Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Seijin no Hi, Hari Kedewasaan Jepang dan Hubungannya dengan Penurunan Populasi
29 Maret 2023 6:36 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Shecilia Kriestyaning tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Jepang hingga saat ini masih memiliki masalah yang menjadi PR panjang dalam dekade ke depan. Penurunan populasi atau shoushika mondai adalah masalah jangka panjang untuk mempertahankan jumlah usia produktif agar perekomonian negara tetap berjalan sebagaimana mestinya.
ADVERTISEMENT
Dalam bahasa Jepang disebut Seijin no Hi/成人の日 yang artinya hari kedewasaan bagi anak muda yang telah menginjak usia 20 tahun di Jepang. Acara ini diselenggarakan secara meriah yang biasanya diadakan setiap tanggal 11 Januari. Pada hari itu, semua anak muda memakai busana khusus seperti furisode. Apa itu furisode? Yuk simak!
Konsep Seijin ni Hi, Hari Kedewasaan Jepang
Sekilas tentang Seijin no Hi ini, usia 20 tahun merupakan usia yang spesial bagi masyarakat Jepang. Karena mulai usia tersebut, sudah diperbolehkan untuk minum alkohol dan merokok yang artinya mereka dianggap mampu dan mandiri untuk bergabung menjadi bagian dari masyarakat dewasa.
Umumnya, upacara ini diadakan pada semua daerah yang terletak di aula umum kota masing-masing. Wali kota dan beberapa perwakilan orang dewasa memberikan sambutan dan menampilkan hiburan seperti tari dan musik.
ADVERTISEMENT
Sejak tahun 2015, pemerintah Jepang sepakat untuk menurunkan standar usia dewasa yang awalnya 20 tahun menjadi 18 tahun (Snoddy, 2013). Mereka yang telah mengikuti perayaan hari kedewasaan ini boleh untuk menikah, menandatangani kontrak bahkan mengambil pinjaman tanpa izin orang tua.
Namun, untuk konteks minum alkohol, judi dan merokok tetap dilarang hingga mereka berusia 20 tahun. Lalu, bagaimana dengan busana khusus yang digunakan pada Seijin no Hi?
Pakaian Khusus Seijin no Hi
Pada hari istimewa ini, perempuan menggunakan furisode! Furisode merupakan gaun khusus yang sangat istimewa dan bergengsi untuk wanita muda yang belum menikah dengan hiasan lengan panjang menjuntai dan memberikan kesan spektakuler.
Kimono khusus itu bisa didapatkan melalui penyewaan baju yang harganya mulai 100.000-150.000 yen. Furisode yang memiliki desain elegan bisa lebih mahal. Ada juga yang memakai furisode milik nenek atau ibunya terdahulu.
ADVERTISEMENT
Selain itu, perayaan ini menjadi rutinitas wanita dewasa baru untuk mengunjungi salon kecantikan dalam hal merias wajah serta hairdo. Untuk pihak laki-laki biasanya hanya memakai jas atau hakama, yakni kimono pria. Gimana? tertarik untuk mencoba furisode? Bukankah pakaian ini cukup menarik?
Rangkaian Acara
Pada hari kedewasaan Jepang, biasanya memiliki rangkaian acara yang standar. Adapun rangkaian tersebut terdiri dari penyebaran undangan untuk anak muda baik perempuan maupun laki-laki ke balai kota setempat (Riyanda, 2016).
Lalu pembacaan pidato oleh beberapa pihak anggota komite eksekutif, kepala daerah, majelis prefektur dan lain-lain untuk memberikan semangat kehidupan lebih baik. Kemudian ada beberapa di antaranya makan bersama dan penyerahan hadiah kecil sebagai kenang-kenangan yang bersamaan dengan kunjungan menuju kuil atau tempat populer di wilayah masing-masing.
ADVERTISEMENT
Bahkan, ada juga yang mengadakan pertunjukan hiburan setelah acara formalitas usai. Setelah itu, ditutup dengan sesi berdoa bersama dan berfoto di luar gedung bersama rekan-rekan yang lain.
Peserta Menurun Tiap Tahun
Berdasarkan informasi dari kantor daerah Shibuya, yakni tempat terpopuler di Tokyo. Jumlah peserta untuk anak muda turun drastis. Hal itu disebabkan karena menurunnya angka kelahiran di Jepang dalam beberapa kurun waktu terakhir.
Sekitar 15 tahun yang lalu, jumlah peserta bisa lebih dari 4300-an orang dibanding tahun 2020 yang hanya 1.604 orang yang baru berusia 20 tahun. Permasalahan ini selalu menjadi prioritas utama Jepang untuk mempertahankan populasi masyarakat Jepang.
Saat ini, mereka yang masih menjadi bagian dari usia produktif kebanyakan memilih untuk tidak menikah karena fokus karir atau merasa cukup untuk tinggal sendiri tanpa harus ribet memiliki keturunan (Unsriana, 2014).
ADVERTISEMENT
Untuk itu, sementara pemerintah Jepang memberikan kesempatan untuk tenaga kerja asing menjadi bagian dari jalannya roda perekonomian negara. Baik dimulai pekerjaan pertanian, peternakan, perawatan lansia maupun pekerjaan lainnya yang enggan diminati oleh anak muda Jepang.
Tak lupa juga, pemerintah Jepang memberikan subsidi besar-besaran terhadap cuti kerja, pemberian upah tunjangan serta bantuan biaya akses kesehatan seperti melahirkan dan sebagainya. Namun, apakah cara ini benar-benar berhasil bila diterapkan dalam jangka panjang ke depannya?
Demi kelangsungan jumlah penduduk yang tinggal di Jepang, bisa saja sewaktu-waktu negara tersebut disebut negara mati atau dikuasai oleh orang asing. Jadi, saat ini Jepang sedang membuka besar-besaran tenaga kerja asing. Berminat untuk menjadi bagian dari tenaga kerja serta mencoba tradisi kedewasaan di Jepang?
ADVERTISEMENT