerawanan rendah.

Kegiatan sosialisasi pemetaan potensi rawan banjir rob (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Selain pemetaan visual, mahasiswa juga memasang peilschaal sebagai alat pengukur tinggi muka air dan pemantau debit air yang berpotensi menyebabkan banjir. Alat ini dirancang menggunakan pipa yang dilengkapi meteran serta cat penanda dengan tiga tingkatan warna indikator. Ketinggian air 0–80 sentimeter ditandai dengan warna hijau yang berarti kondisi air rata-rata harian normal. Warna merah muda pada ketinggian 80–107 sentimeter menandakan air mulai pasang sehingga warga dan petani tambak harus mulai waspada. Sementara itu, warna merah pada ketinggian 107–180 sentimeter menunjukkan bahwa banjir rob telah terjadi.

Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa KKNT-I IPB juga memberikan pengarahan secara langsung mengenai cara membaca peilschaal serta membagikan panduan langkah-langkah mitigasi bencana kepada warga Dusun Sarakan pada Rabu, (5/8).

Kegiatan sosialisasi peilschaal (Sumber: Dokumentasi pribadi)

"Harapan kami, ketika debit air sudah melewati batas hijau, warga Dusun Sarakan dapat bersiaga untuk memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Selain itu, para petani tambak juga dapat menyelamatkan ikannya lebih awal dengan menebar jaring di lahan tambak," ungkap Penanggung Jawab Program Peilschaal.

Melalui pelaksanaan program mitigasi ini, mahasiswa berharap potensi kerugian akibat bencana banjir rob yang sering melanda Desa Tambaksari dapat ditekan. Selain itu, warga Dusun Sarakan diharapkan semakin mandiri dan memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik dalam menghadapi ancaman bencana di wilayah pesisir.

Kegiatan pemasangan peilschaal (Sumber: Dokumentasi pribadi)