Konten dari Pengguna

The Football War 1969: Dari Pertandingan Bola menuju Peperangan Lapangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sheren Gracelya Putri Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi eskalasi konflik antara Honduras dan El Salvador dari sebuah pertandingan bola dunia ( Sumber foto : unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi eskalasi konflik antara Honduras dan El Salvador dari sebuah pertandingan bola dunia ( Sumber foto : unsplash.com

Ketika pertandingan olahraga biasanya dihiasi dengan sorak-sorai dan seruan jiwa kompetitif dari pihak lawan yang bersaing, tak disangka sebuah pertandingan kualifikasi sepak bola dapat menjadi katalisator konflik bersenjata antarnegara yang bersaing, yang kini dikenal sebagai The Football War. The Football War, atau yang dikenal dengan sebutan Soccer War, merupakan perang berdurasi 100 jam yang terjadi antara El Salvador dan Honduras. Konflik ini berlangsung setelah musim pertandingan kualifikasi sepak bola untuk FIFA World Cup yang mempertemukan El Salvador dan Honduras sebagai lawan. Kerusuhan setelah pertandingan yang terjadi pada konflik ini tidak hanya menyoroti kekalahan yang didapatkan oleh pihak Honduras, tetapi kerusuhan ini menjadi eskalasi dari ketegangan politik dan isu sengketa tanah yang terjadi antara kedua negara tersebut selama bertahun-tahun sebelumnya.

Latar Belakang Konflik : Ketegangan Perbatasan

Honduras dan El Salvador adalah dua negara yang saling berbatasan di kawasan Amerika Tengah dan sama-sama dilanda oleh persoalan sosial ekonomi yang cukup meresahkan masyarakatnya. El Salvador mengalami kelangkaan ketersediaan tanah untuk digunakan oleh penduduknya sendiri. Banyak sekali penduduk, terutama yang berprofesi sebagai petani, sangat susah untuk menemukan lahan akibat sistem pemerintahan El Salvador yang diikuti oleh unsur tradisi feudal di mana kebanyakan tanah dikuasai oleh segelintir orang kaya maupun keluarga yang memiliki pengaruh tertentu. Akibat kepadatan penduduk yang diikuti oleh ketidaksetaraan sosial, pada akhirnya sebagian besar masyarakat El Salvador berimigrasi ke negara Honduras untuk memulai kehidupan baru dan mencari pekerjaan. Pada tahun 1969, diperkirakan mencapai 300.000 imigran atau setara dengan 20 persen dari total populasi di negara tersebut.Sebaliknya, negara Honduras memiliki wilayah yang luas dan ketersediaan tanah yang lebih besar, namun kehidupan masyarakatnya masih diselimuti oleh kemiskinan akibat krisis ekonomi dan sistem politik yang tidak stabil. Seiring bertambahnya jumlah masyarakat El Salvador yang berimigrasi ke negara tersebut dan menambah populasi untuk ketenagakerjaan, perlahan-lahan kondisi makroekonomi negara Honduras mulai membaik serta masyarakat El Salvador perlahan juga berhasil memulihkan kondisi perekonomian mereka.

Namun, kondisi ini tidak berlangsung lama akibat kebijakan Reformasi Agraria yang diberlakukan di bawah pemerintahan Presiden Oswaldo López Arellano dan merugikan masyarakat El Salvador. Seiring berlakunya kebijakan ini, kondisi ekonomi Honduras semakin memburuk. Kebijakan ini mulai disalahgunakan untuk membangkitkan sentimen oleh kekuasaan rezim militer yang berkuasa pada saat itu. Akibat krisis ekonomi yang terjadi pada masa pemerintahannya, kebijakan ini memicu kemarahan publik dan seakan mengambinghitamkan warga imigran El Salvador agar menjadi umpan kemarahan publik . Untuk mendukung rencana penerapan kebijakan ini, pemerintah mulai menetapkan aturan untuk mengusir masyarakat yang memiliki properti seperti lahan tanpa diikuti oleh persyaratan hukum. Tanpa disadari, aturan ini dirujuk kepada masyarakat El Salvador yang sebagian besar tidak memiliki dokumen kepemilikan tanah yang resmi. Kebijakan ini mendukung adanya sentimen nasional yang anti-imigran. Meskipun masyarakat El Salvador telah berkontribusi dalam pemulihan ekonomi Honduras, masyarakat Honduras mulai memandang para imigran EL Salvador yang telah sukses sebagai pengambil alih lahan dan juga pesaing. Kebencian ini semakin mendalam hingga banyak warga El Salvador diusir secara paksa dan brutal, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mendapat perlakuan kekerasan. Demi memperoleh dukungan rakyat lebih banyak , sebuah kelompok yang bernama Federasi Nasional Petani dan Peternak Honduras (FENAGH) mulai melaksanakan kampanye dengan mengatasnamakan warga El Salvador sebagai penjajah ilegal yang melemahkan kedaulatan negara.

