Pola Asuh Hari Ini, Karakter Anak di Masa Depan: Pentingnya Peran Orang Tua
Tulisan dari Sella Saraswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Anak zaman sekarang kok susah sekali diatur?” Kalimat seperti ini mungkin sering kita dengar dari orang tua maupun orang-orang di sekitar kita. Ketika anak sulit mengikuti aturan, mudah menyerah, kurang bertanggung jawab, atau berbicara kurang sopan, tidak jarang kesalahan langsung diarahkan kepada anak. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: "dari mana sebenarnya anak belajar tentang perilaku dan kebiasaan tersebut?"
Anak tidak lahir dengan pemahaman tentang bagaimana harus bersikap. Mereka belajar dari lingkungan terdekat, terutama keluarga. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan setiap hari dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter. UNICEF menjelaskan bahwa anak banyak belajar melalui apa yang mereka lihat dari orang tua, sehingga perilaku orang tua dapat menjadi contoh bagi perkembangan perilaku anak (UNICEF, 2026).
Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain. Namun, karakter tersebut tidak terbentuk secara tiba-tiba ketika anak sudah dewasa. Karakter mulai dibangun sejak anak berada di lingkungan keluarga melalui kebiasaan, contoh, aturan, serta cara orang tua memperlakukan mereka setiap hari.
Dalam proses perkembangan peserta didik, keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengalaman kepada anak. Sebelum mengenal guru dan teman di sekolah, anak lebih dahulu belajar dari orang tua.
Cara berbicara, cara menyelesaikan masalah, cara meminta maaf, hingga cara menghargai orang lain dapat menjadi contoh yang ditiru oleh anak. Karena itu, pola asuh bukan hanya tentang memberikan nasihat, tetapi juga tentang memberikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal penting dalam pola asuh adalah "konsistensi". Konsistensi bukan berarti orang tua harus selalu keras atau memberikan aturan yang sama dalam setiap keadaan. Konsistensi berarti adanya kesesuaian antara aturan, tindakan, dan contoh yang diberikan kepada anak.
UNICEF juga menekankan pentingnya aturan yang jelas, batasan yang sesuai, komunikasi yang baik, serta penerapan konsekuensi secara tenang dan konsisten dalam pengasuhan positif (UNICEF, 2026).
Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari orang tua terkadang menerapkan aturan yang berubah-ubah. Hari ini anak dilarang menggunakan gawai terlalu lama, tetapi keesokan harinya aturan tersebut dibiarkan karena orang tua sedang sibuk. Hal yang sama dapat terjadi pada aturan mengenai belajar, merapikan barang, atau menyelesaikan tanggung jawab. Jika hal tersebut berlangsung terus-menerus, anak dapat mengalami kesulitan memahami batasan dan tanggung jawab.
Konsistensi dalam pengasuhan juga memiliki dukungan dari penelitian. Penelitian Van den Akker, Leijten, Hoffenaar, dan Gardner menunjukkan bahwa konsistensi respons orang tua terhadap perilaku anak berkaitan dengan tingkat perilaku mengganggu anak dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa konsistensi umum orang tua berkaitan secara longitudinal dengan lebih sedikit masalah perilaku eksternalisasi, meskipun peneliti menekankan bahwa bentuk konsistensi yang berbeda dapat memiliki pengaruh yang berbeda pula (Van den Akker et al., 2024).
Namun, konsistensi bukan berarti semua kesalahan anak harus langsung diberikan hukuman. Anak masih berada dalam proses belajar dan berkembang. Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat menjelaskan alasan suatu aturan dibuat dan membantu anak memahami akibat dari tindakannya.
Dengan demikian, anak tidak hanya belajar menaati aturan karena takut, tetapi juga memahami nilai di balik aturan tersebut. Pendekatan pengasuhan positif menekankan bahwa anak perlu dibimbing dengan kasih sayang, aturan yang jelas, dan komunikasi, bukan sekadar dikendalikan melalui rasa takut (UNICEF, 2026).
Selain memberikan aturan, orang tua perlu memberikan contoh nyata. Anak lebih mudah belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan hanya dari nasihat yang mereka dengar. Jika orang tua ingin anak bertanggung jawab, maka orang tua juga perlu menunjukkan sikap bertanggung jawab. Jika ingin anak menghargai orang lain, orang tua perlu memperlihatkan bagaimana cara menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari. UNICEF juga menekankan pentingnya orang tua menjadi model perilaku positif karena anak belajar dengan mengamati tindakan orang dewasa di sekitarnya (UNICEF, 2026).
Konsistensi dalam pola asuh juga perlu disertai komunikasi antara orang tua dan sekolah. Anak menghabiskan sebagian waktunya di sekolah sehingga perkembangan mereka tidak hanya menjadi tanggung jawab guru. Ketika nilai-nilai yang diajarkan di rumah dapat diperkuat di sekolah, dan sebaliknya, anak akan mendapatkan lingkungan yang lebih mendukung proses perkembangannya.
Pada akhirnya, membentuk karakter anak bukan pekerjaan yang dapat dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan keteladanan, kesabaran, komunikasi, dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus. Apa yang dilakukan orang tua hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter anak di kemudian hari.
Karena itu, pola asuh bukan hanya tentang bagaimana orang tua mendidik anak ketika melakukan kesalahan, tetapi juga tentang bagaimana orang tua memberikan contoh setiap hari. Anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami. Konsistensi orang tua hari ini menjadi salah satu fondasi bagi karakter anak di masa depan.

