Konten dari Pengguna

Pantun Betawi di Panggung Politik: Bahasa dan Sastra sebagai Identitas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Shelvi Alkhoitami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap wilayah di Nusantara senantiasa menyimpan kekhasan, nilai, dan makna yang berbeda, seakan menjadi jejak identitas yang tak tergantikan. Dari jantung kota Jakarta, lahirlah suku Betawi sebuah komunitas yang dikenal dengan keramahan dan kepedulian yang tulus terhadap sesama. Meski tutur kata mereka sering terdengar lugas, bahkan frontal, di balik ketegasan itu bersemayam hati yang jernih, penuh kehangatan, dan kesungguhan dalam menjalin silaturahmi.

ondel ondel khas Betawi foto by pixels
zoom-in-whitePerbesar
ondel ondel khas Betawi foto by pixels

Dalam setiap perayaan pernikahan, khitanan, lebaran, hingga berbagai hajatan lainnya suku Betawi menampilkan corak budaya yang khas, berbeda dari suku manapun. Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah palang pintu, sebuah prosesi sakral dalam adat pernikahan Betawi. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan simbol penghormatan: mempelai pria tidak diperkenankan melangkah masuk ke kediaman mempelai wanita tanpa terlebih dahulu melewati ujian. Kedua belah pihak menghadirkan jawara masing-masing, bukan untuk sekadar beradu pukulan, melainkan untuk memperlihatkan kesiapan dan keberanian.

Secara filosofis, palang pintu tidak dimaknai sebagai pertarungan fisik semata. Ia adalah ikon, sebuah pernyataan bahwa sang calon suami mampu melindungi dan menjaga istrinya kelak dalam kehidupan rumah tangga. Prosesi ini semakin hidup dengan lantunan pantun yang jenaka, atraksi silat yang memukau, serta iringan sholawat yang menambah kesyahduan.

Pantun dalam palang pintu bukan hanya hiburan. Ia adalah penjaga tradisi, media yang memastikan nilai-nilai masyarakat tetap lestari dan dikenali lintas generasi (Setiawan, 2024). Pantun Betawi bertema main pukulan sering hadir dalam kesenian ini, dengan kata-kata yang lahir dari latar sosial, budaya, ekonomi, bahkan dari kampung asal penciptanya. Salah satu pantun yang paling masyhur, sekaligus menjadi stereotip orang Betawi, adalah ungkapan satu baris yang sederhana namun penuh daya: “Ente Jual Ane Beli.”