Konten dari Pengguna

Definisi Fotografi: Lebih dari Hanya Menekan Tombol Kamera

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shaun Fawwaz Hilmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba deh perhatiin, kehidupan kita saat ini tidak lepas dari hal hal yang berbau fotografi, mulai dari seberapa seringnya kamu memotret dalam sehari? Seperti makanan sebelum disantap, OOTD sebelum berangkat kuliah, story Instagram pas nongkrong, atau mungkin hanya iseng motret langit sore karena warnanya sedang bagus. Aku sendiri juga seperti itu, sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, hampir tiap hari motret tanpa banyak berpikir. Tapi begitu ada tugas menulis soal "definisi fotografi", aku baru sadar, selama ini aku cuma bisa motret, tampa belum benar benar paham apa itu fotografi. Nah, makanya di tulisan ini aku mau coba bongkar pelan pelan, mulai dari arti katanya, sejarahnya, sampai kenapa fotografi itu ternyata punya banyak "wajah" yang tentunya memiliki keunikan masing masing.

Photo by [Dariusz Sankowski] on [Unsplash]
zoom-in-whitePerbesar
Photo by [Dariusz Sankowski] on [Unsplash]

Mulai dari, apa itu Fotografi?

Kalau kita telusuri asal katanya, "fotografi" sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu phos atau photos yang berarti cahaya, digabung dengan graphe atau graphein yang berarti melukis atau menulis. Jadi kalau diartikan secara harfiah, fotografi itu semacam "melukis dengan cahaya". Menurutku definisi ini cocok banget, karena sebenarnya memang seperti itulah cara kerja kamera, ia merekam cahaya yang dipantulkan sebuah objek, lalu mengubahnya jadi memori yang bisa kita genggam dan lihat lagi kapan saja.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri mendefinisikan fotografi sebagai sebuah seni atau proses menghasilkan gambar dengan memanfaatkan cahaya pada media tertentu. Jadi di fotografi sendiri terdapat dua sisi yang menyatu di sini nih, ada sisi seni (rasa, komposisi, estetika) dan juga sisi sains (optik, cahaya, teknologi sensor).

Tentunya beberapa fotografer besar juga memiliki pandangan unik meraka tersendiri. Ansel Adams, misalnya, melihat fotografi bukan sekadar alat menyampaikan fakta apa adanya, tapi sebuah medium ekspresi yang kuat, ia memiliki pandangan bahwa setiap orang bisa memaknai satu foto dengan cara yang berbeda beda. Sementara itu, ada juga pandangan bahwa fotografi adalah seni observasi, yaitu kemampuan menemukan sisi indah dari hal hal yang sebenarnya sudah menjadi suatu hal yang biasa saja di sekitar kita. Melihat dari ini, menurut ku pribadi, fotografi itu bukan hanya soal "menekan tombol", tapi soal bagaimana seseorang memilih sebuah memori yang ingin dia abadikan, dari angle mana, dan juga pesan apa yang dia ingin sampaikan melalui memori yang telah terabadikan itu.

Photo by [Joey Huang] on [Unsplash]

Kisah Fotografi Sebelum Adanya Kamera di Ponsel

Yang bikin aku kaget waktu riset buat tulisan ini, ternyata konsep dasar fotografi itu sudah ada ribuan tahun lalu bahkan di zaman filsuf seperti Mo Ti dan Aristoteles sebelum kamera pertama diciptakan. Fenomena ini yang disebut fenomena kamera obscura, yaitu saat cahaya masuk lewat lubang kecil di ruangan gelap dan membentuk gambar terbalik di dinding, hal ini sudah diamati sejak sekitar abad ke-5 sebelum Masehi. Prinsip ini terus dikaji oleh banyak ilmuwan dari berbagai zaman, sampai akhirnya dijelaskan lebih ilmiah sekitar abad ke-10 hingga ke-11 Masehi oleh Ibnu Al-Haitsam yang dikenal juga sebagai Alhazen.

Tapi kamera obscura itu hanya bisa memproyeksikan gambar, belum bisa menyimpannya. Titik baliknya baru terjadi pada tahun 1826, ketika seorang penemu bernama Joseph Nicéphore Niépce asal Prancis berhasil membuat foto permanen pertama di dunia lewat proses yang disebut heliografi, meski butuh waktu berjam-jam hanya untuk satu foto. Belasan tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1839, muncul teknik daguerreotype oleh Louis Daguerre yang jauh lebih praktis, dan tahun ini sering juga dianggap sebagai awal lahirnya fotografi modern.

Dari sana, fotografi pun terus berkembang, seperti roll film dan kamera boks membuatnya bisa dinikmati bahkan oleh kalangan orang biasa, bukan hanya kalangan tertentu. Lalu di tahun 1975, kamera digital pertama diciptakan oleh Steven Sasson, dan sejak 2000-an kamera makin menyatu dengan ponsel. Sekarang, tinggal buka aplikasi kamera di HP, jepret, langsung jadi, sesuatu yang dulu butuh proses hingga berjam jam.

Fotografi Bukan Hanya Estetika, Tetapi Juga Komunikasi

Sebagai anak komunikasi, bagian ini yang paling relate. Fotografi itu ternyata bukan hanya soal indah atau tidak indah saja, tapi juga merupakan alat komunikasi visual yang sangat kuat. Dengan satu foto seseorang bisa menyampaikan suasana, emosi, bahkan cerita sebuah peristiwa, jauh lebih cepat daripada membaca beberapa paragraf tulisan. Makanya fotografi sering kali dipakai di berbagai bidang, seperti saat membuat berita dan kampanye publik, buat dokumentasi kegiatan organisasi, buat promosi produk, buat membangun citra tokoh publik, sampai buat hal personal seperti swafoto dan berbagi momen di media sosial.