Peristiwa ini akhirnya memicu kemarahan warga El Salvador dan menciptakan situasi ketegangan politik di antara kedua negara tersebut. Di bawah pemerintahan El Salvador yang dipimpin oleh Presiden Fidel Sánchez Hernández, El Salvador masih menghadapi ketimpangan sosial ekonomi dalam urusan distribusi tanah. Situasi ini diperkeruh dengan kembalinya warga pengungsi El Salvador dalam kondisi yang parah akibat perlakuan kekerasan yang mereka dapatkan. Melihat pemerintahannya terjepit dalam dilema yang menuntut adanya aksi nyata dari publik maupun militer , pemerintah EL Salvador secara gencar akan mengalihkan permasalahan petani ini sebagai bumbu yang memperkuat konflik eksternal. Seiring berkuatnya sentimen anti-imigran yang semakin merujuk pada anti-Salvador di Honduras, pemerintah Honduras pun siap untuk mengambil sikap keras dalam menghadapi kemarahan El Salvador.

Eskalasi Konflik dari Pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 1969

Seiring berjalannya waktu , masih diselimuti oleh ketegangan politik yang memanas antara kedua negara,mereka dipertemukan pada musim pertandingan kualifikasi untuk FIFA World Cup pada tahun 1960. Pertandingan pertama digelar di ibu kota Honduras, Tegucigalpa, pada tanggal 8 Juni 1969. Kedatangan tim El Salvador dalam pertandingan ini disambut dengan tidak ramah oleh warga Honduras. Dilaporkan bahwa tim El Salvador diganggu oleh warga Honduras saat mereka beristirahat malam hari di hotel kediaman mereka. Pertandingan ini dimenangkan oleh Honduras dengan keberhasilannya mencetak gol dan memperoleh skor 1-0. Melihat kemenangan ini juga memicu kerusuhan yang dipenuhi dengan penghinaan terhadap pihak Honduras oleh pihak El Salvador. Pertandingan selanjutnya dilaksanakan pada 15 Juni, dengan El Salvador sebagai tuan rumah. Sebelum pertandingan dimulai, pihak Honduras dilaporkan telah mengalami terror sepanjang malam akibat kemarahan warga El Salvador. Melihat kesempatan ini, pihak El Salvador memanfaatkan momentum ini untuk memenangkan permainan dengan skor 3-0 dan menambah kebencian masyarakat Honduras. Selanjutnya, pertandingan penentuan diadakan di Mexico City pada 26 Juni 1969, dan pada tanggal ini juga, Pemerintah El Salvador resmi memutuskan hubungan diplomatik dengan Honduras. Pertandingan ini lagi-lagi dimenangkan oleh El Salvador dengan skor 3-2, yang menyulut amarah di lapangan sepak bola antara kedua pihak.

Kerusuhan ini menjadi bahan propaganda media massa untuk menumbuhkan kebencian antara dua bangsa, di mana media massa mulai mengganti konten siarannya menjadi sarana provokasi untuk menghasut opini publik agar semakin membenci satu sama lain antara kedua negara tersebut. Kampanye anti-Salvador di Honduras semakin gencar dengan menyebut imigran Salvador sebagai penjahat serta melayangkan tuduhan-tuduhan provokatif. Tidak hanya berdiam diri, El Salvador juga melakukan propaganda sengit terhadap Honduras, salah satunya adalah melayangkan tuduhan genosida yang menempatkan Honduras sebagai pelaku kejahatan yang melanggar hukum internasional. Ketika propaganda ini telah mencapai puncak ketegangan, kedua negara tersebut telah membuka akses untuk melanjutkan permasalahan ini di medan perang.

