Konten dari Pengguna

Sebakul Jamu yang Ditunggu

Sheila Nur Maurisa

Sheila Nur Maurisa

Mahasiswi Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sheila Nur Maurisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mbak Ayu sedang menggendong bakul berisi jamu dari rumah ke rumah | Foto: Sheila Nur Maurisa
zoom-in-whitePerbesar
Mbak Ayu sedang menggendong bakul berisi jamu dari rumah ke rumah | Foto: Sheila Nur Maurisa

“Jamu…. Jamu…..,” terdengar lengkingan nyaring beraksen Jawa kental menggema dari halaman depan rumah. Bukannya kompleks perumahan sedang digadang-gadang untuk lockdown? Lalu kenapa masih ada penjual yang masuk?

Ah sudahlah, besitku dalam hati. Kemudian mataku kembali terfokus pada layar laptop, sembari mencorat-coret di kertas putih, mengerjakan tugas yang sudah berdebu tertinggal di website kampus. Sudah malas rupanya satu mahasiswi ini.

Disela-sela lagu yang terdengar dari earphone putih yang disematkan di telinga, dan gumaman-gumaman tidak jelas yang keluar dari mulut, aku mendengar Ibuku memanggil.

“Kak… kak…”, tidak aku gubris. Aku sedang fokus, ucapku dalam hati.

“Kak! Sini sebentar!” Panggilan ibu mulai mengeras, rasanya lagu ini seakan-akan tidak terdengar lagi. Dengan berat hati, aku bangkit, dan menuju ke sumber suara.

Dan di sanalah aku melihat ibuku, nenekku, dan juga orang asing yang sebenarnya tidak terlalu asing membawa gendongan berisi jamu. Ah, benar, aku lupa kalau aku sedang tinggal dirumah nenek.

Ibuku mulai memarahiku tatkala kakiku menyentuh halaman depan. Ia mulai menceritakan ini itu tentang diriku yang kerjaannya duduk aja, bahkan sampai penyakit-penyakit yang selalu aku keluhkan, seperti sakit punggung. Aku hanya bisa terdiam dan tertawa sesekali sambil duduk rebahan di salah satu bangku.

Niatan duduk sebentar di halaman depan, berubah menjadi 20 menit mendengarkan pembicaraan antara ibu, nenek, dan mba jamu.

“Semenjak pandemi, ibu-ibu bahkan bapak-bapak di sini jadi banyak minum jamu,” awal pembicaraan Mbak Ayu, tukang jamu gendong membuka pembicaraan sambil lesehan di halaman depan.

Mbak Ayu yang memiliki nama asli Bude Karni, telah menjadi tukang jamu langganan nenekku dan juga ibuku sejak muda, bahkan sebelum aku lahir. Mbak-mbak yang selalu menggendong jamu dan memiliki wajah yang sangat muda ternyata sudah berumur 68 tahun. “Lho, iya, anak saya yang paling kecil aja sudah 30 tahun,” ucapnya ketika saya menunjukkan wajah kaget mendengar umur aslinya.

30 tahun berusaha jamu

“Berarti sudah 30 tahun saya kaya gini,” lanjunya sembari menuangkan kunyit ke gelas kecil untuk ibu. Rumah nenekku bukanlah di pedesaan, melainkan di kota yang terkenal dengan macetnya Pasar Ciputat. Mungkin dulu sebelum adanya laju ekonomi yang pesat, lingkungan rumah nenekku tidak sekeren atau seberkembang itu. Sangat wajar jika Mbak Ayu memulai jualannya dengan menggendong jamu, tetapi berbagai kepesatan yang dirasa, Mbak Ayu tetap mempertahankan ciri khasnya untuk menggendong jamu. “Biar sekalian olahraga,” ucapnya ketika ditanya.

Bukan hanya nenekku saja, tetapi hampir sebagian warga yang tinggal di kompleks ini selalu beli jamu di Mbak Ayu. Mungkin karena usahanya sudah lama berjalan-jalan di kompleks ini, tetapi alasan yang paling pasti dia masih bertahan adalah jamunya yang sangat enak.

Di gendongannya selalu terisi jamu beras kencur, kunyit asam, jahe, pahitan, air sirih, temulawak, serta air jeruk nipis. Jamu yang ia masukkan ke dalam botol dikerjakan menggunakan tangan dengan diulek dan diparut. Selain jamu racikan, ia juga menjual jamu-jamu sachet buatan pabrik seperti Sido Muncul dan Air Mancur.

Jamunya yang masih menggunakan metode tradisional ini sangat digemari oleh warga sini, bahkan mungkin sampai ke perumahan-perumahan lain. Disaat-saat genting seperti adanya pandemi ini, justru jamu Mbak Ayu lah yang menjadi favorit warga.

“Banyak yang pesen soalnya bisa meningkatkan daya tahan tubuh,” ucapnya. “Bahkan tadi ada yang pesen satu botol ini,” tambahnya seraya mengangkat satu botol kosong dari dalam gendongannya.

Pandemi ini seperti membawa berkah buatnya.

Dengan berbagai macam pemberitaan negatif tentang pandemi, di sisi lain ternyata ada orang-orang yang merasa terbantu salah satunya Mbak Ayu ini. Mbak Ayu menganggap dengan adanya pandemi ini, pesanan jamu selalu berdatangan mulai dari yang sekadar satu atau dua gelas, sampai satu botol besar setiap harinya.

Walaupun sangat berisiko baginya terkena virus karena keluar rumah dan berjualan, tetapi justru saat inilah banyak yang orang yang membutuhkan jamunya, dan kemudian menambah penghasilan hariannya menjadi lebih besar.

Satu hal lain, Mbak Ayu tidak pernah terlihat letih walaupun umur yang sudah memasuki kepala tujuh. Tetapi, pastinya di umur yang sudah tua ia sangat ingin melepaskan usahanya, dan meneruskannya ke anak-anaknya. “Ya semoga saja anak saya yang perempuan jadi datang kesini gantikan saya.” Ucapnya sambil menggendong jamu dan mengangkat ember kecil berisi gelas-gelas kecil.

Seraya membereskan botol-botol yang berisi jamu, dan mengaitkan kain pada bakul anyaman yang ia bawa, masih terdengar tawa tiwi menanggapi ucapan nenek dan ibu. Lalu ia pun pamit untuk melanjutkan rutinitasnya untuk berkunjung ke rumah-rumah, seraya mengucapkan “Jamu…. Jamu…”.