Di dunia jurnalistik, fotografi bahkan punya tanggung jawab lebih besar lagi. Foto berita harus menggabungkan fakta yang jujur dengan kepekaan menangkap momen, karena satu foto yang tepat bisa membentuk opini publik secara positif maupun negatif atau menggugah empati banyak orang, tanpa memerlukan banyak kata.

Photo by [Andrew Seaman] on [Unsplash]

Fotografi Dengan "Wajahnya"

Ini bagian favoritku, karena saat aku riset untuk tulisan ini, wawasan mengenai fotografi itu meluas, aku jadi tahu kalau fotografi itu seperti payung besar terapat banyak gaya yang masing masing darinya memiliki tantangan dan keunikannya tersendiri.

Photo by [Jyotirmoy Gupta] on [Unsplash]

Fotografi Potret. Fokus utamanya adalah manusia, terutama ekspresi wajah. Keunikannya ada di kedekatan emosional antara fotografer dan subjeknya, foto potret yang bagus itu bukan hanya tajam secara teknis, tapi berhasil "menangkap" kepribadian orang itu di dalamnya.

Photo by [John Fowler] on [Unsplash]

Fotografi Lanskap. Fotografi ini yang biasa sering kita lihat di feed Instagram para traveler, seperti gunung, pantai, sawah, siluet kota. Keunikannya ada di kesabaran menunggu momen cahaya natural terbaik, misalnya golden hour, dan kejelian mengatur komposisi supaya foto terasa "luas" dan megah.

Photo by [Jp Valery] on [Unsplash]

Fotografi Jalanan (Street Photography). Genre ini yang menangkap momen spontan di ruang publik, apa adanya, tanpa direkayasa. Keunikannya justru di keasliannya itu, fotografer harus punya kepekaan observasi tinggi dan sedikit keberanian untuk memotret orang asing di tengahnya keramaian.

Photo by [Wolfgang Hasselmann] on [Unsplash]

Fotografi Makro. Ini gaya buat yang suka detail kecil, seperti serangga, embun, tekstur bunga. Keunikannya, genre ini "membuka" dunia yang biasanya tidak kita sadari ada, karena terlalu kecil buat mata telanjang.

Photo by [mojtaba mosayebzadeh] on [Unsplash]

Fotografi Fashion dan Komersial. Fokusnya pada busana, aksesoris, atau produk, dengan tujuan menarik minat pasar. Keunikannya ada di perpaduan estetika dan strategi branding, mulai dari pose, pencahayaan, dan konsep dirancang matang demi membangun citra sebuah merek.

Photo by [Michael Myers] on [Unsplash]

Fotografi Udara (Aerial). Berkat drone, genre ini makin terjangkau sekarang. Keunikannya jelas, sudut pandang dari atas yang mustahil didapat kalau kita hanya berdiri di atas tanah.

Photo by [Verne Ho] on [Unsplash]

Fotografi Arsitektur. Fokus pada bangunan, garis, dan detail struktur. Keunikannya ada di tuntutan memahami perspektif — sedikit saja distorsi garis bangunan bisa mengubah kesan visual secara keseluruhan.

Photo by [The New York Public Library] on [Unsplash]

Fotografi Jurnalistik. Fokusnya mendokumentasikan peristiwa nyata yang punya nilai sebagai berita. Bedanya dengan genre lain, di sini kejujuran menjadi harga mati, di genre ini memanipulasi gambar demi memperindah tampilan justru dianggap pelanggaran, karena bisa mengubah makna sebuah fakta, yang dapat memberikan efek fatal.

Dan itu baru delapan dari banyaknya hingga puluhan genre yang ada. Masih ada berbagai fotografi seperti satwa liar, fotografi bawah air, astrofotografi malam hari, dan genre fotografi lainnya yang masing masing pasti memiliki daya tariknya sendiri.

Di Era Sekarang, Semua Orang Bisa Jadi "Fotografer"

Kehadiran media sosial seperti Instagram, TikTok, dan berbagai platform sejenis dapat membuat siapa saja menjadi fotografer dadakan dan juga penyebar konten visual, hanya dengan modal ponsel di tangan. Konten visual memang telah terbukti lebih menarik perhatian dibanding teks yang panjang, makanya fotografi menjadi salah satu alat komunikasi yang paling dominan sekarang. Tapi di sisi lain, ini juga jadi tanggung jawab, karena bagusnya sebuah foto sebenarnya bukan ditentukan dengan mahalnya kamera, melainkan kepekaan orang yang memotret dalam melihat objek dan menentukan pesan yang ingin ia disampaikan.

Penutup

Nah itu adalah "definisi fotografi" secara singkat, jika ku harus menjelaskan ulang, fotografi itu pada intinya, adalah seni melukis dengan cahaya, dengan runtutan proses teknis yang terlahir dari optik, hingga berkembang menjadi bahasa komunikasi yang memiliki berbagai makna. Dari kamera obscura di ruangan gelap zaman dulu, sampai kamera AI yang ada di genggaman kita sekarang, seiring berjalannya waktu berubahnya zaman, fotografi terus berubah bentuk, tetapi intinya tetap sama, yaitu merekam cahaya untuk bercerita, menangkap memori untuk dikenang. Buat aku sebagai mahasiswa komunikasi, memahami ragam jenis fotografi itu penting, karena pada akhirnya fotografi adalah salah satu alat komunikasi visual yang paling berpengaruh di zaman serba gambar seperti sekarang ini.