Diskon dan Gratis Ongkir: Menguntungkan Konsumen atau Mendorong Pemborosan?

Universitas K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Program Studi Perbankan Syariah
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari shelvia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kali membuka aplikasi belanja online, konsumen sering menemukan berbagai tawaran menarik, seperti diskon, cashback, dan gratis ongkos kirim. Banyak orang menunggu tanggal kembar untuk mendapatkan penawaran terbaik. Namun, apakah promosi tersebut benar-benar membantu konsumen berhemat atau justru mendorong pembelian barang yang tidak dibutuhkan?
Data We Are Social yang diberitakan Katadata pada Februari 2024 menunjukkan bahwa 52,3% pengguna internet Indonesia berusia 16–64 tahun berbelanja online karena kupon dan diskon, sedangkan 47,4% tertarik karena gratis ongkir. Data ini menunjukkan bahwa promosi menjadi salah satu pertimbangan dalam belanja online. Meski demikian, ketertarikan terhadap promosi tidak otomatis berarti pemborosan. Hal yang perlu dikritisi adalah apakah promosi digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau justru mendorong pengeluaran di luar rencana.
Diskon Tidak Selalu Berarti Hemat
Banyak konsumen merasa diuntungkan ketika melihat potongan harga besar. Misalnya, seseorang membeli pakaian yang sebenarnya tidak dibutuhkan karena harganya sedang turun. Ia merasa menghemat uang, padahal mengeluarkan uang untuk barang yang tidak direncanakan. Jika terus berulang, pengeluaran semacam ini dapat membebani keuangan.
Fenomena tersebut sejalan dengan penelitian Addiba dan rekan-rekannya (2026) terhadap 200 mahasiswa di Bandung. Penelitian pada konsumen Generasi Z pengguna Shopee menemukan bahwa flash sale, gratis ongkir, dan diskon berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembelian impulsif. Flash sale menjadi faktor paling kuat di antara ketiganya, salah satunya berkaitan dengan rasa takut kehilangan kesempatan atau fear of missing out (FOMO).
Temuan ini menunjukkan pentingnya sikap kritis terhadap promosi. Namun, hasil penelitian tersebut tidak berarti semua konsumen pasti berbelanja secara impulsif. Konsumen perlu membedakan harga murah dengan penghematan yang sesungguhnya.
Hal serupa terjadi pada gratis ongkir. Ketika konsumen menambahkan barang ke keranjang hanya untuk memenuhi batas minimum pembelian, manfaatnya perlu dipertanyakan. Jika harga barang tambahan lebih besar daripada ongkos kirim yang dihemat, konsumen justru mengeluarkan lebih banyak uang. Artinya, label gratis belum tentu membuat transaksi lebih murah.
Konsumsi dalam Perspektif Ekonomi Islam
Dalam ekonomi mikro Islam, konsumsi tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan, tetapi juga perlu memperhatikan nilai-nilai Islam. Konsumen dianjurkan memenuhi kebutuhan secara wajar, mengutamakan kemaslahatan, dan menghindari perilaku berlebihan.
Prinsip tersebut berkaitan dengan larangan israf, yaitu berlebih-lebihan. Dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat 31, manusia diperintahkan untuk makan dan minum, tetapi tidak berlebih-lebihan. Pesan ini mengingatkan bahwa memanfaatkan promosi bukanlah masalah selama dilakukan secara wajar dan tidak mendorong pemborosan.
Lalu, bagaimana menentukan bahwa konsumsi sudah berlebihan? Konsumen perlu mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan keuangan, dan manfaat barang yang dibeli. Barang diskon tetap dapat menjadi pemborosan apabila tidak diperlukan dan mengganggu pemenuhan kebutuhan yang lebih penting.
Karena itu, uang sebaiknya diprioritaskan untuk kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dan kewajiban lainnya. Konsumsi Islami bukan berarti melarang promosi, melainkan mengajarkan konsumen membedakan kebutuhan dan keinginan serta menggunakan harta secara bertanggung jawab.
Promosi Menguntungkan Penjual, tetapi Konsumen Harus Kritis
Bagi penjual, diskon dan gratis ongkir merupakan strategi untuk meningkatkan penjualan, menarik pelanggan, dan memperluas pasar. Promosi digital juga membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengenalkan produk kepada lebih banyak konsumen. Karena itu, promosi tidak selalu merugikan.
Namun, peningkatan penjualan bagi penjual tidak otomatis menjadi keuntungan bagi pembeli. Penjual memperoleh peluang transaksi, sedangkan konsumen bisa mengeluarkan uang untuk barang yang tidak dibutuhkan. Perbedaan kepentingan ini menunjukkan bahwa konsumen harus menilai penawaran secara menyeluruh, bukan hanya terpaku pada besarnya diskon.
Pertanyaan kritisnya adalah apakah konsumen membeli karena membutuhkan barang tersebut atau sekadar tergiur promosi. Keputusan belanja yang tidak direncanakan dapat mengurangi manfaat ekonomi dari penawaran tersebut.
Di sisi lain, pelaku usaha perlu menerapkan pemasaran yang jujur dan transparan. Informasi mengenai harga, syarat diskon, batas minimum pembelian, dan ketentuan gratis ongkir harus disampaikan dengan jelas. Dalam ekonomi Islam, perdagangan tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjunjung kejujuran dan keadilan.
Membangun Kebiasaan Belanja yang Lebih Bijak
Untuk menghindari pemborosan, konsumen dapat melakukan beberapa langkah. Pertama, membuat daftar kebutuhan sebelum membuka aplikasi belanja. Kedua, membandingkan total biaya, bukan hanya melihat diskon atau gratis ongkir. Ketiga, memeriksa kembali keranjang belanja sebelum membayar agar tidak membeli barang secara spontan.
Konsumen juga perlu menetapkan anggaran dan mendahulukan kebutuhan daripada keinginan. Diskon sebaiknya dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan yang sudah direncanakan. Jika promosi mengharuskan pembelian barang tambahan yang tidak diperlukan, konsumen perlu mempertimbangkan apakah penawaran tersebut benar-benar menguntungkan.
Pada akhirnya, diskon dan gratis ongkir bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Keduanya dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara tepat. Dalam perspektif ekonomi Islam, konsumen yang bijak bukanlah mereka yang selalu mendapatkan harga termurah, melainkan mereka yang mampu menggunakan hartanya sesuai kebutuhan dan menghindari perilaku berlebihan.
Oleh karena itu, jangan sampai keinginan untuk menghemat justru berakhir dengan pemborosan. Penghematan yang sesungguhnya bukan sekadar mendapatkan potongan harga, tetapi mampu membelanjakan uang secara rasional, bertanggung jawab, dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