Pertempuran Sengit 100 Jam : Eskalasi Serangan Darat dan Udara

Perang ini dimulai pada 14 Juli 1969 saat Angkatan Udara El Salvador melancarkan serangan pada beberapa lapangan terbang di Honduras. Kemudian, serangan ini dilanjutkan oleh Angkatan Darat El Salvador yang berjumlah sekitar 8.000 prajurit dengan melakukan invasi dua arah. Pada 16 Juli mereka berhasil merebut kota perbatasan, Nueva Ocotepeque. Meskipun keberhasilan serangan darat El Salvador menempatkan El Salvador dalam posisi unggul, Angkatan Udara Honduras terhitung lebih unggul daripada El Salvador dengan jumlah pesawat tempur yang lebih banyak, dan mereka berhasil menyerang tempat penyimpanan minyak EL Salvador di Pelabuhan Acajutla dan Cutuco. Penyerangan ini berhasil membuat EL Salvador kehabisan bahan bakar untuk perlengkapan mesin perang mereka. Puncak dari perang ini adalah pada tanggal 17 Juli melalui serangan udara oleh Honduras terhadap El Salvador. Posisi EL Salvador yang sedang dihadapkan pada krisis bahan bakar membuat pasukan darat EL Salvador juga berhenti total.

Menanggapi peperangan ini, Organization of American States, selaku komunitas internasional, turun tangan untuk melakukan upaya mediasi. Meskipun sempat dihiraukan oleh kedua negara tersebut, seiring melemahnya kekuatan El Salvador akibat kekurangan bahan bakar dan amunisi, gencatan senjata pada akhirnya berhasil dilakukan pada 18 Juli dan secara efektif mulai berlaku pada 20 Juli untuk mengakhiri pertempuran dengan total 100 jam. Meskipun El Salvador sempat bersikukuh agar tidak menarik kembali pasukannya yang sudah berada di wilayah Honduras yang berhasil diinvasinya, pada 29 Juli, menteri luar negeri El Salvador resmi mengumumkan bahwa mereka akan menarik kembali pasukannya.

Dampak Pertempuran Pada Kedua Negara dan Jalan Menuju Perdamaian

Setiap peristiwa perang tentunya membawa dampak yang sangat menghancurkan bagi siapa pun yang terlibat. Perang ini memakan ribuan korban jiwa warga sipil. Terputusnya hubungan diplomatik tentunya menghentikan perdagangan kedua negara tersebut. Hal ini berdampak pada kerugian ekonomi yang begitu signifikan, baik Honduras yang harus kehilangan tenaga kerja dari warga imigran El Salvador maupun El Salvador yang memikul beban dalam menampung puluhan ribu pengungsi yang kembali dengan kondisi ketimpangan sosial yang masih berlanjut. Meskipun sisa-sisa permusuhan terasa berat untuk dihilangkan, pada tanggal 30 Oktober 1980 kedua negara sepakat untuk menandatangani Perjanjian Damai Umum di Lima, Peru, yang meresmikan berakhirnya status perang mereka. Melalui bantuan OAS, upaya mediasi ini turut menciptakan penyelesaian sengketa tanah perbatasan yang berhasil diselesaikan pada 1992. Kisah ini menekankan bahwa kepentingan politik nasional yang begitu kompleks dapat memicu konflik dan berakar pada sektor lainnya, salah satunya adalah ajang olahraga.

Daftar Pustaka:

Katie, Angel (2026). Football War. Diakses pada 3 Maret 2026 dari https://www.britannica.com/event/Football-War

Luckhurst, Toby ( 2019). Honduras v El Salvador: The football match that kicked off a war. Diakses pada 4 Maret 2026 dari https://www.bbc.com/news/world-latin-america-48673853

Makayasa, Adhe (2025), Kisah Konflik 100 Jam El Salvador Vs Honduras Akibat Kualifikasi Piala Dunia 1970 Yang Berubah Menjadi Pertumpahan Darah. Diakses pada 5 Maret 2026 dari https://www.goal.com/id/daftar/fakta-bola-kisah-konflik-100-jam-el-salvador-vs-honduras-akibat-kualifikasi-piala-dunia-1970-yang-berubah-menjadi-pertumpahan-darah/blt56b05b34b196c923

Maurinho. (2024). Perang Sepak Bola: Pemicu dan Dampaknya. Diakses pada 3 Maret 2026 dari https://olahraganesia.id/perang-sepak-bola/