Konten dari Pengguna

Dari Dompet ke Digital : Perubahan Gaya Transaksi Generasi Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari shelly nagita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Mahasiswa Sedang Bertransaksi Digital (Sumber : AI Generated dari Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Mahasiswa Sedang Bertransaksi Digital (Sumber : AI Generated dari Dokumentasi Pribadi)

Metode pembayaran digital semakin digemari oleh publik diiringi dengan perkembangan pesat penggunaan teknologi dalam transaksi sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda atau Generasi Z. Dengan perkembangan ini, dompet digital menjadi “teman setia” untuk melakukan berbagai transaksi, dari belanja online, jajan kopi, hingga membayar transportasi.

Dompet digital terus menunjukkan pertumbuhan signifikan di kalangan pengguna muda, terutama Generasi Z. Layanan ini mempermudah transaksi sehari-hari sekaligus mendukung kebijakan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) dari Bank Indonesia. Generasi Z dikenal cepat beradaptasi terhadap teknologi dan sangat aktif menggunakan berbagai aplikasi digital.

Perubahan Budaya Transaksi Digital

Generasi Z telah membentuk kebiasaan baru dalam bertransaksi secara digital menggunakan dompet elektronik. Transaksi digital kini tidak hanya terjadi di pusat perbelanjaan, tetapi juga di warung, transportasi online, hingga kampus. E-wallet dianggap lebih praktis, aman, dan sesuai dengan pola hidup cepat dan instan di era teknologi. Kebiasaan ini menjadi bukti keberhasilan digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia.

GNNT sebagai program nasional mendapat dukungan nyata dari kebiasaan digital yang tumbuh di kalangan anak muda. Pemerintah terus mendorong adopsi sistem pembayaran non-tunai untuk meningkatkan efisiensi dan inklusi keuangan nasional. Layanan Dompet Digital menjadi ujung tombak dalam mendorong masyarakat menuju ekosistem keuangan yang lebih modern. Diperlukan kolaborasi antara pengembang teknologi, regulator, dan institusi pendidikan untuk memperkuat proses ini.

Fenomena ini memang menarik. Berdasarkan survei online Populix pada Februari 2025, mayoritas pengguna e-wallet di Indonesia berasal dari kalangan Gen Z dan milenial. Selain itu, e-wallet juga punya banyak manfaat. Sering menawarkan berbagai promo hingga potongan harga yang membuat transaksi semakin menarik. Pengguna juga bisa dengan mudah melacak riwayat transaksi, sesuatu yang jarang dilakukan ketika memakai uang tunai.

Tantangan Konsumtif di Era Cashless pada Gen Z

Salah satu tantangan utama yang bisa terjadi adalah perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif adalah perilaku mengkonsumsi barang yang sebenarnya kurang atau tidak diperlukan khususnya yang berkaitan dengan barang-barang sekunder atau barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan (Amalia, 2022). Hal ini dapat mempengaruhi kestabilan finansial individu, di mana pengeluaran lebih besar dibandingkan dengan pemasukan atau kemampuan keuangan yang dimiliki. Akibatnya, individu mungkin mengalami kesulitan dalam menabung atau merencanakan investasi untuk jangka panjang (Cahyani et al., 2024).

Kurangnya literasi keuangan dan lemahnya pengendalian diri menjadi faktor utama yang mendorong perilaku konsumtif di kalangan Gen Z. Menurut Kontan.id, kelompok usia 15–17 tahun memiliki tingkat literasi dan pemahaman keuangan yang paling rendah. Tak hanya itu, berdasarkan hasil riset Credit Karma, 2018 sebanyak 39% Gen Z dilaporkan memiliki utang demi mengikuti tren yang sedang populer. Oleh karena itu, menyeimbangkan pemahaman konsep keuangan dengan penerapan strategi pengelolaan yang tepat menjadi hal yang penting agar sistem cashless dapat dimanfaatkan secara bijak.

Gen Z tumbuh di era digitalisasi yang dipenuhi dengan tren FOMO. Rasa takut tertinggal dari tren yang sedang berkembang, didorong oleh strategi pemasaran digital, secara signifikan memengaruhi keputusan pembelian mereka (Pamungkas et al., 2025).

Generasi Z jadi Motor Adopsi terhadap E-Wallet

Peran Generasi Z penting dalam transformasi dompet digital dari alat pembayaran terintegrasi. Generasi Z seringkali memiliki ekspektasi untuk melakukan hal hal yang mudah, simpel, dan praktis untuk aktivitas sehari-hari.

Generasi Z menjadi salah satu kelompok yang mendorong adopsi pembayaran digital, sehingga ekosistem dompet digital berkembang dan menciptakan persaingan antar platform.

Penggunaan mereka terkonsentrasi pada belanja online, pembelian makanan dan minuman, kebutuhan gaming, serta layanan digital seperti pembelian pulsa dan pembayaran tagihan.